Cantiknya Si Pucuk Rebung, Tenun Khas Tanah Melayu

Tenun-Siak.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)
ombudsman

Laporan: Azhar Saputra

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Usai menuntaskan pekerjaan rumahnya, Ruhaya bergegas menuju rumah bersejarah milik keluarga besar Rammah Yahya, toke getah karet pada masanya yang dibangun sekitar tahun 1887. Jaraknya hanya tujuh langkah dari kediamannya Jalan Perdagangan pelabuhan bunga tanjung Kampung Bandar, Senapelan.

 

Di sanalah para wanita kreatif, para pengrajin tenun bukan mesin berinovasi memajukan tenun khas Tanah Melayu yakni Tenun Siak.

 

"Saat ini sudah tidak seperti awal mulanya pendirian di Januari 2013 silam, yang pendiriannya kami namai kain Songket Melayu Pucuk Rebung. Beranggotakan sekitar 20 orang dengan empat alat tenun bukan mesin (atbm) rumah ini serasa riuh akan suara lantak dari mesin itu. Tapi saat ini hanya ada saya dan Wawa Dini," ucapnya sambil menunduk, Rabu, 16 November 2016.

 

Rumah yang dijadikan tempat ibu-ibu untuk menenunRumah yang berdiri sejak 1887, kini jadi tempat bertenun ibu-ibu kreatif

 

Sambil melantak (proses memadatkan benang sehingga berubah menjadi kain), Ruhaya menceritakan keseharianya dalam menjadikan helai demi helai benang menjadi selembar kain nan cantik bersama satu rekannya tersebut.

 

"Kletak kletak kletak," demikian suara hentakan mesin yang ditunggangi Ibu dua orang anak yang sesekali berhenti memperbaiki sambungan benang terputus dan menyambungnya kembali dengan bantuan benang tambahan lainnya.

 

Untuk menjadikan selembar kain songket pesanan yang saat ini ia kerjakan dengan ukuran 200 cm x 113 cm dan berbahan dasar warna hitam bermotif pucuk rebung berhias benang emas, Ruhaya memperkirakan butuh waktu satu sampai dua minggu pengerjaan.

 

"Kami ini kan ibu-ibu rumah tangga, jadi ada yang harus didahulukan, kalau fokus ke tenun ini paling lama satu minggu kok," ujarnya seraya tertawa.

 

Tidak lama berbincang-bincang, satu di antara dua penenun yang masih bertahan ini tiba di rumah tenun menginjakkan kaki di rumah panggung yang masih kokoh menopang bobot atapnya. Sembari melepaskan senyum kecilnya, Ruhaya mengambil sebuah alat bernama kelos dari bawah mesin tenun yang saat ini dalam keadaan rusak.

 

"Jadi sebelum ditenun, gulungan benang yang tampak beronggok masih dalam keadaan kusut dirapikan menggunakan alat sederhana yang diberikan oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Provinsi Riau yang bernama kelos atau ngelos ini," ucap Wawa Dini, Rabu, 16 November 2016.Alatnya begitu sederhana, terbuat dari jari-jari roda sepeda yang dihubungkan dengan pegangan sehingga dapat diputar menggunakan tangan. Di sampingnya, ada pelet terbuat dari kayu yang nantinya digunakan sebagai bahan untuk menenun.

 

me-ngelos benangProses memintal benang, atau me-ngelos benang yang akan ditenun

 

Wawa bercerita, untuk mendapatkan pintalan benang yang siap untuk ditenun, diperkirakan membutuhkan sebanyak 1 Kg benang jenis katun dengan estimasi waktu pengerjaan 10 menit.

 

"Kita biasanya beli per kilogram, kalau yang sudah jadi kemungkinan ada, tetapi saya tidak mau ambil pusing, harganya mungkin lebih mahal dari benang kiloan ini," katanya.

 

Wawa asyik dengan kelosnya, begitu juga dengan Ruhaya dengan mesin tenunnya. Meski belum sempurna, cantiknya lembaran berhias benang-benang emas membuat mata seakan ingin terus memandang.

 

Tenun SiakKain tenun yang masih dalam pengerjaan

 

"Hasil dari gulungan benang dari kelos yang dibuat oleh Wawa tadi di masukkan ke dalam teropong (pembentuk kain supaya dapat merentangkan kain dengan kain lainnya)," imbuhnya.

 

Kemudian dilanjutkan dengan proses me-ngelos dan proses honey atau memintal. Bagi yang sudah mahir tidak butuh waktu yang lama untuk melalui proses ini, tetapi bagi yang tidak, sepertinya jangan coba-coba untuk melakukannya karena di sana ada puluhan benang yang akan disusun rapi untuk nantinya agar bisa di tenun.

 

Tenun Pucuk RebungProses melantak benang yang akan ditenun

 

Bagian terakhir adalah bagian terseru, yakni proses yang dinamakan menyucuk atau melantak diiringi dengan memijakkan pijakan kaki yang berfungsi untuk membolak balik teropong. Benang yang sudah dipadatkan sehingga terbentuklah sebuah kain dengan suara khas.

 

Bunyi khas tersebut berasal dari kayu yang saling beradu memaksa benang satu dengan lainnya menjadi padat dan terbentuklah sebuah tenunan yang indah dan cantik.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline