Kepala BNPB Apresiasi Kinerja Tim Satgas Karhutla Riau

Apel-Satgas1.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO)
ombudsman

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei dan Panglima Kodam (Pangdam) I Bukit Barisan, Mayjen TNI Lodewyk Pusung sangat mengapresiasi kinerja dan usaha tim satgas karhutla Riau karena telah berhasil menjadikan Riau bebas asap pada tahun 2016 lalu.

"Saya hormat sama kalian. Karena kerja keras kalian, tahun lalu Riau bebas asap," ungkapnya di di depan tim satgas karhutla usai apel siaga darurat penanggulangan bencana asap akibat karhutla di Riau, Jumat, 3 Februari 2017.

Lodewyk juga memberi evaluasi pada tim satgas berdasarkan kinerja tahun 2016. Menurutnya, tim satgas tak boleh lengah terhadap oknum yang ingin mencoba membakar hutan dan lahan.

Baca Juga: Riau Gelar Apel Tim Satgas Siaga Cegah Bencana Asap

"Mereka itu tahu kalau tim udara tidak beropersi lagi mulai jam 5 sore. Jadi mereka membakar di atas jam 5 itu. Kita tidak boleh lengah dengan mereka-mereka ini. Kalau tim udara sudah meninggalkan lokasi, maka tim darat harus segera masuk dan mengawasi," tegasnya.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Willem Rampangilei juga menegaskan hal yang sama. "Kita harus bisa mempertahankan prestasi tahun 2016 lalu. Jangan sampai lengah. Kunci keberhasilan kita adalah kesatuan komando," ujar Willem.

Willem mengatakan, indikator keberhasilan tim siaga darurat karhutla Riau tahun lalu adalah tidak ditutupnya bandara dan sekolah serta normalnya kehidupan masyarakat.

Klik Juga: Riau Resmi Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla 2017

"Banyak orang yang bertanya mengapa tahun lalu Riau bisa bebas asap. Keberhasilan kita adalah, kita melakukan antisipasi dengan baik, sedini mungkin dengan mendeteksi hotspot dan melakukan pemadaman awal," katanya.

Willem juga menyebut, rawan karhutla di Riau terjadi selama dua semester yaitu di akhir bulan Februari hingga April dan Bulan Juni hingga November.

Willem mencatat, di tahun 2015 silam, kerugian negara akibat karhutla ini mencapai Rp221 trilun. "Angka itu belum termasuk biaya pemadaman kebakaran dan biaya yang tidak bisa diukur dengan uang seperti kesehatan," pungkasnya.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline