Ngeri, di Sini Akan Ada Tugu Kuntilanak Setinggi 100 Meter

Meme-Tugu-Kuntilanak.jpg
(KALBAR PROKAL/FACEBOOK DENY DENY)

RIAU ONLINE - Kuntilanak selalu dianggap sebagai makhluk halus yang menakutkan. Tapi tidak bagi Kartius, yang merupakan seorang Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat (Kalbar). Kartius bahkan beranggapan bahwa sosok hantu perempuan berambut panjang itu layak jadi salah satu landmark di ibukota Kalbar.

Kartius menggagas sebuah rencana mendirikan sebuah menara kuntilanak setinggi 100 meter. Menurutnya, menara itu akan membantu wisatawan yang ingin melihat Kota Pontianak dari atas.

"Jadi wisatawan bisa melihat Kota Pontianak dari atas, tidak perlu keliling-keliling,” katanya, dikutip dari Kalbar Prokal.co, Kamis, 19 Januari 2017.

Rencananya, tugu kuntilanak itu akan dibangun di tepian Sungai Kapuas, dekat Jembatan Kapusa I. Kartius mengaku banyak mendapat dukungan dari pihak pariwisata Kalbar.

"Saya kasi tahu ya. Saya di pariwisata, banyak orang mendukung, luar biasa," ungkapnya.

Baca Juga: Lihat, Penjara Ini Jadi Rumah Untuk Para Pengungsi

Mantan Kepala BKD Kalbar itu menegaskan, dirinya tidak mempermasalahkan jika ada pihak-pihak yang tidak menyetujui dan menolak idenya. "Kita berpikir kreatif dibilang gila, dibilang syirik," ucapnya

Bahkan ia tidak mempersoalkan jika ada yang mengkritiknya. Baginya kritikan membuat idenya semakin membuncah. Menurutnya, Birokrasi harus mampu berinovasi dan kreatif untuk melakukan terobosan agar kesejahteraan rakyat meningkat.

"Pro dan kontra biasa dalam hidup. Kalau tidak ada pro dan kontra itu tempayan. Kalau takut dikritik jadi tempayan saja. Birokrasi harus mampu inovasi dan kreatif untuk melakukan terobosan supaya kesejahteraan rakyat meningkat. Jangan dianggap enteng," tukas dia.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menanggapi dingin rencana Kartius tersebut. “Ka’ati (suka-suka) die lah, saye tak ngurus itu, terserah jak,” ujar Sutarmidji.

Sebelumnya, Sutarmidji bahkan sempat menulis tanggapannya terkait rencana pembangunan tugu kuntilanak itu di Facebook-nya.

Klik Juga: Ngeri, TNI Ini Bengong Saat Anggota GAM Kebal Peluru Dan Hidup Usai Dikubur

“Ada yang ingin bangun patung KUNTILANAK, saya terus terang aja dari dulu mikir nih, gimana modelnya ya, soalnya saya belum pernah ketemu, terus kalau dibuat lalu ada yang mirip dengan patung yang dibuat kan bisa marah dia nya atau kuntilanak malah protes nantinya,” tulisnya.

Ia bahkan mengajak masyarakat untuk memberikan masukan atau pandangan terkait wacana Disporpar Kalbar tersebut.

“Ayo ada yang punya ide atau pandangan tentang wacana dinas Disporapariwisata propinsi yang ingin buat patung Kuntilanak. Atau ada yang pernah liat atau punya gambaran Kuntilanak, tapi kalau yangg merasa mirip jangan koment di sini ye... he he he,” kelakarnya di halaman Facebook Bang Midji.

Dan, penolakan mencuat dari para netizen. Beberapa hari ini, berita Rakyat Kalbar berjudul “Kartius Bersikukuh Bangun Tugu Kuntilanak” menjadi salah satu trending topic di jagad maya masyarakat Pontianak.

