Peduli Karhutla, Masyarakat Desa Maksimalkan Tahapan Pencegahan

sekat.jpg
(sigit)

Laporan: SIGIT EKA YUNANDA 

RIAUONLINE, SIAK SRIINDRAPURA - Kebakaran hutan dan lahan di Riau acapkali terjadi. Riau yang didominasi lahan gambut mencapai 4 juta hektar atau lebih dari 50 persen dari seluruh luas wilayah benar-benar dilimpahi karunia alam mengingat manfaat gambut yang sangat besar sebagai lahan produktif untuk pertanian mengingat tingginya unsur hara serta fungsinya yang sebagai penahan air.

Namun, jika tidak diolah dengan cermat lahan gambut juga sangat rawan gambut sebab sangat mudah terbakar di cuaca panas Riau. Belum lagi ulah korporasi-korporasi atau perseorangan yang acapkali sengaja membakar lahan gambut untuk digunakan sebagai perkebunan dan lain sebagainya.

Permasalahan kebakaran hutan masih menjadi polemik di provinsi Riau, setelah sempat absen beberapa tahun terakhir tahun ini asap kembali meliputi langit Riau. Meski upaya penanggulangan tidak sedikit namun belum juga maksimal, terutama ketika berurusan dengan korporasi-korporasi di Riau.

Mengingat sulitnya upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan ini maka lebih baik untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dimulai dari sektor-sektor kecil terutama daerah pedesaan yang rawan terbakar . Hal ini seperti terlihat pada dua desa dampingan konsorsium Yayasan Mitra Insani(YMI) yaitu desa Rawa Mekar Jaya dan Desa Penyengat Jaya yang aktif mencegah kebakaran.

Dua desa ini sebelumnya merupakan desa yang rawan terbakar, bahkan pada awal 2014 di desa Penyengat terjadi kebakaran lahan mencapai dua ribuan hektar meliputi hutan dan lahan pertanian masyarakat. Praktis ini menjadi titik tolak bagi masyarakat untuk mulai menyeriusi pencegahan hutan dan lahan “pada 2014 kebakaran sangat luas, inilah masyarakat mulai sadar cegah kebakaran dan efeknya sekarang jarang kebakaran, hanya pada awal tahun kemarin sempat ada tapi tidak luas” ujar Anji Mardiator kepala Dusun II Desa Penyengat Sekaligus Penanggung Jawab pengerjaan Sekat Kanal di Desa Tersebut.

Dengan pendampingan dari YMI, JMGR, Fitra Riau Maupun Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) mulai lah dilakukan pencegahan kebakaran gambut dengan cara menjaga kadar air tanah melalui pembangunan sekat kanal atau canal blocking. Sekat kanal merupakan sekat-sekat pada saluran air sehingga ketinggian air dapat terus dijaga untuk menstabilkan kelembapan tanah. Secara prinsip kanal blocking bekerja seperti bendungan atau pintu air dalam skala lebih kecil. Setiap sekat kanal dapat menahan air hingga sepanjang 500 m dengan kedalam rata-rata 2 meter. Secara total hingga kini telah terdapat lima sekat kanal di desa Rawa Mekar Jaya serta lima belas di desa di Desa Penyengat. Dengan ini tingkat kelembapan air tanah dapat dijaga dan dikontrol.

Selain itu pula kelengkapan pencegahan juga dilakukan dengan membentuk Masyarakat Peduli Api MPA Manggala Agni sebanyak 15 orang di desa Mekar Jaya dan 5 di desa Penyengat yang salinng bekerja sama mengontrol titik-titik yang potensial menjadi titik api di daerah tersebut. Secara operasional MPA ini dilengkapi dengan radio komunitas Insani FM yang menyebarkan informasi-informasi terkait pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu pula juga dibangung menara pantau setinggi 20 m untuk mempermudah kinerja MPA tersebut.

Kepala MPA Desa Mekar Saya Setiono menyebutkan bahwa ia dan timnya terus berusaha maksimal mencegah kebakaran hutan dan lahan ”kita MPA Mekar Jaya merupakan salah satu yang terlengkap secara fasilitas di Siak untuk itu kami berupaya secara maksimal mencegah kebakaran lahan, bahkan tidak jarang kita mengerahkan bantuan untuk desa sekitar. Tidak hanya mematikan api kita juga melakukan kegiatan reboisasi kayu di daerah bekas kebakaran, hingga kini sudah 10.000 pohon ditanam di area 20 Hektar”

Ternyata dampak revitalisasi lahan gambut ini juga membawa keberkahan sendiri bagi masyaarakat. Lahan-lahan gambut yang telah dilakukan proses rewetting menjadi subur dan dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Seperti pada desa Penyengat dimana Lahan-lahan tersebut kemudian ditanami nenas mencapai 200 Hektar yang dikelola oleh kelompok tani melalui perizinan kepala desa Penyengat.

Dampak rewetting ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan lahan yang tidak dilakukan rewetting yang menjadi kering terutama di musim kemarau. Hal ini seperti terlihat pada lahan gambut yang tidak dilakukan rewetting yang ditanami serai wangi oleh kelompok tani. Lahan-lahannya terlihat sangat kering berwarna abu-abu tidak seperti lahan gambut kering yang berwarna kecoklatan bahkan serai-serai diatasnya tidak terlihat hijau pekat. “disini tanahnya kering, ini sudah gagal. Jadi akan dibongkar” ujar Ibu Apo ketua Kelompok Tani Wanita Desa Penyengat.

Selain itu pula daerah pinggiran sungai bekas terbakar yang ditanami ulang diharapkan akan segera rimbun dan membuat ikan-ikan kembali banyak seperti sedia kala.