Tim DVI Polda Riau Berhasil Identifikasi Korbam, 2 Asal Pesisir Selatan, 1 Jawa Timur

mayat-di-laut-bengkalis2.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ANDRIAS)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Riau yang melakukan otopsi terhadap 8 jenazah yang ditemukan terombang-ambing di Selat Malaka, tepatnya pada perairan Pulau Bengkalis, telah berhasil mengidentifikasi tiga di antaranya. 

Selain itu, disekujur tubuh mereka sama sekali tak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Ketiga Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut perinciannya, dua berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan satu lagi Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

Kedua korban asal Pesisir Selatan tersebut, pertama, Ujang Chaniago (48) berasal dari Nagari Lubuk Nyiur, IV Koto Mudiek, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Kemudian Mimi Dewi (32) warga Jalan Lansano, Kelurahan Taratak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. 

Terakhir Maya Karina (37) warga Mentikan, RT 020/RW 02, Desa Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

"Untuk para korban yang sudah berhasil teridentifikasi, sudah dibawa oleh keluarganya," ujar Kepala Sub Bidang Pelayanan Medis Kedokteran Kepolisian RS Bhayangkara Polda Riau, Kompol Supriyanto, Senin, 3 Desember 2018. 

Hasil tersebut sejalan dengan informasi diterima RIAUONLINE.CO.ID, menyatakan, sepekan sebelumnya, Rabu, 21 November 2018, ada sebuah perahu yang berlayar dari Malaysia ditumpangi Warga Negara Indonesia (WNI) sejumlah 19 orang. 

Ke-19 orang tersebut terdiri dari anak-anak dan orang dewasa, diduga merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa izin yang hendak pulang ke kampung halamannya di Indonesia.

Di tengah perjalanan, ombak besar dan angin kencang membuat perahu ditumpangi tersebut terhantam, akhirnya karam. Sayangnya, di perahu milik masyarakat tersebut, tak ditemukan pelampung, seperti terlihat dari 8 jenazah ditemukan sama sekali tidak menggunakannya.

Walau sudah membusuk saat ditemukan warga, TIm DVI Polda Riau tetap kesulitan melakukan identifikasi. Pasalnya, sebagian besar sudah membusuk.

"Selain itu, total terdapat 20 petugas DVI dilibatkan dalam identifikasi, juga mengalami kesulitan melakukan proses tersebut, terutama dari sidik jari. Opsi lain digunakan dengan melakukan identifikasi melalui susunan gigi dan DNA," jelasnya. 

Ia menjelaskan, ini merupakah langkah terakhir. Di samping itu, Polda Riau juga menemukan data sekunder antara lain properti dan medis, seperti luka bekas operasi, tato dan lainnya juga diidentifikasi.