Aktual, Independen dan Terpercaya


Kisah di Balik Layar Debat Capres Edisi Perdana Jokowi Vs Prabowo (1)

Prabowo-Subianto-dan-Sandiaga-Uno.jpg
(FACEBOOK/MIFTAH SABRI)

RIAU ONLINE, PEKANBARU Debat kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden edisi perdana yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kamis, 17 Januari 2019, masih hangat diperbincangkan. 

Tapi, tahukah Anda, ada kisah-kisah unik di balik layar Debat Kandidat edisi perdana tersebut. Juru Kampanye Nasional Pasangan Capres Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno, Miftah Nur Sabri, menceritakan hal tersebut kepada pembaca RIAUONLINE.CO.ID

Berikut cerita Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan Riau 1 meliputi Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Siak, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti, dari Partai Gerindra, Miftah Sabri

Satu pekan sebelum debat Mas Bowo (Prabowo Subianto) dan Bang Sandi (Sandiaga S Uno) mempersiapkan diri. Anggaplah pidato kebangsaan sebagai awal pemanasan.

Ada beberapa kali duduk bersama di Kertanegara dan Hambalang. Yang diundang datang seluruhnya "orang konten". Arrangernya Mas Sudirman Said sebagai koordinator debat.

Prabowo dan Sandiaga Uno

CALON Wakil Presiden 02, Sandiaga Uno bersama istri, Nur Asia, berfoto bersama Calon Anggota DPR RI dari Dapil Riau I, Miftah Sabri, saat Debat Capres, Kamis, 17 Januari 2019.

Tidak ada ahli poles seorang pun. Yang ada ahli konten. Mas Bowo menerima masukan dari beberapa saluran. Saluran pertama dari Mas Dirman (Sudirman Said), saluran kedua dari Dewan Pakar via Prof Burhanuddin Abdullah, dan tokoh-tokoh dianggap memiliki reputasi di bidang Hukum, HAM dan Teroris. Dalam hal konten hukum ini, Bang Dasco, memimpin team feeder ke Mas Bowo.

Tokoh-tokoh antikorupsi memberi masukan langsung adalah Mas Bambang Widjayanto, Pak Busro Muqadas, ada juga mantan ketua Komnas HAM, Rektor beberapa Universitas ternama. Dengan tim Bang Sandi di kantor Wapres di Pulombangkeng 15. Ada Bang Alex Datuk sebagai Chairman Sandinomics belakangan hadir. Memberikan input-input.

Belakangan "the most trusted" political confedant The Fadli "Fenomenal" Zon, juga datang memberikan masukan. Secara doi adalah Wakil Ketua DPR bidang Politik Hukun dan HA. Paling spesial Super Duper Mentor Mahaguru Presiden dua periode Pak SBY.

Seluruh input itu datang bersifat masukan langsung diskusi bincang bincang. Dan diakhiri dengan memberikan dokumen tertulis segepok segepok. Semua dibaca oleh Mas Bowo dan Bang Sandi.

Pertemuan pertemuan dilakukan di Kertanegara 4. Rumah Kediaman Orang Tua Mas Bowo, Alm Prof Sumitro Djoyohadikusumo, yang sekarang menjadi semacam central of gravity politik Mas Bowo. Di rumah itu auranya kuat. Aura intelektual, sejarah, dan politik. "Rumah Anak Jaksel". Rumah ini adalah rumah kemenangan Prabowo Sandi.

 

Dari rumah ini Anies Sandi juga diantarkan kemenangannnya di Jakarta. Penuh artefak sejarah, puluhan ribu buku koleksi Prof Mitro alm Bokap Mas Bowo.

Minus tiga hari debat. Mas Bowo dan Bang Sandi mengkosentrasikan diri supaya ga kedistrak hal hal lain di Ibu kota ke pegununugan di Hambalang. Di sana orangnya kembali sama dengan yang sebutkan di atas. Tapi beberapa jubir jubat dan anggota fraksi gerindra di DPR RI diminta memberi masukan dan memberikan pandangan,input, koreksi, dan diskusi. Suasananya penuh nuansa intelektualitas.

Belakangan saya tahu dari Kakaknya Mas Bowo, Ibu Mariani, ya suasana seperti ini, berdiskusi soal urusan urusan orang banyak, tentang negara, tentang republik sudah jadi tradisi keluarga ini sejak mereka semua kanak-kanak. Bahkan Mas Bowo waktu masih remaja sudah terlibat debat soal publik dengan So Hok Gie teman segenerasinya. Soal urusan urusan masyarakat.

Tidak ada tampak konsultan Rusia atau Amerika sampai detik ini. Apalagi zionis zionis. Hehe.

Nah, dalam pertemuan Hambalang itulah kisi-kisi dibahas. Mas Bowo mendiskusikan setiap kisi-kisi itu dengan team yang diundang. Debat. Diskusi. Tajam juga.

Ada anak muda mensaripatikan diskusi tersebut. Namanya Yuza. Dirga Yuza. Si Botak yang menurut meme meme fitnah di medsos antek zionis. Ampun DJ dah.

Yuza adalah anak muda jenius menurut saya. Dia mantan speech writer-nya Mas Bowo, pernah menulis buku tentang nilai nilai pendekar Prabowo Subianto.

Setelah pilpres 2014, Yuza Pamit dari Mas Bowo, untuk sekolah lagi. Tak tanggung-tanggung Yuza lanjut ke Oxford. Mungkin untuk mengobat hati, Yuza belajar lebih tinggi. Pulang dari Oxford, Yuza langsung bergabung dengan McInsey internasional. Itu lho, konsultan top dunia yang super duper prestisius, Nadiem Makariem CEO Gojek juga lulusan kerja di sana.

Setelah itu, akhirnya Ia kembali bergabung menjadi political aidnya Mas Bowo. Kalau di film House of Card, Madame Secretary, or Designated Survivors, Yuza ini sosok anak muda jadi kepercaannya Chief Of staf-lah. Dia melankolik. Geeg. Jenius. Tapi berhati lapang.

Yuza mengkompilasi masukan dr semua tokoh tokoh itu. Membuatnya menjadi ringkas. Enak dibaca. Berstandard tinggi. Kemudian semuanya diselaraskan sesuai dengan sekuens debat yang diberikan KPU. Kemudian menyerahkannya ke Mas Bowo dan Bang Sandi. Mas Bowo dan Bang Sandi mencoret coret lagi ini perlu, ini ngga. Ini cocok ini ga.

Prabowo dan Sandiaga Uno

CALON Presiden dan Wakil Presiden Nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, tertawa renyah disertai joget oleh Sandiaga, Kamis malam, 17 Januari 2019, usai Debat Capres Edisi Perdana.

Oya. Yuza akan diskusi dengan anak muda lainnya Tsamanov. Dia dipercaya Bang Sandi bersama Bang Ari Mufti untuk hal hal konten. Tsamanov ini unik, dia suka masuk media media gosip karena pacaran ama artis. Kalau Mas Arie pentolannya Alumni UI. Alumni UI beneran ya bukan yang dari cibitung.

Yang lucunya, Tsamanov pernah kena fitnah di situs skandal sandiaga, gara gara fitnah itu dia hampir putus ama pacar artisnya. Menurut Fitnah tersebut Tsamanov adalah mastermind dan bandar nya MCA. Muslim Cyber Army. Pertanyaannya: bagaimana mungkin antek zionis versi meme fb Yuza bisa kerjasama ama MCA yang pacaran ama artis ini?

Di sana bisa kita pastikan mereka berdua korban hoax. Saya ga begitu yakin hoax ini dr kubu Pak De Jokowi. Mungkin dr persaingan sesama konsultan internasional atau saingan nya Yuza Manov dulu. Hehe.

Sampai sini. Saya ge ketemu konsultan Rusia dan Amerika dan antek zionis. Hehe.

Ohya, Bang Dahnil. Lupa. Ini dia anak muda lainnya. Ikut terlibat, dan asiknya, kalau bicara ke Mas Bowo blak blakan saja. Saya lihat kalau anak muda kasih masukan, Mas Bowo jawabnya : "ohya, gitu ya" "oke oke". Gitu ya. Dia tampak oleh saya menyerap. Bang Dahnil memberi warna dan nuansa baru.

Dia tokoh muda, Doktor dosen akuntansi. Punya pengikut. Simanjuntak tapi njawani. Sama Mas Bowo dan Bang Sandi dia tanpa beban. Memberi masukan apa adanya saja. Dan ga bisa jilat jilat. Otentik. Ini suatu game changer juga di internal Mas Bowo.

Lantas simulasi dilakukan di Kertanegara. Dibuat podium kloningan. Latihan tuh deh Mas Bowo dan Bang Sandi. Bahkan perkiraan perkiraan Pak De Jokowi dan Pak Iyay Makruf bakal nany apa, kita prediksi. (FYI gaes, semua pertanyaan serangan yang dilakukan oleh Pakde Joko ada dalam list kita dan sudah didiskusikan dengan Mas Bowo, dan team memberikan catatan, jika diserang, maka ini balasan serangan yang mematikan untuk Pak De. Tapi tadi malam kami heran, kok Mas Bowo ga pakai ya. Nanti di part 2 saya ceritakan akhirnya kenapa).

Bergabung dalam simulasi Mba Imelda Sari, Mba Nanik Deyang. Mba Imelda adalah Ketua DPP Demokrat, mantan wartawan yang dipercaya banget oleh Pak SBY dan Bu Ani. Mba Nanik juga demikian, Mba Nanik wartawan senior yang bisa marah marahin mas Bowo. Mas Bowo percaya ama Mba Nanik.

Lain lagi dengan Mba Imelda, senjatanya satu, Pak SBY. Hehe. Jadi apa apa, Mba Imeldalah yang menjadi jembatan ke Pak SBY untuk urusan debat ini. Mba Imelda akan mengupdates ke Pak SBY proses nya. Nanti masukan dari Pak SBY akan disampaikan via Kak Imelda. (Ada masukan masukan. Nah, sampai ini maad ya gaes. Rahasia hehe)

Mereka memberi masukan kepada Mas Bowo dan Bang Sandi.

Mas Bowo iya iya. Bang Sandi Iya iya. Beda ama Pak De yang simulasi di Jakarta Theater yang super duper mahal sewanya itu. (Gaes yang tahu dan pernah makai Jakarta Teatee tahulah berapa bayarnya). Kita simulasi cuma di rumah Mas Bowo di Kertanegara. Paket hemat.

Dari semua proses yang saya lihat. Mas Bowo dan Bang Sandi bener bener pada tahapan final mengolah dan memutuskan sendiri apa yang dia akan omongkan. Semua pada akhirnya hanya memberi masukan. Dirinya sendirilah, yang berdaulat, dan memutuskan akan ngomong apa. Di sini yang saya lihat perbedaaanya. Makanya tak tampak ada text yang dibaca oleh Mas Bowo dan Bang Sandi sepanjang debat. Semua proses dijalanin, untuk memasukkan konten ke dalam fikirannya.

Ada staf, advisor, team. Tapi mereka berdualah akhirnya yang berdaulat. Ngomomong apa yang ada menjadi fikiran dan keresahan jiwanya untuk bangsa dan negara. (Bersambung)

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id