Aktual, Independen dan Terpercaya

Kehidupan Mereka yang Disebut Gila di Balik Yayasan Tunas Bangsa

Orang-Sakit-Jiwa-di-Yayasan-Tunas-Bangsa.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Perhatikan dengan seksama mural ini. Begitu detail ukirannya yang sengaja dibuat oleh senimannya. Dari angka-angka, huruf-huruf kental sekali dengan nuansa seninya. Lokasi pembuatannya tepat pada Jalan Lintas Timur KM 20 berada persis pada Jalan Berkah, Hang Tuah Ujung.

Seni ukir ini adalah karya penghuni panti dan dibuat di atas lahan milik Yayasan Tunas Bangsa khusus membidangi orang gila dan jompo yang saat ini sudah disegel dan pasiennya sudah dievakuasi ke tempat yang lebih baik.

Pantauan RIAUONLINE.CO.ID, enam dari 10 kamar khusus bagi orang gila yang ada di yayasan abal-abal ini dihiasi seni pahatan tersebut. Menakjubkan memang. Bagaimana mungkin orang yang dicap tidak waras oleh keluarga dan mencampakkan mereka ke lokasi ini bisa membuat seni pahatan ini.

Menurut pengakuan dari salah satu pasien yang masih bisa diajak berbicara dan mengerti, Andi. Dirinya dikirim ke panti ini sejak 10 tahun yang lalu oleh orang tuanya dengan imbalan Rp 45 juta untuk setiap tahunnya.

Baca Juga: Yayasan Tunas Bangsa, Tampung Orang Gila Tapi Tak Dirawat

Orang tua mana yang tega memperlakukan anaknya seperti ini. Barangkali karena malu pada keluarga dan tetangga lalu dengan sejumlah rupiah yang diserahkan kepada pemilik yayasan ini yang kini tengah menjadi buronan Polisi, Lili, mereka rela menyerahkan anggota keluarga begitu saja.

Penghuni Panti Yayasan TunasKondisi kamar berhias mural yang dihuni pasien sakit jiwa di Yayasan Tunas Bangsa. (RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)

Mungkinkah mereka sengaja dibiarkan makin depresi demi pundi-pundi rupiah yang setiap tahun mengalir ke kantong yayasan yang sama sekali tidak memberikan perawatan penanganan yang baik untuk penyembuhan para pasien yang menghuni kamar dengan kondisi sama sekali jauh dari kata layak.

Bayangkan saja, tepat di depan tiap-tiap pintu kamar mereka terdapat satu buah drum yang berisikan air hujan. Mengapa dikatakan tempat penampungan air hujan. Karena drum-drum tersebut letaknya persis berada di bawah ujung atap yang terbuat seng. Jika airnya jatuh, dipastikan akan berada tepat di tampungan hujan. Sementara untuk kondisi airnya keruh dan berbau.

Klik Juga: Panti Tunas Bangsa Ditutup, 19 Penghuni Dievakuasi

Begitu juga dengan ember yang menggantung pada tiap-tiap pintu sel mereka. Ember yang sudah diisikan air dari drum penampungan air tadi rupanya dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Air itu bagi pasien dipergunakan untuk mandi, cuci, kakus (mck) makan dan minum. Ditambah lagi dengan kloset yang tepat berada di bawah pintu trali besi.‎

Apakah kondisi seperti itu mampu membuat pasien yang katanya tidak waras dapat pulih dan sembuh. Jauh dari kata tidak.

"Di sini kehidupannya sangat tidak layak. Air minum bersama wc satu kamar, tidak bersih, makan tidak teratur, gizi buruk dan ada dari mereka sempat mengatakan ingin keluar, menyedihkan sekali," kata Kepala Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Riau,Ester Yuliani, Minggu, 29 Januari 2016.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline