Aktual, Independen dan Terpercaya


2017, Mahasiswa Unri Boikot Seminar Radikalisme BNPT di Kampus

BNPT-di-UNRI.jpg
(ISTIMEWA)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Cikal bakal radikalisme teroris di Kampus Universitas Riau, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak setahun silam saat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar kegiatan, Rabu, 12 April 2017, silam. 

Berdasarkan berita RIAUONLINE.CO.ID, berjudul Terungkapnya Benih Radikalisme Di Kampus Saat Kegiatan BNPT Di UR, Rabu, 12 April 2017, ada aksi provokasi dan boikot dilakukan oleh peserta dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK). 

BNPT menggelar kegiatan serupa dengan peserta para aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang berada di 30 provinsi, minus Papua dan Papua Barat. 

Ketika itu, sebagai pembicaranya, BNPT mengundang Yudi Latif, sebelum menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan KH Nazaruddin Umar, Imam Mesjid Istiqlal, Jakarta. 

Dari jumlah tersebut, penolakan terhadap membasmi paham radikal teroris justru terjadi di Riau dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Hasilnya, kegiatan BNPT di Unri ternyata mendapat penolakan dari peserta, mahasiswa yang juga aktivis LDK. Fakta mengejutkan muncul dari kegiatan tersebut dan membutuhkan perhatian serius mengatasinya. 

Dengan meneriakkan kalimat takbir, Allahu Akbar, saat mengawali komentarnya, Cahyono mengatakan kegiatan diselenggarakan BNPT serta Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Riau, sebagai forum pencucian otak mahasiswa.

Dengan nada tinggi, Cahyono mengaku angkatan 2013 di Universitas Riau menyebut Negara sebagai teroris sebenarnya. 

"Sekarang pemerintah mau mensertifikasi khatib Salat Jumat, itu fitnah kepada khatib. Pemerintah juga mengklasifikasi pesantren, ini fitnah kepada pesantren," teriak Cahyono.

Ia juga menyoroti pilihan LDK sebagai objek dilibatkan dalam kegiatan pencegahan terorisme. 

Prof Nazaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar saat menjadi narasumber dalam BNPT Goes to Campus, di Universitas Riau, Rabu, 12 April 2017

"Kenapa LDK yang dilibatkan? Kenapa tidak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa, Red.) dilibatkan? Apakah BNPT menganggap LDK sebagai tempat pembibitan teroris?" lanjutnya dengan nada semakin tinggi.

Di akhir komentarnya, Cahyono mengajak peserta lainnya meninggalkan forum. "Saya tidak bisa lagi mengikuti kegiatan ini, ini forum pencucian otak. Jika teman-teman sependapat dengan apa yang saya sampaikan, mari tinggalkan tempat ini," katanya saraya melangkah meninggalkan lokasi kegiatan. 

Menyikapi komentar pedas dari Cahyono, FKPT Riau mendata jika bersangkutan bukan peserta terdaftar dalam undangan. "Dia tidak registrasi ke kami. Kami juga tidak tahu jika ada peserta seperti itu," kata Sekretaris FKPT Riau, Frida Topo. 

Sementara itu, Kasubdit Kewaspadaan BNPT, Andi Intang Dulung, menyayangkan adanya pernyataan keras dari peserta. Pasalnya, sempat membuat beberapa peserta terprovokasi meninggalkan lokasi, sebelum akhirnya memutuskan kembali mengikuti lanjutan kegiatan. Meski demikian temuan tersebut juga disebut sebagai keberhasilan dalam mencapai target kegiatan.

"Dengan begini kita jadi tahu, bahwa radikalisme dan penguatan paham fundamentalis memang ada dan berkembang di kampus-kampus," ungkap Andi. 

BNPT Minta Rektor Unri Lebih Serius Awasi Radikalisme di Kampus 

Andi Intang menegaskan, adanya temuan di Pekanbaru tidak akan menyurutkan langkah BNPT dalam melaksanakan kegiatan pelibatan LDK. "Ini menjadi evaluasi, bagaimana kegiatan ke depan harus disiapkan lebih matang, sehingga jika ada kejadian serupa bisa segera ditangani," tandasnya. 



Atas temuan tersebut, Andi Intang juga langsung berkoordinasi dengan pihak Rektorat Universitas Riau, agar perhatian lebih serius diberikan terhadap mahasiswa yang terindikasi terpapar paham radikal terorisme. 

"Saya sudah sampaikan ke perwakilan Unri yang hadir, saya minta mahasiswa yang tadi berkomentar keras dipantau dan dibina. Alhamdulillah semuanya sudah dicatat dan akan segera ditangani," pungkasnya

Selain itu, ia juga meminta FKPT sebagai kepanjangan tangan BNPT di daerah untuk meningkatkan perannya dalam hal pendidikan antiterorisme di lingkungan perguruan tinggi. 

Kegiatan Pelibatan LDK dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme dilaksanakan oleh BNPT dengan menggandeng FKPT di daerah. Kegiatan tersebut sudah dan akan dilaksanakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang 2017.