Akademisi Minim Peran, Karhutla Riau Sulit Diselesaikan

Jikalahari-di-unri.jpg
(Sigit)

Laporan: Sigit Eka Yunanda

 

RIAUONLINE, PEKANBARU - dalam beberapa waktu terakhir sarat dengan kasus kebakaran hutan. Tercatat tidak kurang dari 2000 hektar hutan Riau terbakar sehingga sepanjang 2019.

Tak pelak hal ini mengundang sejumlah organisasi mahasiswa turun aksi menuntut pemerintah Pemprov Riau untuk segera mengatasi hal tersebut. Bahkan beberapa waktu lalu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau sampai melakukan aksi bakar boneka dengan potret wajah Syamsuar sebagai bentuk protes.

Mirisnya, kontribusi nyata akademisi justru dinilai minim dalam upaya perlindungan hutan Riau. Hal ini seperti diungkapkan Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari) diwakili koordinatornya Made ali dan Wahana Lingkungan Hidup( Walhi) pada talkshow Masyarakat Hutan dan Nasib Negeri yang diadakan Green Radio tepat di depan halaman Rektorat Fisip UNRI, Selasa 2 April 2019.

Dalam pemaparannya Jikalahari menjelaskan Kampus acapkali tidak ikut serta dalam upaya penghentian kebakaran dan kerusakan hutan. Hal ini dilihat dari tiga indikasi. Pertama yaitu bahwa Universitas justru tidak melestarikan hutan asli di sekitarnya untuk kepentingan pembangunan.

"Faktanya kita berteduh di bawah pohon akasia, kemana hutan aslinya? Sudah ditebang kan?."

Selanjutnya Jikalahari juga menyoroti pendirian Fakultas Pulp and Paper yang dinilai kurang berkontribusi positif bagi upaya pelestarian lingkungan.

Terakhir peran akademisi yang sering dirujuk sebagai ahli dalam sebuah persidangan justru kerap tidak berpihak pada masyarakat

"Banyak dosen atau akademisi yang bergabung sebagai ahli perusahaan yang ikut serta dalam pembakaran. Selain itu pula akademisi ikut serta sebagai pengamat Ahli dalam sejumlah kasus pengerusakan justru mendukung korporasi yang merusak," ujarnya.

Jikalahari dan Walhi menilai peran akademisi penting dalam upaya penyelesaian Kebakaran dan kerusakan hutan terutama pada penyelesaian Hulu. Hal ini sebab kebakaran hutan sering sekali terkait dengan kepentingan politik sebagian pihak.

Pada tahapan awal Jikalahari dan Walhi menegaskan peran penting Akademisi untuk Menghasilkan hasil study berimbang dan menjelaskan masyarakat hutan bisa hidup bersama hutan dan tanpa merusak hutan.

"Harus ada langkah nyata akademisi untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan. Tidak ada lagi berjuang di jalan sunyi, harus di jalan terang. Akademisi harus bersuara dan bersolidaritas melawan kejahatan korporasi perusak hutan" Tegas Made.