Aktual, Independen dan Terpercaya


Inilah Makna Makan Besar Bagi Tionghoa Muslim saat Malam Perayaan Imlek

Ketua-PSMTI-Provinsi-Riau-Peng-Suyoto.jpg
(Hasbulah Tanjung)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Bagi sebagian umat Islam keturunan Tionghoa Riau, kumpul makan bersama sudah menjadi kebiasaan mereka tiap tahun sebelum perayaan Tahun Baru Imlek.

Pasalnya, perayaan Imlek juga diidentikkan dengan makan bersama sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga. Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Riau, Jailani Tan mengungkapkan, tradisi turun-temurun ini bahkan sudah dilakukannya dengan suka cita tanpa ada beban mengganjal di hati.

"Kalau makan bersama sebelum Tahun Baru Imlek saya pikir itu wajar saja. Karena tidak ada kita langgar di dalamnya kok. Malahan, saya pikir itu bagus. Karena kita jalankan setiap tahunnya. Artinya di situ ada keluarga saya tidak muslim, bergabung makan bersama," ceritanya, Rabu, 6 Februari 2019.

 

Dalam tradisi makan bersama ini, tutur Jailani Tan, menu disajikan juga tidak sembarangan. Misalnya, pindang bandeng hingga kue keranjang. Menu lainnya harus memiliki filosofi sebagai bagian dari doa dan pengharapan untuk masa depan.

"Kalau kita umat Islam memandangnya, ya cuma makan bersama keluarga besar. Tidak lebih. Karena memang selama ini kitakan disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Pas waktu pergantian tahun, masing-masing meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Nah, di situ duduk yang muslim dan bukan. Bagi kita tidak ada hal kita langgar secara akidah kok," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pagu­yuban Sosial Marga Tiong­hoa Indonesia (PS­MTI) Riau, Peng Suyoto menilai, makan bersama lebih dari sekadar kumpul bersama keluarga.

Karena Imlek saat ini jatuh pada tahun Babi Tanah sudah dirayakan sejak dulu, 4.717 tahun itu adalah tahun kemakmuran bagi mereka. Dengan harapan, tahun ini Indonesia akan lebih damai dan sejahtera.

"Apalagi untuk Feng Sui bisnisnya, bagus. Karena tahun ini akan makmur dan harapan besar tambah maju. Meskipun Imlek ini bukan agama melainkan budaya orang Tionghoa yang pada awalnya dimulai dari hari bercocok tanam," jelasnya.

"Jadi, dengan mulainya tahun menanam ini, semua keluarga bergembira ria untuk menatap masa depan yang lebih makmur lagi. Biasanya sebelum malam tahun baru sanak keluarga berkumpul untuk makan besar. Jadi tidak hanya sekedar makan saja," jelasnya.