Aktual, Independen dan Terpercaya

Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Yayasan Tunas Bangsa

Plang-Nama-Yayasan-Tunas-Bangsa.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lili Rachmawati, pemilik panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Pekanbaru setelah salah satu penghuni panti itu, Muhammad Ziqli (18 bulan) meninggal secara tidak wajar.

Sejak kasus ini terungkap, terkuak pula ternyata Lili memiliki empat panti. Dua di antaranya merupakan panti asuhan, satu panti lanjut usia dan satu lagi merupakan panti pengidap gangguan jiwa.

Panti asuhan di dua lokasi berbeda itu dihuni oleh 12 orang anak. Panti jompo diisi tiga orang dan panti pengidap gangguan jiwa sebanyak 33 orang. Semuanya sudah dievakuasi ke panti milik Dinas Sosial Provinsi Riau dan Rumah Sakit Jiwa untuk pengidap gangguan jiwa. Namun polisi masih melakukan pencarian, karena kemungkinan ada anak lain yang disembunyikan.

Di balik itu semua, ada fakta-fakta mencengangkan yang terus terungkap sejak Lembaga Perlindungan Anak Riau, Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Riau melakukan inspeksi mendadak. Tabir miris semakin terbuka ketika Polresta Pekanbaru melakukan pengusutan.

Berikut fakta-fakta keberadaan panti asuhan maut Yayasan Tunas Baru yang dilansir dari Liputan6.com.

Baca Juga: Pemilik Panti Asuhan Izinkan Bayi Ziqli Pulang Jika Disediakan Rp 8 Juta

Beroperasi Ilegal

Sejak 2011, izin Yayasan Tunas Bangsa sudah berakhir. Artinya, hingga awal 2017 panti asuhan ini beroperasi secara ilegal dan selalu meminta bantuan dari donatur. Terlihat tumpukan makanan dan minuman dari salah satu ruangan di panti asuhan yang berada di Jalan Lintas Timur Kilometer 13 itu.

Dinas Sosial Provinsi Riau mengatakan sudah tidak mengawasi panti asuhan tersebut sejak izin yayasan mati, sehingga dianggap sudah tak beroperasi lagi.

Terlebih lagi, Dinas Sosial Provinsi Riau mengaku baru punya kewenangan mengawasi panti sosial sejak 2016, sebelumnya dilakukan dinas kabupaten.

"Panti ini ilegal. Sejak izinnya mati tahun 2011, kita menganggap pantinya sudah tak beroperasi lagi. Nyatanya masih beroperasi," kata Fauzi, salah seorang perwakilan Dinas Sosial Riau.

Akibatnya, seorang penghuni panti asuhan itu yang masih berusia 18 bulan mengalami penganiayaan hingga berujung maut. Sementara, puluhan penghini lainnya ditelantarkan dan diperlakukan tak manusiawi.

Klik Juga: Kronologi Penitipan Balita Ziqli Di Panti Asuhan Tunas Bangsa

Kondisi Panti Tunas Bangsa Kotor

Ketua Komnas PA, Seto Mulyadi atau Kak Seto sempat melihat panti asuhan di Kecamatan Tenayanraya, Kota Pekanbaru itu. Ia mengibaratkan panti ini seperti tempat sampah.

"(Seperti) tempat sampah. Makanan dan sampah berserakan di mana-mana, sangat kotor sekali. Ini tidak layak, dan kondisi ini merupakan pelanggaran berat terhadap hak anak," kata Kak Seto usai melihat kondisi panti.

Kak Seto menyebut kondisi panti itu tidak layak dihuni anak-anak, apalagi dijadikan sebagai panti asuhan. Dia prihatin bagaimana kondisi seperti ini bisa dilakukan pengelola dan pemilik panti, Lili Rachmawati.

Dia menyebut tak ada satupun benda yang dikategorikan bersih dan sehat di panti asuhan itu. Mulai tempat bermain anak, kamar mandi, toilet, dapur atau tempat makanan semuanya sangat kotor.

Makanan Bekas Gigitan Tikus dan Kedaluwarsa

LPA Riau dan Dinsos Riua melakukan pengecekan ke panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa pada Jumat, 27 Januari 2017. Selain menemukan kondisi bangunan lembab dan toilet yang masih berserakan sisa kotoran manusia, kedua instansi itu juga kaget melihat ruangan penyimpanan makanan di panti asuhan itu.

Lihat Juga: 12 Balita Diselamatkan Usai Disembunyikan Panti Tunas Bangsa

Bahkan, sebagian besar makanan yang diperuntukkan bagi anak-anak panti asuhan sudah digigit tikus. "Jumlah banyak sekali, memang tidak dihitung satu per satu. Tapi jumlahnya banyak," kata Ketua LPA Riau Esther Mulyani.

Mirisnya lagi, makanan yang tersisa sudah tidak layak konsumsi karena telah kadaluwarsa dan tidak memiliki nilai gizi.

Meski belum ada pernyataan medis apakah makanan ini turut menyebabkan kematian M Ziqli, namun pihak rumah sakit menyatakan korban yang telah tinggal dalam waktu lama di panti asuhan maut itu sempat mengeluarkan cacing dari mulutnya.

"Perut korban mengalami pembesaran hingga dibantu dengan alat pernapasan. Tak lama kemudian, mulut korban keluar cacing. Pasien diduga menderita cacingan," jelas Yuni selaku Kepala Ruang Rawat Anak RSUD Arifin Achmad.

Anak-anak Penghuni Panti Disuruh Mengemis

Pasca panti asuhan Yayasan Tunas Bangsa menjadi sorotan, Lili Rachmawati selaku pemilik yayasan disebut telah menyembunyikan tujuh anak. Setelah ditahan pada Selasa 31 Januari 2017, dia kemudian menyerahkan lima anak melalui suaminya Idang sekitar pukul 19.00 WIB.

Kini, masih ada dua anak yang kabarnya disembunyikan Lili. Meski ia mengaku sudah tidak ada lagi dan telah diserahkan kepada keluarga di Dumai, kepolisian tetap mencarinya.

Kebanyakan anak-anak yang sudah diserahkan Lili berusia tujuh tahun, terdiri dari satu laki-laki dan empat perempuan. Saat dimintai keterangan, anak-anak itu mengaku selama tinggal di panti itu, Lili memaksa mereka untuk mengemis.

Pengakuan anak-anak itu, ada beberapa lokasi yang jadi tempat mengemis. Seperti di beberapa lokasi pusat keramaian di Pekanbaru.

Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Komisaris Bimo Ariyanto dikonfirmasi tak menampik pengakuan anak tersebut. Dia menyebut akan mendalami pengakuan itu sebagai salah satu bukti telah terjadinya eksploitasi anak oleh Lili sebagai pemilik panti asuhan maut.

"Nanti akan didalami lagi dengan memeriksa saksi lainnya, dari pihak panti dan warga sekitar," kata Bimo.

Pengakuan Soal 6 Anak Tewas Dikubur di Kamar

Sebanyak sembilan saksi sudah diperiksa penyidik Polresta Pekanbaru. Jumlah ini diluar Lili sebagai pemilik Yayasan Tunas Bangsa.

Salah seorang saksi mengaku sudah ada enam anak yang tewas di panti tersebut dan dikubur di dalam salah satu kamar yang ada di panti.

Penyidik kemudian langsung membongkar salah satu ruangan di kamar dengan kedalaman 1x1 meter. Namun, sejauh ini tidak ditemukan adanya tengkorak atau tulang belulang dalam ruangan rahasia tersebut di panti asuhan Yayasan Tunsa Bangsa.

"Ada saksi yang menyebut sudah ada enam anak yang meninggal di sana, ini akan didalami," kata Kasat Reskrim Bimo Ariyanto.

Meski nantinya ditemukan tulang belulang di lokasi panti asuhan itu atau jika memang kesaksian itu benar, menurut Bimo, akan sulit mengungkap penyebab kematian mereka.

"Kalau itu tergolong sulit karena harus mundur ke belakang, dengan rentan waktu yang sudah lama. Namun, akan tetap dijadikan bukti nantinya, jika pengakuan saksi itu benar," sebut Bimo.

'Penjara' Panti Jompo dan Gangguan Jiwa

Yayasan Tunas Bangsa milik Lili juga memiliki panti jompo dan pengidap gangguan jiwa di Jalan Cendrawasih dan Jalan Lintas Timur Kilometer 20 Pekanbaru.

Tiga anak sempat dilarikan Lili ke lokasi ini dari panti asuhan. Itu dilakukan setelah dua anak diambil penyidik Polresta Pekanbaru usai penyegelan panti asuhan di Kecamatan Tenayan Raya itu, Jumat 27 Januari 2017 malam.

Panti jompo dan pengidap gangguan jiwa ini letaknya memang jauh dari pemukiman warga. Tembok dibuat tinggi, dilengkapi dengan pagar dan terali besi. Di dalamnya, terdapat sebuah lapangan yang sudah ditumbuhi rumput tak terurus dengan bangunan panjang yang saling berhadapan.

Bangunan panjang itu dilengkapi dengan pintu dan jendela yang terbuat dari besi seperti sel. Di sanalah penghuninya dikunci dari luar dengan tempat tidur seadanya terbuat dari kayu.

Lalu terdapat kamar mandi yang tak dibatasi antara toilet dengan ruangan tidur. Kondisi lembab menimbulkan bau yang menyengat dan tak sehat. Kondisinya sungguh tak ubahnya penjara.

Terdapat 33 penghuni di panti itu, terdiri dari pengidap gangguan jiwa dan tiga orang jompo. Semuanya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Jiwa Tampan dan panti sosial milik Dinas Sosial Riau.

Sementara tiga anak yang ditemukan di sana sudah dibawa ke panti sosial milik Dinas Sosial untuk pemulihan. Kondisi mereka tertekan dan mengalami trauma diduga akibat kekerasan selama tinggal di panti asuhan itu.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline