Aktual, Independen dan Terpercaya


Duka Abduh. Mantan Perajin Sagu Akibat Kemarau Melanda Desanya

Kemarau-panjang-membuat-Abduh-T-menghentikan-usaha-pembuatan-sagu.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ Andrias)


Laporan: ANDRIAS

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Tahukah kamu tidak semua pengrajin di Riau ini memanfaatkan teknologi terkini dalam mengolah batang sagu menjadi tepung untuk dimanfaatkan menjadi ratusan panganan ataupun bahan berguna lainya.

Salah satunya adalah Abduh (69), warga Desa Sungai Batang, Kecamatan Bengkalis. Dirinya masih setia menggunakan cara tradisional demi menghasilkan tepung sagu yang menjadi tumpuan hidupnya.

Bersama anak dan istrinya ribuan batang sagu mereka olah. Dimulai dari pemotongan, menguliti sampai memasuki proses pengendapan mereka lakukan secara manual.

"Mulai dari pemotongan kayu, ngopek (nguliti batang pohon sagu), sampai diendapkan sehingga menjadilah tepung sagu basah semuanya kami kerjakan secara manual," sebutnya, Sabtu, 23 Marett 2019.

warga Desa Sungai Batang menghentikan sementara usaha pembuatan sagu

Batang pohon sagu tersebut mereka dapatkan dengan cara membeli dari kebun warga. Tak jarang ada warga yang iklas mengantarkan langsung ke rumahnya.

Abduh mengaku keterampilannya ini didapatkannya dari pengalaman selama menjadi buruh angkut aren untuk dikirim ke tempat penggelolan. Bahkan sampai ke Malaysia.

"Dulu, saat masih bujang kerje saye masih bolak balik masuk Malaysia mengangkut kayu balak dan sesekali juge mengangkut batang sagu dan mengantarnya ke pabrik. Dari situlah pengalaman saya dapat hingga sekarang dapat pulelah saye terapkan," katanya dengan logat Melayu kental.

Pengalaman itu lantas membuat Abduh memberanikan diri untuk membeli peralatan pengolahan tepung sagu sederhana.

Meskipun menggunakan mesim Diesel bermerek Dong Feng, rupanya peralatan tersebut mampu bekerja secara maksimal.

"Biarpun hanya bermesin Dong Feng, alat ini bisa menggiling sekaligus dapat mengalirkan air," jelasnya.

Namun, pekerjaan yang sudah ditekuninya sejak tiga tahun silam itu terpaksa harus berhenti lantaran kondisi alam dilanda kekeringan.

Berakibat air yang semula melimpah, kini tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan pengolahan sagu. Musim kemarau bahkan mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menghanguskan lahan-lahan yang telah ditanami sagu. Membuat usaha warga lokal menjadi mati. Tidak sampai disitu, Abduh kini bahkan sudah sakit-sakitan akibat terlalu sering menghirup asap dari sisa pembakaran.

"Kite sudah biaselah, batuk ini (akibat asap) bentar kan sembuh sorang. Kalau dibawak ke rumah sakit takut di bedah pule," tutup pria kurus beranak empat ini sambil bercanda.