Aktual, Independen dan Terpercaya


Tangis Pecah Saat Ahli Waris Tan Malaka Baca Riwayat Sang Pahlawan

Prosesi-Pemakaman-Tan-Malaka.jpg
(BBC INDONESIA)
ombudsman

RIAU ONLINE - Prosesi adat pemindahan makam Pahlawan Kemerdekaan Nasional Ibrahim Datuk Tan Malaka diwarnai isak tangis. Tangis para undangan pecah saat Hengky Novaron Tan Malaka, ahli waris Tan Malaka mengurai riwayat singkat sang pahlawan itu.

Riwayat singkat Tan Malaka disebutkan bahwa almarhum meninggal karena dieksekusi teman seperjuangannya akibat perbedaan pandangan, seperti melansir Tribunnews, Rabu, 22 Februari 2017.

Ratusan undangan yang memenuhi areal pemakaman umum Desa Selopangan, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terisak-isak hingga mengucurkan air mata.

Pemindahan makam Tan Malaka ini hanya berlangsung secara simbolis. Tetua adat hanya mengambil sampel tanah dari kuburannya untuk dibawa ke tanah kelahirannya, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Selanjutnya, tanah dari pusara Tan Malaka dibungkus kain kafan untuk kemudian dimasukkan ke dalam peti besi yang diselimuti Bendera Merah Putih. Prosesi adat Minangkabau oleh para tetua adat juga dilakukan sebelum pengambilan tanah. Hal ini dikarenakan Ibahim Datuk Tan Malaka adalah seorang raja di tanah kelahirannya.

Baca Juga: Sesuai Adat, Jasad Tan Malaka Akan Dipindahkan Ke Tanah Minang

Salah satunya adalah prosesi penobatan Hengki Novaron Tan Malaka sebagai raja ke-7. Sedangkan Ibrahim Datuk Tan Malaka adalah raja ke-4. Peralihan prosesi adat ini ada yang terputus karena sebelumnya jejak makam Tan Malaka tidak diketahui.

Makam Tan Malaka baru diketahui setelah penelitian bertahun-tahun yang dilakukan Harry A Poeze dari Belanda. Hasil penelitian Poeze menemukan jejak makam Tan Malaka berada di pemakaman umum Desa Selopanggung. Makam tersebut terletak di desa terpencil yang pernah menjadi markas pejuang gerilya.

Berdasarkan hasil peneliatan Harry A Poze itu, para tetua adat Minangkabau kemudian melakukan prosesi adat. "Hari ini telah ada kesempurnaan prosesi adatnya yang terputus sejak 1948," ungkap Ferizal Ridwan, Wakil Bupati Limapuluh Kota.

Menurut Ferizal, prosesi pemindahan makam Tan Malaka memang tidak memindahkan tulang belulang atau fosil, tapi cukup secara simbolis dengan mengambil tanah sudah memenuhi unsur ketentuan adat. "Unsur tanah ini sudah sempurna dan terwakili," tambahnya.

Klik Juga: Pukulan Batu Talempong Iringi Prosesi Pemakaman Tan Malaka Di Sumbar

Sementara, Hengki Novaron mengaku bersyukur dengan usainya prosesi sakral adat pemindahan gelar soko dari Ibrahim Datuk Tan Malaka ke-4 kepada penerusnya yang ke-7.

"Prosesi ini sudah lama kami tunggu untuk menyelesaikan gelar adat yang sempat tergantung. Kami berterima kasih kepada keluarga kami Pemkab Kediri," jelasnya.

Prosesi adat ini dihadiri rombongan besar dari Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 150 orang. Mereka terdiri tetua adat, ahli waris dan perwakilan masyarakat.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline