Balimau Kasai Langgam, Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga

Balaimau-Kasai-Langgam.jpg
(Isti)

RIAUONLINE, PELALAWAN - Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, masyarakat adat Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, yang bermukim di tepian Sungai Kampar, Anjungan Ranah Tanjung Bunga, Langgam, selalu melakukan Mandi Balimau Kasai Potang Mogang.

Adapun makna yang sudah menjadi tradisi masyarakat sejak nenek moyang itu adalah bentuk dari penyucian diri lahir maupun batin, sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan ungkapan rasa kegembiraan akan datangnya bulan penuh berkah.

Tradisi Mandi Balimau Kasai Potang Mogang sendiri dapat diartikan dengan mandi menggunakan jeruk purut disertai rempah dan bunga mewangi, biasanya mandi ini dilakukan sore hari, sebelum memasuki Ramadhan.

Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Pelalawan, Datuk Seri Tengku Zulmizan Fainja Assagaf dalam sambutannya mengatakan bahwa tradisi balimau kasai potang mogang merupakan cara tersendiri bagi orang melayu dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.

Hakikatnya, Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan, sehingga seseorang perlu mensucikan diri sebelum masuk dan menjalankan seluruh amal ibadahnya selama bulan tersebut. Adapun cara mensucikan diri itu adalah dengan mandi balimau menggunakan jeruk purut.

Bupati Pelalawan, H.M.Harris yang bergelar Datuk Setia Amanah, menjelaskan mandi Balimau Kasai Potang Mogang merupakan salah satu tradisi yang telah dilaksanakan sejak dulu, secara turun temurun diwariskan dan dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat Melayu khususnya di Kecamatan Langgam dalam menyambut bulan puasa.

Pelaksanaan Mandi Balimau Kasai Potang Mogang untuk Ramadhan 1440 H ini memang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sebab kali ini dihadiri langsung orang nomor satu di Riau, siapa lagi kalau bukan Gubernur Riau H Syamsuar.

Dalam kegiatan itu Syamsuar didampingi langsung oleh Bupati Pelalawan HM Harris, Wakil Bupati H Zardewan, Sekda Pelalawan, Tengku Mukhlis, Kapolres Pelalawan, AKBP Kaswandi Irwan dan Kajari Pelalawan, Nophy T Suoth.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Pesisir (LAMP) Tengku Nahar SP, Forkompinda Pelalawan, Kepala OPD. Selain itu juga terlihat Ketua TP PKK Hj Ratna Mainar Harris, Wakil Ketua TP PKK Pelalawan Hj Ramlah Zardewan, Ketua Dharma Wanita Hj Teti Hariati Mukhlis, Anggota DPRD Provinsi Riau Sewitri.

Pelaksanaan mandi balimau kasai potang mogang, terlebih dahulu dimulai dengan acara makan bejambau atau dikenal dengan makan beradat. Dimana Bupati Pelalawan HM Harris ikut dalam prosesi makan bejambau berbaur bersama pemuka adat, batin, ninik mamak, tokoh masyarakat dan alim ulama.

Dalam rangkaian prosesi mandi balimau kasai potang mogang itu terlihat upacara Togak Tonggol sebagai pembuka yang dipimpin oleh Datuk Rajo Bilang Bungsu. Tonggol merupakan sebuah bendera simbol kebesaran suku suku di Langgam yang dikibarkan diatas tiang panjang yang berasal dari bambu.

Dengan keberagaman warna bendera yang dikibarkan diatas tonggol tersebut dikatakan mantan Ketua Partai Golkar Pelalawan itu menandakan bahwa tidak ada permasalahan atau persoalan. Selain itu, Harris juga mengatakan, dengan perbedaan yang ada, masyarakat adat tetap bisa bersama dan bersatu.

Datuk Setia Amanah Payung Panji Kabupaten Pelalawan ini berharap, masyarakat Pelalawan agar bisa terus menjaga dan melestarikan warisan budaya turun temurun di negeri dengan motto Seiya Sekata di tengah mulai tergerusnya kebudayaan oleh negara luar.

Sementara itu Gubenur Riau H Syamsuar mengatakan, kegiatan Mandi Balimau Potang Mogang itu memiliki nilai adat dan budaya yang harus dijunjung tinggi, sehingga tidak akan hilang adat dimakan oleh waktu.

Mantan Bupati Siak tersebut juga mengajak masyarakat agar tradisi yang dimiliki adat serta kebanggaan itu dapat dilestarikan turun temurun. Hal ini mengingat Riau merupakan tanah melayu yang memiliki banyak budaya.

Dikatakannya, meski sudah masuk ke era teknologi seiring dengan perkembangan zaman, namun ada istiadat di negeri melayu tetap terjaga hingga kini. Dengan demikian pelestarian itu hendaknya bisa dilanjutkan.

Terkait hal tersebut, Syamsuar menyebutkan pemerintah Provinsi Riau saat ini tengah memacu tumbuh kembangnya potensi wisata yang ada dan salah satunya adalah destinasi wisata budaya dan wisata religi seperti prosesi mandi balimau kasai di Langgam.

Mengenai prosesi mandi balimau kasai potang mogang dikatakan Syamsuar bisa dijadikan sebagai wisata budaya dan perlu dikembangkan lagi untuk menarik pengunjung datang, sebab wisata di Riau memiliki nilai tersendiri, alasannya Budaya Melayu identik dengan Islam.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa Provinsi Riau berada pada peringkat ketiga setelah Lombok dan Aceh dalam kategori destinasi wisata halal yang diantaranya meliputi wisata religi, wisata alam dan event pariwisata lainnya di negeri melayu.

Ketika wisatawan datang, mantan Bupati Siak dua Periode itu menyebutkan maka secara tidak langsung dapat meningkatkan devisa bagi negara, selain itu perekonomian masyarakat yang berada sekitar objek wisata juga bisa meningkat.

Karena itu, Syamsuar berharap agar potensi-potensi wisata di Provinsi Riau harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Riau, untuk menarik perhatian pengunjung, maka perlu dipoles dengan hal-hal yang menarik. Khusus untuk wisata budaya dan religi hendaknya dapat dilestarikan sesuai dengan warisan leluhur.

Dalam melestarikan budaya itu, tokoh adat, ninik mamak dan tokoh masyarakat memiliki tanggungjawab yang besar, seiring dengan kemajuan zaman, adat istiadat harus tetap dijaga dan diturunkan generasi selanjutnya. Karena Kebudayaan merupakan pilar utama dalam memajukan bangsa.

Sementara, untuk fasilitas pendukung di lokasi-lokasi destinasi wisata, disampaikan Syamsuar bahwa hal itu akan menjadi tanggungjawab dari pemerintah, saat potensi itu dianggap bisa bersaing, maka pemerintah siap untuk menambah fasilitas. Sebab antara pemerintah dan masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama dalam mengembangkan daerah.

Di Kabupaten Pelalawan sendiri dilihat Syamsuar terdapat banyak potensi wisata, selain wisata budaya dan religi, Negeri Amanah juga memiliki potensi wisata alam seperti Ombak Bono yang saat ini sudah masuk dalam kalender wisata nasional yang diadakan setiap tahunnya.

Meski demikian, ia tetap menghimbau pemerintah dan masyarakat untuk terus menggali potensi wisata lainnya, pasalnya ketika wisatawan datang ke Pelalawan, maka akan bertahan beberapa lama untuk menikmati spot wisata lain.

Terakhir, Syamsuar mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut gembira bulan yang penuh rahmat, selain itu juga diharapkan dalam bulan suci ini bisa memelihara suasana yang damai dan menjaga ukhuawah Islamiah.(Advertorial)