Aktual, Independen dan Terpercaya


Ini Pengalaman Buruk Saya Karaoke di NAV Family

Nav-Family-Karaoke.jpg
Internet
ILUSTRASI

Oleh : Lisda Yulianti Hernina

Warga Gobah, Pekanbaru 

 

HATI-HATI jika Anda, keluarga, kawan dan sahabat, hendak berkaraoke di NAV Jalan Tuanku Tambusai. Anda bisa ditagih bayaran lebih besar dari semestinya dibayar. Saya mengalaminya, ketika berkaraoke dgn kedua putri saya, Rabu (20/5/2015) kemarin.

 

Saya dan kedua putri saya masuk ke NAV pukul 15.15. Karena putri saya masuk lebih dulu, dia tanya pada resepsionisnya tentang harga untuk 3 jam di Small Room dan minuman es lemon tea 1 teko.

 

Resepsionis mengatakan pada putri saya, harganya Rp 76 ribu. Saat saya masuk, putri saya sudah di dalam ruangan karaoke. Saya tidak mampir ke resepsionis, tapi langsung masuk ke room 3, gabung dengan kedua putri saya.

 

Setiba di ruangan, putri saya berkata, untuk 3 jam + minuman Rp 76 ribu. Satu jam pertama berlalu, saya sempat ke resepsionis menanyakan waktu kami sampai pukul berapa. Si resepsionis menjawab, hingga pukul 18.20.

 

Kemudian saya kembali asyik berkaraoke dengan kedua putri saya. Tetapi, di saat asyik berkaraoke di ruangan cahayanya agak redup, sekitar pukul 16.10 seorang staf lelaki masuk membawa bill.

Tagihannya Rp 112 ribu. Karena asyik menyanyi, tanpa meneliti lagi, saya membayar sesuai harga tersebut. Lalu staf itu mengambil uang saya bayarkan dan meminta kembali struk/nota pembayaran. Saya pikir mungkn struknya diperlukan untuk ke kasir dan nantinya akan dikembalikan.

 

Setelah staf itu keluar ruangan, saya baru sadar, menurut putri saya harga sudah ia tanyakan ketika baru masuk adalah Rp 76 ribu. Untuk klarifikasi harga tersebut, saya tunggu struk pembayaran tadi.  Namun saya tunggu struk itu tidak juga dikembalikan ke saya.


Akhirnya saya minta ke resepsionis, struk seharusnya menjadi hak konsumen. Resepsionis ketika itu oiket mengaku bernama Sami (31) menjawab, "Struknya sudah dibuang ke tempat sampah, bu. Jijik kalau harus diambil lagi."

 

Lalu saya tanyakan, "Tagihan Rp 112 ribu itu untuk apa saja? Saya mau lihat apa saja yang saya bayar. Karena menurut anak saya, saat mau masuk sdh diinfokan harga utk 3 jam karaoke plus 1 teko es lemon tea Rp 76 ribu."

 

Resepsionis menjawab, sebentar bu, saya cek dulu." Saat itu ada Supervisornya, seorang lelaki yg tidak saya ketahui namanya. Kepada lelaki itu saya tanyakan. "Bagaimana Pak, kenapa saya ditagih Rp 112 ribu. Saya minta struknya katanya sudah dibuang ke tempat sampah. Saya mau tahu, pembayaran itu untuk apa saja?"

 

Supervisor langsung berkata pada resepsionis. "Ini yang salah tadi ya." Resepsionis lalu berkata, "Iya bu, tadi ada kesalahan. Uang ibu masih ada dengan kami Rp 36 ribu." Lalu dia mengembalikan uang saya Rp 36 ribu.

 

Dengan hati kesal saya menerima uang itu, dan kembali ke ruangan. Peristiwa itu tampaknya sudah biasa mereka lakukan. Jika saya tidak teliti dan berani protes, berarti saya membayar lebih dari semestinya harus saya bayar.

 

Jika dalam satu hari ada 10 customer dimintai uang lebih, berapa banyak uang hasil tipuan itu bisa mereka kumpulkan? Berapa banyak korban penipuan terstruktur seperti saya alami? Memang nilainya tdk seberapa. Tetapi tdk spt itu caranya. Seolah semua customer itu bodoh dan mudah dibodohi.

 

Belum habis kesal saya, masuk seorang staf perempuan mengingatkan, waktunya sudah mau habis. Saya lihat jarum jam, baru pukul 17.15. Berarti kami masih punya waktu 65 menit lagi. Dengan geram saya keluar ruangan dan bilang, "Waktu saya hingga pukul 18.20."

 

Staf itu menjawab, "Iya bu, salah tengok tadi di komputer." Mulai hilang mood saya berkaraoke. Tetapi karena waktu masih ada, kami tetap bertahan. Pukul 18.00 tiba-tiba komputer di ruang kami mati. Saya langsung ke resepsionis dan menanyakan mengapa komputernya mati.

 

Resepsionis bernama Sami itu terlihat berpura-pura tidak tahu dan menanyakan pada staf lainnya, siapa yang mematikan sistem ke ruang kami. Mereka pun saling menyalahkan.

 

Lalu Sami bilang pada saya, "Maaf sistemnya sudah mati, bu. Tdk bisa dihidupkan lagi." Saya jawab, "Saya masih punya waktu 20 menit. Bagaimana?" "Tidak bisa dibuka lagi bu, kalau mau dibuka lagi, ibu harus bayar 1 jam lagi," kata Sami.

 

Jelas, saya langsung marah. "Jangan macam-macam, kamu. Saya masih punya hak 20 menit lagi. Saya datang ke sini bayar, dan saya menuntut hak saya," tegas saya.

 

Dia bilang, "saya kasi tahu supervisor dulu bu." Kemudian supervisornya datang dan langsung tanya. "Error ya. Ibu saya tambahkan 1 jam lagi."

 

Saya jawab, "Tdk perlu. Saya hny menuntut hak saya, 20 menit lagi." Setelah itu saya kembali ke ruangan, meneruskan menyanyi, walau sebenarnya mood sudah hilang.

 

Semoga pengalaman saya dan kedua putri saya, menjadikan Anda berhati-hati dan lebih teliti jika berkaraoke di NAV Jalan Nangka, Pekanbaru.

 

 

= = = = = = = = = = = =

 

Ini merupakan rubrik khusus bagi netizen dan tanggung jawab mengenai tulisan dibuat netizen, bukan pada Redaksi riauonline.co.id.

 

Bagi pembaca yang ingin berpartisipasi dalam rubrik Netizen ini, kami persilakan dengan mengirimkan tulisan dan foto-foto kegiatan mereka, termasuk foto diri sendiri ke email [email protected]

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline

 

Terima Kasih.