Aktual, Independen dan Terpercaya

Inilah Sosok Heroik Pahlawan Bom Natal 16 Tahun Lalu

Ilustrasi-Korban-Tewas.jpg
(TRIBUNNEWS/NET)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE - Pada 16 tahun lalu, seorang anggota GP Anshor tewas saat memindahkan bom di sebuah gereja setelah perayaan Natal. Kisah heroisme sang pemuda patut dikenang di tengah aksi teror yang hingga kini masih menjadi ancaman di Indonesia.

 

Natal tahun 2000 menjadi perayaan muram. Teror menggurita. Bom ditemukan di mana-mana dan keamanan menjadi barang langka. Jemaaat Gereja Eben Haezar di Mojokerto tenggelam dalam doa berharap datangnya damai di malam 24 Desember itu.

 

Usai serangkaian serangan bom di kedutaan asing, ledakan di gedung Bursa Efek Jakarta dan beberapa tempat lain membuat ancaman kematian tidak lagi berjarak. Terlebih bagi kaum minoritas.

 

Organisasi pemuda Nahdhatul Ulama menurunkan anggotanya menjaga perayaan Natal di gereja Eben Haezar. Keberadaan laskar Anshor, berjaga-jaga di luar gereja yang seadanya, setidaknya mampu mengusir keresahan.

Baca Juga: Ini Isi Surat Calon Pengantin Bom Bunuh Diri di Jatiluhur

 

Di antaranya adalah Riyanto, pemuda yang baru genap sebulan merayakan pertambahan usianya yang ke-25. Seharusnya hidup masih menyisakan hidup masa depan yang cerah. Tapi tidak untuk Riyanto.

 

Ketika itu, sebuah bingkisan hitam yang tergeletak di luar gereja membuat seorang jemaat curiga. Riyanto datang memeriksa. Sebuah bahan peledak. Aparat kepolisian yang ikut memeriksa memerintahkan semua orang untuk mundur dan tiarap.

 

Tapi, pemuda kelahiran Kediri itu tanpa berpikir panjang berlari membawa bom itu untuk dimasukkan ke dalam parit. Nahas, bom keburu meledak dalam dekapan Riyanto. Tubuhnya seketika hancur. Konon, serpihan tubuh Riyanto masih ditemukan dalam jarak 100 meter dari lokasi ledakan

Klik Juga: Lagi, Densus 88 Ringkus Terduga Teroris di Payakumbuh

 

"Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya,” tutur almarhum Gus Dur kala itu, dikutip dari DW.COM, Senin, 26 Desember 2016

 

Kini 16 tahun berselang, ancaman teror di hari Natal masih menghantui seisi negeri.

 

"Di sini kita berdoa, kita hanya bisa mendoakan saja, pasrah, bencana bisa terjadi di manapun," ujar Pendeta Rudi kepada Beritajatim. Ia adalah sosok yang dulu memimpin misa di Gereja Eben Haezer.

 

"Kami selalu mendoakan keluarga Riyanto," imbuhnya.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline