Aktual, Independen dan Terpercaya


Riska Sampai Batuk Darah Gara-Gara Asap

Unjuk-Rasa-Riau-Melawan-Asap.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Kian memburuknya kualitas udara di Riau mengakibatkan korban penderita penyakit paparan asap terus bertambah. Salah satunya Riska, warga Pekanbaru. Gadis berusia 18 tahun ini kondisi kesehatannya menurun sepekan terakhir akibat asap.

 

Riska mengatakan, sejak seminggu ini ia mengalami batuk darah yang tidak kunjung membaik. Ia mengaku telah mencoba mengkonsumsi obat konvensional untuk menyembuhkan, namun tetap tak ada hasil baik. "Sudah hampir seminggu ini saya minum obat batuk yang beli di warung. Tapi batuk darahnya tak kunjung sembuh. Malah darahnya semakin kental," keluhnya pada RIAUONLINE.CO.ID ketika mengantre di Posko Kesehatan depan Ramayana, Jalan Jendral Sudirman, Jumat (24/10/2015) siang. (KLIK: 197 Titik Panas Sumatera, Riau Masih Berasap)

 

Gadis yang tinggal di Kulim, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru ini mengungkapkan, sebelumnya ia tidak pernah batuk berkepanjangan. Apalagi hingga berdarah. "Kalau batuk-batuknya sudah 2 minggu ini. Tapi mulai batuk berdarah selama hampir seminggu ini. kalau pas batuk sakit sekali tenggorokan ini," ujar Riska.

 

Ditemani ibunya yang sehari-hari berjualan di pasar pagi samping Ramayana, Riska tampak lesu menunggu namanya dipanggil. Oleh tenaga medis yang memeriksa, Riska didiagnosa mengalami Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Ia diberikan beberapa papan pil obat dan sebotol sirup obat batuk. "Kata dokternya tidak perlu ke rumah sakit," katanya singkat. (BACA: Kediaman Plt Gubernur Riau Dibuka Untuk Evakuasi Warga)

 

Pengunjung yang berobat di posko ini tampak kepanasan lantaran tidak ada satupun air purifire, kipas angin maupun air conditioner yang dipasang di sana. Posko terbangun seadanya dengan sebuah tenda di pinggir jalan ini tampak tidak representatif untuk sebuah posko kesehatan.

 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengakui adanya kekurangan-kekurangan dalam pos kesehatan yang telah terbangun sejak darurat asap ditetapkan bulan September lalu. "Kita mengakui adanya keurangan-kekurangan yang ada di posko. Namun yang perlu diketahui adalah kita senantiasa melakukan perbaikan kondisi supaya kekurangan itu bisa terus kita benahi," tandas Andra Sjafril ketika ditemui dikantornya beberapa jam sebelumnya.