Pamit Terakhir Jenderal Ahmad Yani ke Ibunda Jelang Subuh Berdarah

Ahmad-Yani1.jpg
(OKEZONE/Randy Wirayudha/Repro Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani)

RIAU ONLINE - Subuh, 1 Oktober 1965, menjadi peristiwa berdarah untuk Menteri/Panglima Angakatan Darat (Menpangad) Letjen Ahmad Yani saat nyawanya direnggut secara paksa oleh gerombolan oknum Pasukan Tjakrabirawa.

Jenderal Yani menjadi satu dari pejabat teras TNI AD kala itu yang jadi korban keganasan Gerakan 30 September (G30S) PKI. Hilangnya sosok sang jenderal menyisakan pedih dan duka yang mendalam bagi istri dan anak-anaknya, Yani terkapar di hadapan mereka, di rumah mereka sendiri di Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat.

Salah satu putri mendiang Jenderal Yani, Amelia Yani, bercerita, sepeninggal sang ayah, ibunya sakit-sakitan dan bolak-balik masuk rumah sakit.

Baca Juga: Misteri Di Balik Surat Sakti Pembuka Jalan Kekuasaan Soerharto

“Beberapa minggu setelah kejadian, Mbah Wongso (Bapak dan Ibu Wongsoredjo), orangtuanya Bapak, datang ke Jakarta, nengok ke rumah. Mereka sempat nginep di kamar Bapak,” imbuhnya, dikutip dari Okezone.com, Rabu, 8 Februari 2017.

Orang tua Jenderal Yani bercerita kepada cucu-cucunya bahwa Jenderal Yani bercerita pada waktu peristiwa subuh 'berdarah' itu, mereka mendapat firasat yang ganjil. Firasat sosok putra mereka, Jenderal Ahmad Yani, datang ke kampung halaman di Rendeng, Purworejo, Jawa Tengah.

Sosok Jenderal Yani menghampiri tempat tidur Ibuda untuk berpamitan. Hal ganjil sekelebat itu tak bertahan lama karena setelah tersadar, Ibu Wongsoredjo melihat bayangan putranya langsung raib.

"Mbah putri bertanya-tanya, ada apa ya (Jenderal) Yani datang berpamitan? Awalnya mereka mengira Bapak (Jenderal Yani) sakit. Tapi kemudian ternyata diketahui bahwa ada kejadian G30S di Jakarta,” sambung Amelia Yani.

Klik Juga: Jenderal Sudirman: Panglima Besar Tak Pernah Sakit, Yang Sakit Sudirman

Sejak datang ke Jakarta, Ayah Jendera Yani sakit-sakitan akibat perih hati yang tak tergambarkan karena kehilangan putra kebanggaan. Semenjak itu pula, sakitnya tak kunjungpulih dan akhirnya pergi menyusul sang anak ke alam baka setahun setelah Jenderal Yani meninggal.

“Kami beberapa kali masih suka mudik ke Rendeng, liburan sekalian menemani Mbah Putri. Rasanya beda ketika sudah enggak ada Bapak (Jenderal Yani),” tandasnya seraya menatap penuh rindu pada salah satu foto Jenderal Yani di museum tersebut.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline