Aktual, Independen dan Terpercaya


Catatan Akhir Tahun 2017, BRG Berhasil Restorasi 11 Desa di Riau

Kepala-BRG-Nazir-Foead-Lakukan-Eksperimen.jpg
RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA
KEPALA Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, melakukan eksperimen dengan membuang puntung rokok di lahan gambut yang kering, Sabtu, 3 September 2016, di Rantau Bais, Rokan Hilir.

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Jelang penghujung tahun 2017, Badan Restorasi Gambut (BRG) umumkan pencapaian apa saja yang telah mereka raih sejak dibentuk pada tanggal 6 Januari 2016. Salah satu keberhasilannya yaitu, telah memfasilitasi 75 desa dan Kelurahan di tujuh provinsi, sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Presiden RI.

Desa-desa tersebut meliputi 11 desa di Riau, 10 desa di Jambi, 15 Desa di Sumatera Selatan, 16 desa di Kalimantan Barat, 10 desa di Kalimantan Tengah, 10 di Kalimantan Selatan dan 3 desa di Papua.

"Mengakhiri tahun ke dua restorasi gambut, BRG mencatat beberapa capaian dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kami," kata Kepala BRG, Nazir Foead melalui siaran persnya, Kamis, 28 Desember 2017.

Baca juga:

Selain Libatkan Ibu-Ibu, Korporasi Juga Dilibatkan Sukseskan Program BRG Ini ‎

Awali Kunjungan Santai. BRG Sambangi AJI Pekanbaru

Menurutnya tugas BRG lebih dari sekedar hanya membasahi lahan gambut dan menanami kembali sampai ekosistem yang rusak menjadi pulih. Melainkan meliputi pemberdayaan masyarakat yang telah lama hidup berdampingan bersama lahan bergambut.

"Restorasi gambut tidak hanya sekedar membasahai lahan gambut kemudian menanam sampai ekosistem yang rusak menjadi pulih. Tetapi juga soal memperdayakan masyarakat yang hidup di lahan gambut," imbuhnya.

Deputi Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan dari BRG, Alue Dohong menambahkan, upaya untuk merevitalisasi mata pencaharian masyarakat juga telah mereka lakukan dengan maksimal dan berkesinambungan.

"Sampai saat ini, 101 kelompok masyarakat telah dibina untuk mengelola lahan tanpa bakar, pengembangan komoditi lokal, perikanan air tawar, peternakan sampai budidaya lebah madu," tandasnya.

Juga analisa mereka mendapati bahwa sampai saat ini, masyarakat yang melakukan pembakaran terhadap lahan gambut semakin berkurang. Melalui program ini, masyarakat sama-sama sadar bahwa menjaga ekosistem itu begitu penting.

"Selama tahun ini saja, kami telah memfasilitasi pembangunan infrastruktur pembasahan gambut seperti sumur bor, sekat kanal bahkan sampai kepada penimbunan kanal di enam Provinsi dengan total luasan mencapai 200 ribu hektare dengan 103,476 hektare sebagai dampak pembasahan dan 98.978 hektare yang dilakukan oleh mitra kami,"jelasnya.

Kemudian rencana restorasi ekosistem gambut yang telah mereka susun di tujuh Provinsi telah selesai. Juga rencana tindak tahunan dan kesatuan pemetaan hidrologis gambut.

Agar mendukung rencana tersebut, titik pengamatan tinggi muka air lahan gambut telah terpasang dan dapat dipantau secara rela time yang dilakukan di 40 titik.

"Ini penting bagi kami karena dapat mengidentifikasi potensi kebakaran lahan dan hutan,"ucapnya kembali.

Untuk tahun mendatang, tugas mereka ialah melakukan supervisi kepada korporasi dengan total luasan mencapai 1,4 juta hektare di area konsensi dan perkebunan.

"Ini sifatnya komprehensif serta inklusif. Tidak sekedar membasahi namun lebih dari itu. Kami berupaya menjadikan masyarakat sebagai garda terdepan dalam pengelolaan gambut secara bijak dan pencegahan secara dini,"tutup Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A. Safitri.

BRG merupakan Lembaga non struktural yang dibawahi langsung oleh Presiden RI. Lembaga ini bertugas untuk mengkoordinasikan serta memfasilitasi untuk melakukan restorasi gambut di tujuh Provinsi di Indonesia.

Harapannya, mereka mampu memperbaiki kerusakan gambut di lebih dari 2 juta hektare hingga tahun 2020 mendatang.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id