Aktual, Independen dan Terpercaya


Ratusan Tahun, Tionghoa dan Melayu Riau Hidup Rukun Berdampingan, ini Buktinya

Ketua-PSMTI-Provinsi-Riau-Peng-Suyoto.jpg
(Hasbulah Tanjung)

Laporan: HASBULLAH TANJUNG

RIAUONLINE, PEKANBARU - Hidup dan tinggal di Bumi Melayu sejak abad ke 7. Masyarakat Tionghoa terbukti bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Riau Peng Suyoto mengatakan selama ini masyarakat Tionghoa dan Melayu sudah berbaur, sehingga terjadi asimilasi dan akulturasi.

"Tentu semua sudah terjadi asimilasi dan akulturasi secara natural. Karena keberadaan Tionghoa di Melayu sudah sangat lama," ujarnya kepada RIAUONLINE, Senin, 4 Februari 2019.

Diakui Peng, masyarakat Melayu adalah masyarakat yang terbuka sehingga bisa menerima budaya luar yang masuk. Sehingga proses asimilasi ataupun akulturasi bisa berjalan dengan baik

"Melayu sangat terbuka, makanya meskipun di Bumi Melayu banyak masuk budaya luar, tapi kondusifitas di sini bisa dikendalikan dengan baik," katanya.

Ditambahkan Peng, pihaknya sudah membuat kajian bersama dengan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) dan menemukan fakta bahwa Budaya Melayu dengan Tionghoa tidak terlalu banyak perbedaan, dan malah lebih banyak persamaan.

Contoh asimilasi dan afiliasi ini, dicontohkan Peng, bisa dilihat dari adanya unsur naga dalam lambang kerajaan Siak. Ini membuktikan bahwa keduanya sudah menjalin hubungan baik sejak dulunya.

"Kata ayahanda Tenas Effendy, baju sekat musang yang juga disebut baju Koko, mirip dengan model baju Shanghai, selain itu di kerajaan Siak juga ada lambang naganya," tambahnya.

Tak hanya itu, di setiap Istana yang berada dalam kekuasaan Istana Melayu, juga disediakan rumah tabib Tionghoa guna memenuhi kebutuhan obat-obatan penduduk.

Meskipun mengalami asimilasi dan akulturasi budaya, masyarakat Tionghoa di Melayu tetap mempertahankan beberapa budaya yang sudah diajarkan turun temurun oleh leluhurnya.

"Selama ini kita tetap pertahankan beberapa seperti Imlek, pemakaian baju dominan merah, lampion, ucapan selamat tahun baru, itu masih kita pertahankan, karena budaya Tionghoa sudah 4700 tahun lebih, jadi sudah sangat menyebar kemana-mana," tuturnya.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id /