Mengingat Pembantaian Kilat di Ibukota Indragiri Hulu

Peta-Sungai-Rengat-1935.jpg
(Historia.id/KITLV)

RIAU ONLINE - Ketika fajar menyingsing di Rengat, sekitar pukul 06.00 WIB Wasmad Rads prajurit TNI dari Batalyon III, Resimen IV, Divisi IX Banteng Sumatera, berjalan-jalan menyusuri Ibukota Kabupaten Indragiri Hulu itu.

Tiba-tiba sepasang pesawat "bercocor merah" terbang rendah dari arah tenggara kota. Tampak panji triwarna, yakni merah, putih, biru di pesawat penempur sekaligus pembom jenis Mustang P-51 itu. Belanda pun menyerang.

Letnan Muda Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri mengisahkan, bagaimana bom dijatuhkan di jalan-jalan, di alun-alun pasar saat orang-orang berbelanja dan rumah penduduk. Bahkan, mereka yang berdiri di atas tanah tak luput dari tembakan.

Seisi kota dihujani peluru. Sementara dari udara, "Si cocor merah" menerjang markas tentara, pasar, pemukiman penduduk dan basis sipil lainnya.

Hingga menjelang tengah hari serangan udara itu terus berlangsung. Namun, derita rakyat Rengat belum selesai. Sejurus kemudian, tujuh pesawat pengangkut jenis Dakota membawa 180 pasukan khusus Belanda (Korps Speciale Troepen/KST) yang diterjunkan untuk menduduki Rengat.

Pada pukul 11.00, operasi penerjunan dengan sandi “Mud Operation” (Operasi Lumpur) berlangsung dengan titik pendaratan di area rawa-rawa sekitar Kampung Sekip. Pemimpin pasukan Baret Hijau itu adalah Letnan Rudy de Mey yang tak lain kompatriot kepercayaan Kapten Raymond Westerling, mantan komandan KST.

Buku Sejarah Daerah Riau yang diterbitkan Depdikbud tahun 1987, mengungkap dua motif di balik aksi ofensif militer Belanda di Rengat. Pertama, menurut dinas intelijen Belanda (Nefis), kekuatan tentara Indonesia di Indragiri adalah yang terkuat di Riau. Kemudian, daerah Air Molek, sebelah barat Rengat, terdapat pabrik senjata. Beberapa kali, sejak masa agresi militer I, Belanda menyita kapal motor Indonesia yang memuat pasokan senjata dari kawasan itu. Kedua, adanya kilang minyak yang terdapat di desa Lirik, Utara Rengat. Mengingat, mesin-mesin perang Belanda membutuhkan minyak dalam meneruskan penetrasinya ke pedalaman Sumatera.

Para KST telah mendarat di Rengat, dan pertahanan tentara Republik tak sekuat dugaan Nefis. Hal ini berkenaan dengan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (ReRa) angkatan perang pada 1948. 
Namun, menurut Jaap de Moor dalam Westerlings Oorlog, de Mey menghadapi perlawanan sengit di tentara Indonesia yang menciba melarikan diri dari Rengat. Tak hanya kombatan, kontak senjata itu juga memakan korban warga sipil terutama wanita dan anak-anak.

Sementara itu, tim penyusun pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu mengungkap, tentara Belanda dengan seragam loreng-loreng itu memasuki inti kota dalam waktu singkat. Pusat-pusat pemerintahan dikuasai. Pendudukan Rengat diikuti dengan penangkapan dan pembantaian terhadap penduduk.

“Tentara Para menyapu habis segala yang bergerak. Prajurit atau rakyat biasa yang bersembunyi di bawah gorong-gorong atau parit yang digenangi air ditembak habis. Air parit yang berwarna keruh berubah menjadi merah,” tulis tim penyusun dalam Peristiwa 5 Januari 1949 di Kota Rengat Indragiri Riau suntingan Suwardi, melansir Historia.id, Sabtu, 14 April 2018.

Dalam memoarnya, Wasman Rads mengungkapkan, mereka yang tertangkap pasukan Belanda dikumpulkan dan dibariskan di bantaran sungai Indragiri. Kemudian, satu per satu ditembaki dari belakang hingga tercebur ke air. Wasmad sendiri berhasil melarikan diri ke hutan, sebelum akhirnya ditangkap seregu tentara KNIL dan dipenjara hingga pengakuan kedaulatan.

Menjelang sore, penduduk yang tersisa dipaksa membuang mayat-mayat yang berserakan di jalanan kota ke Sungai Indragiri. Sedangkan, pembunuhan sistematis masih berlangsung. Satu orang mengangkat tangan, seorang yang lain mengangkat kaki. Dalam hitungan ketiga, mayat dilempar menyusul kemudian terjangan peluru menyasar kedua orang tersebut dan semuanya masuk ke sungai.

Dalam peristiwa pula, turut pula gugur Tulus, sang Bupati yang merupakan ayah kandung penyair Chairul Anwar. Ia terbunuh saat rumahnya disatroni tentara Belanda. Selain Tulus, Abdul Wahab (wedana), Korengkeng (kepala polisi) dan wakilnya yang bernama Kasim turut tewas dalam pembantaian.

Pukul 16.00, Kota Rengat jatuh ke tangan Belanda. Ibu Miri seorang saksi mata yang kala itu masih bocah menggambarkan petaka di Rengat. Marwoto Saiman dalam laporan penelitian, “Semangat Nasionalisme Rakyat Rengat” di Universitas Riau mencatat kesaksian itu.

“Kota Rengat waktu itu seperti kota mati. Sungai Indragiri berwarna merah akibat darah tentara dan rakyat. Selama dua bulan penduduk tidak mau makan ikan sungai karena menemukan jemari manusia dalam perut ikan,” ungkapnya.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id