Tenun Songket yang Terlupakan di Tanah Melayu Riau

Hasil-Tenun.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)
ombudsman

Laporan: Azhar Saputra

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ruhaya, saat dijumpai di rumah tenun di Jalan Perdagangan Pelabuhan Bunga Tanjung Kampung Bandar, Senapelan mengaku enggan meninggalkan pekerjaan yang sudah lama digelutinya sebagai pengrajin tenun.

 

Saat itu pukul 11.00 WIB, sembari menenun, Ruhaya menjelaskan sudah banyak tidak mau menenun. Padahal pada 2013, sekitar 20 wanita mau mempelajari teknik menggunakan alat tenun bukan mesin (atbm) yang diperkenalkan oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Tapi kini, satu persatu memilih berhenti melestarikan tenun songet khas melayu itu.



"Kalau saya pribadi, menenun ini butuh kesabaran ekstra untuk bisa menggelutinya. Kesabaran ekstra tersebut yang saya rasakan bukan hanya soal mempelajari alat tenun tersebut, tetapi juga kesabaran ekstra dari hasil yang kita dapat dari menenun ini," ucapnya sambil melantak tenunannya, Rabu, 16 November 2016.

 

Ruhaya kerajinan yang digelutinya bersama satu rekannya, Wawa Dini sudah tergerus oleh perkembangan zaman di era moderenisasi seperti sekarang ini. Lihat saja di beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota besar memilih menjual produk modern yang tentunya lebih diminati oleh masyarakat ketimbang barang tradisional.

 

Namun tidak dapat dipungkiri, masih ada beberapa gerai yang berupaya melestarikan kain tradisional meski dengan jumlah yang sangat minim.

 

Belum lagi dengan tenunan serupa yang di hasilkan dari alat tenun mesin (atm) dengan tingkat kerapatan yang nyaris sempurna berbanding terbalik dengan alat tenun bukan mesin (atbm) yang notabene di kerjakan oleh manusia yang memiliki emosi yang kadang naik turun berdampak besar terhadap hasil akhir dari pengerjannya.

 

Apalagi, hasil pengerjaan tenun yang dikerjakan dengan alat tenun bukan (atbm) tidak sesempurna hasil tenun yang diproses menggunakan alat tenun mesin (atm), sehingga turut menurunkan minat beli masyarakat. Selain itu, kain tenun hanya banyak diminati oleh kalangan dan dalam kondisi tertentu pula. Hanya sedikit yang masih mengagumi indahnya tenun asli buatan tanah Melayu.

 

"Kain tenun ini kan tidak semua aktivitas orang mempergunakannya. Paling saat tertentu saja seperti acara resmi, adat, pernikahan dan perkantoran. Itu pun hanya beberapa hari saja dalam sepekan," tambahnya.

 

Hingga akhirnya, perubahan zaman yang memaksa Ruhaya dan Wawa harus memutar otak untuk memperkenalkan produk tenun asli buatan masyarakat Riau agar tetap lestari hingga ke kalangan muda-mudi. Beruntung, Pemerintah Provinsi Riau bersedia membantu melestarikan.

 

"Contohnya kami menerima variasi untuk pembuatan blazer. Biasanya dengan ukuran dua meter setengah dapat kami penuhi dengan bordiran sesuai dengan pesanan pokoknya," imbuhnya. Mereka membandrol untuk satu bahan baju siap jadinya seharga Rp 300 ribuan.

Baca Juga: Cantiknya di pucuk rebung, tenun khas tanah melayu

 

Sementara itu, untuk kain tenun yang mereka produksi kebanyakan dipenuhi oleh permintaan pasar, yang notabennya adalah warga tempatan seperti masyarakat Riau. Namun sesekali mereka juga menerima pesanan dari negeri tetangga, seperti Singapore dan Malaysia.

 

"Kami juga siasati dengan menititipkan hasil kerajinan kami di toko-toko yang menyediakan perlengkapan pakaian jadi khas melayu seperti yang ada di Pasar Bawah maupun Jalan Jenderal Sudirman," tandasnya.

 

Bagi wanita yang sudah menginjak usia 41 tahun ini, metode seperti itu cukup efektif untuk kembali menghidupkan pangsa pasar kain tenun agar tidak hilang di telan zaman.

 

Ruhaya juga berpesan bagi wanita-wanita Riau yang tergerak hatinya ingin melestarikan budaya tenun ini diperbolehkan untuk mempelajari cara mengoperasikan atbm ini sampai mahir tanpa dipungut biaya sepeser pun.

 

"Memang tidak di pungut biaya, tetapi untuk bahannya seperti benang di harapkan di siapkan sendiri karena nanti toh hasilnya bisa di bawa pulang atau boleh juga untuk di perjual belikan," tegasnya.

  

Bagi yang berminat bisa datang langsung ke KSM Pucuk Rebung yang beralamat di Jalan Perdagangan Pelabuhan Bunga Tanjung Kampung Bandar, Senapelan, Pekanbaru, Riau.

 

"Atau bisa juga kunjungi Facebook kami di Wawa ediny, Instagram TENUN SIAK kp. BANDAR dan email: wawaedini@gmail.com," ucapnya sambil tersenyum.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline