BRG Pastikan Karhutla di Riau tak Berada di Area Kawasan Konsen Mereka

Lahan-BRG.jpg
(Azhar Saputra)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG), Haris Gunawan memastikan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang beberapa waktu terakhir menimpa Riau bukan berada di area pantauan mereka.

Beberapa diantaranya ialah karhutla yang menimpa Desa Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kabupaten Kota Dumai dan terakhir berada di lahan gambut Kepulauan Meranti, Desa Lukun, Kecamatan Tebing Tinggi Timur.

"Untuk lokasi interpensi kami yang berada di Desa Lukun dengan karhutla yang terjadi itu jauh. Berjarak 4.2 kilometer dari interpensi kami. Begitu juga di Kota Dumai. Tampak jelas kok," katanya di Coffe Toffe, Rabu, 28 Februari 2018.

Tambahnya bahwa area kosentrasi mereka ditandai dengan telah terpasangnya sekat kanal, sumur bor dan beberapa lainnya seperti embung atau tempat penampung air untuk memudahkan kerja petugas dimana itu semua bentuk dari integrasi pembasahan, penanaman vegetasi dengan memanfaatkan komuditi ramah gambut dan lainnya.

"Kami juga hanya bekerja di ruang kelola masyarakat. Tidak pada perusahaan. Untuk di Riau saja, hampir 30 ribu hektare wilayah konsen kami yang ada di masyarakat. Sementara perusahaan lebih besar. Sekitar 600 ribu hektare," katanya.

Kembali dikatakannya bahwa kerja mereka itu jika dikatakan sukses harus memenuhi unsur pembasahan kembali, revegetasi sampai refitalisasi sumber mata pencahrian masyarakat yang lebih dikenal dengan 3R.

"Itupun jika telah memenuhi ke-tiga unsur tersebut baru kami akan melakukan evaluasi total. Perlu diingat bahwa untuk menyembuhkan gambut itu berarti telah menyembuhkan 1 Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG). Tapi jika tidak sampai menyentuhnya, jangan berani mengklaim bahwa telah sukses menyelamatkan gambut," tegasnya.

"Dari target kita hanya akan konsen dengan 900 ribu hektare kawasan gambut yang ada di Riau. Sementara Riau ini memiliki 5 juta hektare gambut. Suksespun BRG dengan 900 ribu hektarenya kalau yang 4100.000 hektarenya rusak apa bisa kita mengklaim akan sehat semua? Yang jelas kita harus kerja sinergi kalau mau hasilnya cepat," tutupnya.(2)