Seorang penggiat IT, Hayon Mahdy Mahmudian sempat menanggapi rencana tersebut. Menurutnya, saat ini bangunan tertinggi di Pontianak adalah Hotel Hariss dengan ketinggian yang tidak mencapai 50 meter.

“Bangunan bukan gedung tertinggi di Pontianak itu tower TVRI dan tower RRI, itu saja masih di bawah 50 meter juga. Tugu Kuntilanak ini 100 meter tingginya dan posisinya di samping jembatan Kapuas I. Kasian orang yang lewat dari luar kota langsung sawan kalau turun dari sisi satunye jembatan. Sawan die ada kuntilanak besak,” tulis Hajon di laman Facebook-nya.

Lihat Juga: Tersulit Di Dunia, Bisakah Anda Menyebut Nama Anggota Keluarga Ini?

Ia juga mencoba menggambarkan bentuk tugu kuntilanak itu ketika sudah jadi. Dalam gambarnya, tampak sesosok wanita dengan rambut panjang hitam menjuntai di depan menutupi wajah, berdiri di sebuah bangunan yang menyerupai dasar Patung Liberty di AS.

Netizen lainnya, Denia Kurnia Abdussamad, mempertanyakan dari mana datangnya ide tugu kuntilanak itu. “Sungguh gagal faham saya darimana ide pendirian Patung Kuntilanak itu bisa mengemuka, dimana letak edukasinya? Dan akan seperti apa bentuknya? Bagaimana studi literasinya?” tanya dia.

Menurut Mantan Putri Pariwisata Kalbar dan Miss Indonesia Kalbar itu, Kota Pontianak memiliki banyak ikon yang lebih layak dijadikan landmark baru Kota Pontianak.

Namun, tampaknya versi mistis lebih populer meski ada banyak versi lainnya. Salah satunya, menurut Denia, adalah berasal dari kata Pontien yang berarti perhentian atau tempat persinggahan. Karena Pontianak merupakan delta pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

“Pontianak berasal dari kata Pintu Anak. Pintu Anak yang dimaksud adalah pintu dari dua anak sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak,” jelasnya.

Denia mengaku hati kecilnya kerap memprotes terkait asal muasal Pontianak yang sering dihubungkan dengan hal mistis. Ia meminta kepada Pemerintah Provinsi Kalbar untuk tidak usah bersikeras jika rencana tersebut akan mendapat penolakan dari masyarakat.

“Pendirian patung itu memang menggunakan lahan Prov (Kalbar,red) dan dana APBD Prov. Tetapi itu tetap uang rakyat, Pak. Tak ada untungnya pula buat anda secara politis, percayalah, melunaklah,” tutupnya.

Penolakan juga datang dari anggota DPRD Kota Pontianak. Dalam waktu dekat rencananya, DPRD Kota Pontianak akan melakukan koordinasi dengan DPRD Provinsi Kalbar untuk memanggil Kartius.

"Kita tidak bisa langsung memanggil kepala dinas provinsi ya, tapi kita akan koordinasi kepasa DPRD Provinsi Kalbar, khususnya Dapil Kota Pontianak untuk memanggilnya," ujar Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Alwi Almuttahar

Menurutnya, persoalan itu menjadi serius ketika rencana pembangunannya dilakukan di "halaman rumah" Kota Pontianak. Alwi juga mempertanyakan dasar pemilihan tugu kuntilanak tersebut.

"Memandangnya dari sisi mana? Kalau dari sisi sejarah, lebih baik membangun replika burung garuda, untuk mengenang Sultan Hamid II. Bisa kita sosisialisasikan ke seluruh Indonesia, ke semua, bahwa lambang negara ini orang Kalbar yang bikin," kata dia.

Meski ide itu berdasarkan pertimbangan serapan PAD dari sisi pariwisata. Namun Alwi beranggapan, bahwa ide itu kurang etis dan justru akan menakut-nakuti masyarakat dan akan merusak citra Kota Pontianak.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline