Aktual, Independen dan Terpercaya

Naga Hitam, Pesawat Mata-mata CIA Ini Kerap Melintasi Indonesia Tanpa Terdeteksi

U-2-Dragon-Lady-CIA.jpg
(ANGKASA.CO.ID/Lockheed Martin)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE - Pesawat U-2 Dragon Lady yang dikembangkan oleh Lockheed atas permintaan CIA (Central Intelligence Agency) untuk melakukan pengintaian dan pemotretan di atas wilayah Uni Soviet, ternyata sempat mengintai di atas Indonesia.

Pengintaian itu dilakukan sebagai bahan analisa data untuk menekan Belanda dalam perundingan New York saat perebutan Irian. Namun kenyataannya, dokumen-dokumen CIA yang dirilis ke publik lewat Freedom of Information Act (FOIA) menunjukkan bahwa sang naga hitam itu rupanya sangat sering terbang di atas Indonesia.

Dilansir dari Angkasa.co.id, dalam laporannya kepada Direktur CIA tertanggal 25 Juli 2962, Deputi Direktur Riset CIA melaporkan bahwa U-2sudah menjalankan 29 sorti, beberapa laporan lain menyebutkan 30, dan ada yang 31 sorti di atas Indonesia, dalam proyek khusus berkode IDEALIST.

Operasi ini digelar antara 29 Maret hingga 7 Juni 1958, atau tiga tahun setelah penerbangan perdana dan satu tahun sesudah U-2 dinyatakan masuk ke dalam jajaran aktif AU, AS dan CIA.

Baca Juga: Menegangkan, Insiden TNI AU Cegat Pesawat AS Di Atas Pulau Bawean Indonesia

U-2 terbang di atas wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Objek yang difoto meliputi instalasi militer, pelabuhan, rel kereta api, depot logistik, jalan raya, dan pangkalan udara.

Laporan para pilot U-2 yang menjalankan misi di atas Indonesia menyebutkan bahwa tantangan operasi di wilayah Indonesia sangat besar. Bukan karena sistem pertahanan AURI, tantangan besar yang harus mereka hadapi adalah cuaca di Indonesia.

U-2 menimbulkan jejak uap air atau contrail akibat kondisi kelembaban tinggi. Contrail sudah pasti akan terbentuk pada ketinggian di bawah 60 ribu kaki, hingga meninggalkan jejak seperti asap yang bisa dengan mudah terlihat dari bawah. Hal ini ini mengharuskan pilot U-2 untuk terbang lebih tinggi agar tidak dipergoki dari bawah.

Kondisi cuaca Indonesia yang seringkali berawan juga menyebabkan hasil foto objek tidak optimal. Hingga 50 persen foto yang berhasil dikembangkan terhalang oleh awan.

Berdasarkan pengalaman, bulan Agustus dan September dianggap bulan terbaik untuk menjalankan sorti penerbangan. Sebab, kumpulan pada saat itu relatif rendah sehingga sasaran mudah sekali terlihat dari atas.

Pada 1963, aktivitas U-2 meningkat, tepatnya saat Indonesia mulai mengoperasikan pesawat-pesawat dan sistem senjata lain hasil pembelian dari Uni Soviet.

Klik Juga: Ternyata, Pesawat F16 Yang Hebohkan Warga Pekanbaru Hibah Dari Amerika

Amerika Serikat menganggap pembangunan militer dan kedatangan penasihat militer Soviet mengancam keberadaan Australia dan pangkalan AS di Filipina. Sebab itu, CIA diminta untuk menerbangkan kembali U-2 di atas Indonesia karena hasil pengintai satelit mata-mata KH-11 Keyhole dinilai kurang memadai.

CIA tidak pernah membuka lokasi pangkalan aju ini, tetapi diduga ada di Filipina karena memudahkan CIA untuk melakukan penerbangan di Indonesia dan Vietnam sekaligus, yang saat itu juga tengah menghangat.

Hasil pemotretan U-2 dan satelit KH-11 Keyhole atas seluruh instalasi militer Indonesia boleh dikatakan lengkap. Pangkalan Udara Polonia di Medan yang digunakan sebagai staging base untuk operasi konfrontasi Dwikora, Kalijati di Subang, Bogor, Halim, dan Kemayoran di Jakarta yang diisi MiG-17 dan 21 diabadikan dengan jelas oleh kamera yang dibawa U-2.

Iswahyudi Madiun yang merupakan sarang Tu-16 Badger dan pangkalan udara Juanda serta Waru di Jawa Timur yang digunakan sebagai pangkalan pesawat pembom Il-28 Beagle juga tak luput dari pengintaian U-2.

Bahkan, U-2 berhasil memotret seluruh situs rudal S-75/SA-2 Guideline yang mempertahankan Jakarta. Foto tempat pelatihan awak SA-2 AURI di Bandung pun juga dikoleksi lengkap.

Hasil pemotretannya sangat detil, seakan Indonesia ditelanjangi meski sudah dilengkapi dan dipersenjatai dengan Alutsista Blok Timur terbaik saat itu. Tidak hanya mengidentifikasi jumlah peluncur, bahkan titik penempatan radar dan kendaraan pendukungnya pun bisa diidentifikasikan.

AS memang sangat menaruh perhatian pada SA-2 yang saat itu hanya digunakan oleh Mesir dan Indonesia di luar Uni Soviet.

Lihat Juga: Hebat, 7 Pesawat Dan Helikopter Buatan Anak Negeri Ini Jadi Incaran Dunia

Untuk diketahui, U-2 adalah pesawat yang ditenagai mesin GE J73. Bentang sayap yang mencapai 31m membuatnya mampu melayang seperti glider dengan efisiensi tinggi pada ketinggian optimal. Desain ini memampukannya terbang jauh hingga 10.000 km tanpa mengisi bahan bakar

Untuk menerbangkannya, pilot harus berhati-hati dengan terus mengamati indikator karena rentang kecepatan optimal dan stall speed U-2 hanya 10 knot. Sehingga, pilot harus konstan menjaga batas atas kecepatannya.

U-2 juga sangat sukar dikendalikan pada saat mendarat. Bentang sayapnya yang lebar memberikan gaya angkat yang membuatnya susah menyentuh bumi.

Sedangkan kamera pada U-2 disediakan oleh James Baker yang membuat Oblique camera. Kamera itu didesain khusus sehingga U-2 dapat menangkap imaji dari arah samping, tanpa perlu melintas langsung di atas objek yang hendak diintai.

Bahkan, Kamera ini bisa menangkap objek sepanjang 1 meter dari jarak 18 km. Jadi terbayang seberapa hebatnya sistem yang terpasang pada U-2.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline