Muluskan Langkah Gus Dur Jadi Presiden, Yusril: Amien Rais Berdusta

Dialog-bersama-Yusril-Ihza.jpg
(Azhar Saputra)
ombudsman

Laporan: HASBULLAN TANJUNG 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ketua Umum Partai Bula Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, menuding mantan Ketua MPR 1999-2004, Amien Rais, sebagai pendusta, saat terjadi proses Pemilihan  Presiden tahun 1999 silam. 

Yusril menceritakan kenangan tersebut usai ditanyakan seorang peserta dalam Dialog Kebangsaan, Selasa, 26 September 2017, di Ballroom Hotel Arya Duta, Pekanbaru, di hadapan ratusan masyarakat dan kader PBB. Penanya tersebut menanyakan, kenapa Yusril Ihza mundur saat proses Pilpres 1999 lalu.

"Di detik akhir Pilpres, saat sudah terjadi kemelut di depan gawang, kok yang harus nendang, malah mundur. Kira-kira apa pertimbangan Bapak waktu itu?," kutipan pertanyaan penanya tersebut. 

Mantan Menteri Hukum dan HAM ini kemudian bercerita, saat pidato pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak MPR, Habibie menggelar rapat di rumahnya.

Baca Juga: 

Kenang Pilpres 1999, Yusril: Habibie Marah, Saya Mundur, Kenapa Tak Kompromi Dengan Megawati

Ditelepon Yusril Ihza, Ramli: Lawan Kita Tiongkok, Bukan Ahok

 

Pada rapat dimulai pukul 01.00 WIB, hadir Ketua Umum PPP Hamzah haz, Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, politisi Ginandjar Kartasasmita,  Marwah Daud Ibrahim, serta Yusril Ihza Mahendra sendiri. 

Yusril mengatakan, kala ia datang di rapat tersebut sedang terjadi perdebatan antara Marwah Daud Ibrahim dan Habibie, karena Habibie menolak menjadi calon presiden. Lalu dipersiapkan strategi alternatif lainnya. 

"Pak Habibie menanyakan satu-satu di antara yang hadir, namun tidak ada bersedia. Akhirnya Pak Habibie memutuskan untuk menunggu kedatangan Ketua Umum PAN, Amien Rais. Namun, ternyata Amien Rais sudah terlanjur memberi dukungan ke Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)," ceritanya.

Saat itu, cerita Yusril, Amien Rais tiba pukul 04.00 WIB. Amien Rais ditanyakan, apakah ia bersedia dicalonkan sebagai presiden. Amien Rais, ketika itu menolak dengan alasan sudah berjanji mengusulkan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. 

Akhirnya, Habibie memberi waktu dua jam kepada Amien Rais untuk memberikan jawaban. Usai itu, Habibie kemudian berangkat untuk Salat Subuh di Istana. 

"Namun, waktu dua jam yang diberikan Habibie kepada Amien Rasi tak terpenuhi. Amien ditunggu-tunggu tak datang kembali ke rumah Habibie. Akhirnya saya putuskan saya maju," cerita Yusril. 

Habibie kemudian memerintahkannya untuk segera ke MPR dengan membawa syarat pendaftaran Calon Presiden untuk mendaftar. Pasalnya, pendaftaran akan ditutup pukul 08.00 WIB.

Yusril sendiri diplot sebagai Presiden dan akan didampingi Panglima ABRI ketika itu, Jenderal Wiranto. Habibie berpendapat Yusril butuh pegangan pendamping seorang militer.

"Saat itu sudah pukul 8, cuma saya sudah melengkapi pendaftaran. Namun, ketika itu ada bisikan-bisikan di depan hingga akhirnya pimpinan rapat, Amien Rais menyatakan, ada tiga calon presiden yang mendaftar dan melengkapi persyarata, Gus Dur, Megawati, dan saya," katanya.

Klik Juga: 

Kumpul Bersama Keluarga Besar Di Pekanbaru, Amien Dan Dahlan Rais Jadi Khatib Idul Fitri

Dengan begitu, resmi sudah ada tiga calon presiden di Pilpres 1999. "Belakangan saya cek ke Setjen, ternyata Amien Rais itu berdusta. Gus Dur dan Megawati waktu tidak lengkap syaratnya. Gus Dur itu kalau di tes kesehatannya, tidak akan lulus, surat berkelakuan baik tidak ada, pun surat tidak terlibat di G30S/PKI. Boleh tanya ke Setjen," ungkapnya.

Yusril mengaku mendapat banyak tekanan luar biasa dan didesak oleh kubu Amien Rais, AM Fatwa, dan lain-lain agar memberi kesempatan kepada Gus Dur memimpin negara ini. 

Akhirnya, Yusril resmi menyatakan mundur dari perebutan kursi RI-1. Yusril menyebutkan alasan lain ia mundur adalah teringat perkataan kakeknya untuk menghindari kekuasaan. "Kakek saya seorang keturunan Sultan. Namun ia tak mau jadi Sultan, lebih memilih jadi ulama, sufi," tuturnya. 

Akhirnya, saat ia memilih mundur dan menceritak hal tersebut ke Habibie, Yusril malah kena semprot. "Lebih baik kompromi sama Megawati. Mega presidennya atau you wakilnya ". Tapi saya tak terpikir sampai disitu pada tahun 1999 itu," ceritanya pilu.

Usai Gus Dur terpilih dan dilantik, Yusril dipanggil oleh tokoh Nahdhlatul Ulama (NU) tersebut, pukul 16.00 WIB. Ia ditawari Gus Dur sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA). 

"Saya jawab, mana bisa Gus. emang Presiden bisa angkat Ketua MA begitu saja. Lalu Gus Dur menawarkan posisi lainnya, sudah Mas Yusril urus hal-hal berkaitan dengan undang-undang saja lah," cerita Yusril kembali. 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id