Jikalahari Nantikan Komitmen Syamsuar-Edy Natar atasi Karhutla Riau

Jikalahari-dan-Bambang-Hero.jpg
(Sigit)

Laporan: Sigit Eka Yunanda

 

RIAUONLINE, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau cukup memprihatinkan sepanjang 2019. Hingga akhir Maret 2019 Tidak kurang dari 2700 hektar hutan terbakar. Nyaris seluruh Kabupaten/Kota menyumbangkan asap, terbesar yaitu Bengkalis yang mencapai lebih dari 700 hektare.

Dalam diskusi terbuka bertajuk Cerita Karhutla Riau 2019 bertempat di J Cafe, Selasa 9 April 2019. Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Made Ali selaku wakil koordinator Jikalahari, Prof Bambang Hero selaku peneliti hutan dari Institut Pertanian Bogor, serta Isnadi selaku Koordinator Masyarakat Gambut Riau.

Dalam temuannya, Jikalahari menilai masih banyak kebijakan maupun tindakan pemerintah yang tidak pro terhadap kehutanan bahkan condong ke Korporasi atau cukong tanah yang acap kali melakukan pembakaran hutan untuk ekspansi lahan.

Sejumlah titik kebakaran terjadi di wilayah konsesi perusahaan namun tidak satupun korporasi yang ditetapkan sebagai pelaku pembakaran. Hingga kini 13 tersangka pembakaran merupakan pelaku perorangan non korporasi.

Atas hal tersebut Jikalahari mempertanyakan Penegakan Hukum yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di bawah komando Siti Nurbaya yang dinilai belum maksimal. Sejumlah langkah preventif semisal menyurati 11 korporasi yang terkait bukan lagi solusi.

"KLHK hanya menegur 11 perusahaan ini, menurut kita tidak cukup menegur, terbakar setiap tahun kok masih ditegur. Review saja izinnya, bila perlu cabut saja," ujar Made Ali.

Made Ali menambahkan jika terbukti perusahaan gagal maka lebih baik dicabut saja Hak Guna perusahaan tersebut dan serahkan pada masyarakat.

"jika terbukti gagal tarik saja, lahannya bisa digunakan untuk reforma agraria. Perusahaan sudah gagal maka biarkan Masyarakat mengelola."

Melihat sengkarutnya pengelolaan Karhutla ini Jikalahari mengharapkan kepemimpinan Syam-Edy dapat memberi efek positif pafa penanganan Karhutla ini mengingat Syamsuar semasa menjabat sebagai Bupati Siak cukup baik dalam mengelola hal tersebut.

Jikalahari sudah berkoordinasi dengan Syamsuar mengenai Karhutla dengan mengajukan 7 poin program yang juga memiliki kesamaan dengan 4 program 100 hari Syamsuar-Edy Natar dengan konsep Riau Hijau yang menjadi program utama.

4 program tersebut antara lain sosialisasi penanganan Karhutla, perumusan konsep Riau Hijau, meningkatkan reforma agraria serta meningkatkan pemasukan daerah melaui pajak perkebunan kelapa sawit.

Selain penanganan kebakaran hutan Jikalahari juga menyarankan agar penangan korban dampak kebakaran hutan juga perlu diperhatikan sehingga korban tidak bertambah akibat ISPA.

Lebih jauh Jikalahari berharap agar pemerintah dapat lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat dalam upaya pelestarian hutan ini sehingga konsep reforma agraria dapat terealisasi.