Aktual, Independen dan Terpercaya

Lihat, Akses ke Kampung Masyarakat Asli Riau Ini Memprihatinkan

Kampung-Sakai1.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO)

RIAU ONLINE, SIAK - Masyarakat asli Riau yang kini masih eksis adalah Suku Sakai. Di Kabupaten Siak, salah satu kampung yang menjadi tempat tinggal mereka ada di Dusun Batu Bosa, Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas.

Kondisi mereka secara sosial sangat memprihatinkan karena sangat jauh dari lokasi pemukiman yang ramai. Dusun ini secara geografis terkurung oleh kawasan konsesi PT Arara Abadi (APP grup) yang menjadi pemasok bahan baku bubur kertas ke PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) yang juga anak APP grup.

Dari pusat kecamatan, untuk sampai di dusun ini, kendaraan harus terlebih dulu melewati portal penjagaan keamanan perusahaan yang ada di muka kawasan konsesi Arara Abadi.

Kondisi Kampung Sakai

Kondisi kampung yang sangat jauh terisolasi dan terbelakang ketimbang kampung lain di Siak (RIAUONLINE.CO.ID)

"Sebelum masuk kawasan arara itu kita lewat konsesinya Chevron dulu dari jalan besar itu. Jadi bisa dibilang, kita itu dikepung dua perusahaan besar," kata salah seorang Ketua RT, Khaidir, Rabu, 1 Februari 2017.

Baca Juga:  Niat Hati Ingin Lihat Air Terjun, Plt Gubri Terpaksa Lihat Rumah Warga yang Tenggelam

Jika dihitung waktu, mulai dari pusat kecamatan hingga sampai di perkampungan Batu Bosa ini memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Perjalanan melewati jalan berkerikil tanah dengan beberapa titik kubangan air yang licin hingga membuat mobil susah untuk melintas.

Jalan beraspal hanya ketika kendaraan melewati daerah lintas aktivitas kendaraan Chevron dengan jarak tak lebih dari 3 kilometer saja. Sedangkan setengah kilometer jalan di dalam kampung tersebut sudah dilakukan semenisasi beberapa tahun lalu. Namun kondisinya kembali memprihatinkan karena sudah tak lagi baik.

Jalan Kampung SakaiRIAUONLINE.CO.ID/ZUHDY FEBRIYANTO

Jalan beraspal hanya ketika kendaraan melewati daerah lintas aktivitas kendaraan Chevron dengan jarak tak lebih dari 3 kilometer saja.

"Kalau hujan lumpur dan jalan jadi licin. Kalau naik motor wajib terpeleset kalau keluar. Tapi kalau lagi tak hujan, jalannya berdebu minta ampun. Tak ada bagusnya," kata Pak Regar, salah seorang warga pendatang yang juga tinggal di kampung tersebut.

Saat malam, jalanan tersebut sangat gelap gulita. Tak ada satu pun penerangan kecuali dari penerangan kendaraan saja. Lokasi jalan yang sangat sepi membuat kawasan akses menuju kampung Sakai ini sangat berisiko terjadi tindak kejahatan jika ada penduduk yang mengharuskannya keluar kampung.

Klik Juga: Akses Wisata Bono Dan Muara Takus Dibenahi Dengan Rp193 Miliar

Karena hal tersebut, tak banyak warga yang berani keluar pada malam hari. Menurut warga, dulunya akses jalan tersebut sangat rawan dengan tindak perampokan dan perampasan. Namun baru sekitar lima tahun belakangan tak pernah lagi terdengar adanya kasus kejahatan perampasan.

Selain itu, pada malam hari, dusun yang jumlah pemduduknya hanya berkisar 200-an keluarga ini juga tak mendapat akses listrik dari PLN karena jaraknya yang sangat jauh. Apalagi PLN biasanya memperhitungkan keuntungan jangka panjang dari pembangunan akses listrik baru.

Karena hal tersebut para penduduk menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar, yang dihidupkan sejak petang hingga tengah malam ketika mereka hendak tidur.

"Sebagian ada yang numpang aliri listrik dari yang punya mesin. Karena mahal mesinnya. Tiap habis panen atau begaji baru dibayarnya," kata Khaidir.

Lihat Juga: Masyarakat Kaget PT RRL Pasang Patok 18 Tahun Setelah Izin

Tak banyak kepedulian pemerintah pada kampung ini. Meski suku ini termasuk sebagai suku asli Riau. Melihat kondisi kampung yang sangat jauh terisolasi dan terbelakang ketimbang kampung lain di Siak.

Apalagi sejak beberapa tahun belakangan Bupati Siak, Syamsuar menetapkan Perda tentang penetapan kampung adat sebagai upaya pemerintah dalam melestarikan suku dan kampung adat yang ada di Siak.

"Dusun kami ini masuk jadi kampung adat katanya. Tapi kami tak tahu juga. Karena pemerintah tak pernah lihat ke sini dan apa beda adat sama yang tidak," jelas Khaidir.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline