Aktual, Independen dan Terpercaya

Kebencian Warga Semakin Memuncak Alasan Polisi Jadi Bulan-bulanan

Neta-S-Pane.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tak lebih dari dua hari, dua kasus melibatkan Kepolisian harus menanggung malu. Diawali dengan penembakan diiringi penganiyaan hingga tewasnya Apri Adi Pratama di Selat Panjang, Kepulauan Meranti Riau, Kamis, 25 Agustus 2016, disusul Sabtu, 27 Agustus 2016, terbakarnya kantor polisi di Rantaupanjang, Jambi. 

 

Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengatakan, dua kasus berdekatan tersebut menandakan semakin memuncaknya kebencian warga terhadap polisi atau ada pihak-pihak tertentu memprovokasi untuk merusak citra Polri.

 

"Kami mencatat, selama 8 bulan terakhir di 2016 ada 14 kantor dan fasilitas Polri dirusak serta dibakar warga. Selain itu, ada 11 polisi" yang tewas dan 45 lainnya luka akibat amuk massa. Amuk terakhir terjadi di Rantaupanjang, Merangin, Jambi," kata Neta S Pane. 

 

Baca Juga: Tewas Ditangan Polisi, Keluarga: Kami Ingin Keadilan Seadil-adilnya, Bukan Minta Damai

 

Ia menjelaskan, Polsek Tabir diserbu dan dibakar massa akibat polisi menangkap penambang liar kelas kecil dan membiarkan penambang liar kelas kakap tetap beroperasi.

 

Sejak Tito Karnavian menjadi Kapolri, 14 Juli 2016 lalu, kata Neta, sudah terjadi tujuh kerusuhan atau bentrokan massa. Perinciannya, di Sumaatera Barat, Tanjungbalai dan Karo di Sumatera Utara, Aceh, Makassar Sulawesi Selatan, Kepulauan Meranti Riau dan Jambi.

 

"Pemicunya hanya soal sepele. Seperti peristiwa terakhir di Jambi, polisi menangkap penambang liar dan tiba-tiba muncul rombongan massa menyerbu Polsek. Mereka melempari dan langsung membakar polsek," kata Neta.

 

Ia mengatakan, intelijen Polri dan BIN perlu melakukan pengusutan serius, apakah aksi warga itu spontanitas atau ada pihak tertentu memprovokasi menghancurkan citra Polri.

 

Klik Juga: KontraS: Kapolda Riau Jangan Rayu, dan Tekan Keluarga Korban

 

Jadi pertanyaan, jelasnya, kenapa warga di daerah kecil, seperti Rantaupanjang, berani menyerang, merusak, dan membakar kantor polisi, hanya karena persoalan sepele.

 

"Jika hal ini aksi spontan, Polri perlu melakukan instrospeksi atas sikap, perilaku, dan kinerja jajaran bawahnya yang bisa memicu kemarahan warga. Sebaliknya, jika ada pihak memprovokasi merusak citra Polri, jajaran kepolisian harus mewaspadainya dan segera mengusut tuntas," pungkasnya. 

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline