Kisah Pilu WNI dan Puluhan Pelaut Bebas Usai 4 Tahun Disandera Perompak Somalia

Sandera-Perompak-Somalia.jpg
INDEPENDENT/EPA
Para pelaut yang bebas setelah empat tahun disandera perompak Somalia

RIAU ONLINE - Satu dari 26 pelaut Asia yang dibebaskan setelah disandera oleh perompak Somalia berkisah bagaimana mereka bertahan selama empat tahun dalam cengkaraman perompak.

 

Pelaut Filipina, Arnel Barbero bercerita bagaimana para sandera dipaksa memakan apa saja, termasuk tikus.

 

"Kamu makan segalanya, bahkan jika kamu tidak suka, tapi kamu merasa lapar. Anda harus makan," katanya dilansir dari Indpendent, Selasa, 25 Oktober 2016.

 

Saat di Nairobi, Balbero mengaku para perompak memperlakukan para sandera 'seperti binatang' dan mereka hanya memberikan sedikit air. Dia mengatakan empat tahun sebagai sandera membuatnya merasa seperti 'mati berjalan'.

 

Kisah pilunya Balbero dimulai pada 26 Maret 2012. Kala itu, ia dan 28 awak kapal penangkap ikan Naham 3 menjadi korban pembajakan dan penyanderaan perompak Somalia. Kapal berbendera Oman itu dibajak di perairan sekira 114 kilometer selatan Seychelles. Nahas, sang kapten tewas dalam insiden pembajakan tersebut.

Lima di antara 29 awak kapal Naham 3 adalah warga negara Indonesia. Sedangkan sisanya berasal dari Filipina, China, Taiwan, Kamboja dan Vietnam.

 

Proses pembebasan sandera perompak Somalia ini dimulai sekitar satu tahun lalu saat para sandera di tempatkan di wilayah Budbud.

 

Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi mengatakan, pengintensifan upaya pembebasan sandera di Somalia telah diperintahkan Presiden Joko Widodo sejak Januari 2015.

 

Pemerintah RI telah bekerja sama dan koordinasi dengan LSM, badan nirlaba internasional, dan PBB untuk membantu upaya ini. Kemlu juga melakukan kontak secara rutin dengan pihak keluarga sandera untuk mengabarkan proses pembebasan, seperti dilansir dari Okezone.com.

 

Akhirnya, pada Sabtu, 22 Oktober 2016, proses panjang itu membuahkan hasil. Namun, hanya 26 sandera perompak Somalia yang dapat diterbangkan ke Bandara Wajir, Kenya. Dua tawanan lainnya diketahui meninggal dunia dalam penyanderaan. Satu diantaranya adalah Nasirin, seorang WNI yang menghembuskan nafas terakhir akibat terserang malaria.

 

Bagi Balbero dan puluhan tawanan lainnya, sulit untuk dapat menyesuaikan diri kembali setelah begitu lama disandera. "Saya tidak tahu ada apa di dunia luar ini ketika bebas, sehingga sulit untuk memulai lagi," katanya

 

Sementara, perompak Bile Husein mengaku menerima tebusan USD 1,5 juta untuk membebaskan para tawanan. Namun klaim itu belum dapat diverifikasi. Kementerian Luar Negeri RI sendiri menepis kabar adanya pembayaran tebusan untuk membebaskan sandera perompak Somalia tersebut.

 

Posisi Indonesia selama ini telah jelas. Kita tidak membayar kepada orang yang melakukan pembajakan. Seperti yang saya sampaikan, posisi pemerintah selama ini tetap bahwa kita tidak menjadikan kebijakan untuk bayar pembajakan dengan uang," demikian ditegaskan juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Kemlu.

 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying mengatakan dalam sebuah pernyataannya pada Minggu malam, bahwa 10 sandera berasal dari daratan China dan dua berasal dari pemerintahan Taiwan.

 

Dia menegaskan 26 anggota awak kapal tersebut dibebaskan melalui berbagai upaya. "Pemerintah Cina berterimakasih kepada semua lembaga dan orang0orang yang terlibat dalam penyelamatan," katanya.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline