Aktual, Independen dan Terpercaya


Kratif, di Desa Rohil Ini Limbah Sawit Disulap Jadi Barang Bernilai Rupiah

Kerajinan-Limbah-sawit.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO)
ombudsman

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Selama ini tak banyak masyarakat perkebunan yang melakukan pemanfaatan limbah dahan pohon sawit untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi yang bisa menunjangperekonomian mereka sebagai petani kebun yang hanya mengandalkan panen buah sawit saja.

 

Namun di Desa Menggala Teladan yang terletak di Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, masyarakat desa tersebut memiliki kelompok pengerajin limbah sawit sehingga bisa dijadikan barang kerajinan yang bisa dijual untuk menambah penghasilan mereka.

 

Kelompok Tani ini memanfaatkan batang lidi pohon sawit untuk dianyam menjadi berbagai bentuk wadah layaknya karya anyaman rotan dan bambu. Anyaman kelompok ini menyulap batang lidi yang sebelumnya tak berharga menjadi barang yang memiliki nilai jual di pasaran.

Baca Juga: Unik, Ibu Ini Sulap Batang Pisang Jadi Kotak Tisu Cantik

 

"Kami membuat tempat pensil, piring, vas bunga dan lainnya," kata seorang anggota kelompok pengerajin, Zainab. Kamis, 8 Desember 2016.

 

Ditemui ketika sedang menganyam sebuah piring, Zainab mengatakan bahwa hasil pekerjaan yang ia lakukan ini cukup menguntungkan dan membantu penghasilan yang didapatkan oleh suaminya dari berkebun sawit. Dalam sebulan penghasilan yang ia dapatkan bisa mencapai Rp500 ribu dari hasil penjualan kerajinan karyanya.

 

kerajinan3RIAU ONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO

 

Namun Zainab sendiri. Dalam kelompok kerajinan yang diberjumlah lebih dari 20 orang ini, semua anggotanya adalah perempuan, baik yang masih gadis maupun yang sudah berkeluarga. Mereka semua mengaku terbantu ekonominya dengan keterampilan yang baru mereka dapatkan beberapa bulan ini dari bantuan PT Tunggal Mitra Plantation, anak usaha PT Minamas Plantation.

 

Kerajinan1RIAU ONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO

 

Perusahaan ini memberikan bantuan tenaga pengajar yang membimbing kelompok kerajinan ibu-ibu tersebut berkarya dengan menghasilkan uang. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak beberapa bulan silam, hampir bersamaan dengan pendampingan yang dilakukan oleh Universitas Riau (UR) di desa mereka.

Klik Juga: Wow, PT Minamas Habiskan 3,5 Miliar untuk Program Desa Peduli Api

 

kerajinan 2RIAU ONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO

 

"Lumayan juga buat ngisi waktu kosong di rumah sekaligus sambil ngumpul dengan tetangga-tetangga," kata warga lain, Lastri menimpali ucapan Zainab.

 

Selain itu, daun kelapa sawit juga mereka gunakan untuk membuat atap rumah yang bisa dipakai di rumah masing-masing selama beberapa bulan sebelum akhirnya atap tersebut rusak dan diganti kembali. Keterampilan yang mereka dapatkan begitu berguna pada kehidupan masyarakat desa sendiri.

 

"Kalau atap itu biasanya dipakai sendiri. Tapi kalau ada yang pesan, kita buatkan juga. Ini menguntungkan karena tak ada modal yang keluar untuk membuat kerajinan-kerajinan ini. Tinggal dianyam saja," imbuh Lastri.

 

Untuk pemasaran kerajinan yang dibuat para pengerajin ini sendiri sudah mulai lancar dipasarkan di daerah Riau seperti Bagansiapiapi, Pekanbaru, Bengkalis bahkan hingga sampai diekspor ke Malaysia dan Singapura sebagai kerajinan rumahan.

Lihat Juga: 3 Sekolah Dapat Bantuan 12 Unit Komputer dari PT Minamas

 

Namun sayang karena pemerintah belum memberikan perhatian khusus pada pengembangan kerajinan ini sehingga belum banyak pemasaran yang bisa dilakukan oleh warga. Mereka berharap pemerintah mau membantu mereka dalam pemasaran pada daerah-daerah yang tak bisa mereka jangkau.

 

"Sekaligus kami minta bantu pengembangan dari pemerintah supaya kerajinan ini makin berkembang," pinta warga.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline