Aktual, Independen dan Terpercaya

Pukulan Batu Talempong Iringi Prosesi Pemakaman Tan Malaka di Sumbar

Prosesi-Pemakaman-Tan-Malaka.jpg
(BBC INDONESIA)

RIAU ONLINE - Pelepasan delegasi ke Kediri melalui pemukulan batu alam cagar budaya "Batu Talempong" di kawasan Talang Anau, sekitar 50 kilometer dari lokasi Rumah Tan Malaka, menandai dimulainya prosesi pemakaman Tan Malaka.

Melalui pemukulan Batu Talempong, masyarakat berkumpul untuk menjadi bagian sejarah dalam proses pemindahan makam Tan Malaka. Menurut budaya warga sekitar, prosesi itu disebut 'malewakan ka nan rami menyerak ka nan banyak'.

Sejumlah delegasi akan dikirim ke Kediri Jawa Timur untuk menjemput jenazah Tan Malaka yang dimakamkan di sana. Makam Ibrahim Datuk Tan Malaka akan dipindahkan dari Kediri Jawa Timur ke Kampung halamannya di Nagari Pandam Gadang Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota-Sumatra barat.

Menurut Wali Nagari Pandam Gadang, Khairul Apit, pemindahan makam Tan Malaka sangat penting untuk meluruskan sejarah tentang sang Pahlawan yang selama ini ""dikaburkan".

"Ada beberapa pihak yang sengaja memplesetkan perjuangan-perjuangan Tan Malaka, dan mengaitkan beliau dengan golongan kiri atau komunis. Tan Malaka itu tidak seperti yang dibayangkan orang," kata Apit, dikutip dari BBC Indonesia, Sabtu, 21 Januari 2017.

Harapannya, dengan dipindahkannya makam Tan Malaka generasi muda di daerahnya dapat lebih mengenal perjuangan Tan Malaka dan memotivasi kembali semangat nasionalisme pemuda Sumbar.

Apit bercerita, Tan Malaka telah menyumbang tanah dan telah membangun masjid, yang letaknya tak jauh dari Rumah Tan Malaka. Tan Malaka, lanjutnya, berangkat meninggalkan kampung dengan pamahaman agamanya yang kuat.

"Selain itu, Tan Malaka punya kecerdasan, keberanian. Salah satu silat bela diri Minang itu juga dikuasainya. Percaya diri itu yang membuat beliau bisa kemana-mana secara leluasa," sambung Khairul Apit.

Sebelumnya, makam Tan Malaka tidak diketahui secara pasti. Diduga, pahlawan yang ditembak mati oleh kesatuan Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 21 Februari 1949 itu dikuburkan di Kediri.

Pada 2009 lalu, tim forensik yang didukung keluarga Tan Malaka telah selesai menggali kuburan yang diduga berisi jenazah Tan Malaka di pemakaman umum di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri.

Penggalian dilakukan setelah penelitian dari sejarawan Belanda Hary Poeze selama bertahun-tahun terhadap tokoh komunis asal Sumbar itu.

Sebelumnya keluarga sempat meminta agar jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebagai penghormatan atas jasanya.

Menurut sejarahwan Asvi Warman Adam, pemerintah Indonesia telah menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada 1963, tetapi "sejak 1965 namanya tidak ada lagi, meski gelarnya tidak pernah dicabut."

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline