Aktual, Independen dan Terpercaya


Begini Kronologi Ulama Riau Tengku Zulkarnain Dihadang Pasukan Dayak

KH-Tengku-Zulkarnain-Dihadang-Dayak-Sintang.jpg
(INTERNET)
ombudsman

RIAU ONLINE - Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain membeberkan insiden penghadangan terhadap dirinya oleh sejumlah warga adat Dayak di Bandara Susilo Sintang, Kalimatan Barat.

Tengku menyebutkan sedikitnya ada 30 orang berpakaian adat Dayat yang menghadangnya. Saat muncul di depan pintu pesawat ia mengaku diserbu warga.

“Saya tak turun dari pesawat. Mereka menghunuskan mandau (golok), saya diserbu saat muncul di depan pintu,” ujar Tengku, dikutip dari Tempo.co, Jumat, 13 Januari 2017.

Sekelompok orang itu, menurut Tengku, merupakan Dewan Adat Dayak yang sudah berbaris menunggu pesawat yang mendarat sambil membawa spanduk berisi penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI).

Baca Juga: Ulama Riau Tengku Zulkarnain Dihadang Pasukan Dayak Di Kalbar

“Spanduknya dicetak rapi, tak mungkin spontan. Isinya menolak FPI, saya kan bukan FPI, saya (dari) MUI," katanya.

Tengku mengaku sempat shock dengan insiden tersebut. “Golok itu sampai di depan kaki saya, kalau bukan karena ada dua orang polisi, bisa kena,” ujar Tengku

Saat itu, kata Tengku, pramugari sempat menutup pintu pesawat karena penghadangan tersebut. Kemudian, pihak maskapai juga sempat menaikkan sejumlah penumpang baru ke dalam pesawat.

“Saya kembali lagi ke Pontianak. Kondisi saya baik, tapi saya bingung ada kejadian (penolakan) begini," ungkapnya.

Kedatangan Tengku ke kabupaten tersebut untuk memenuhi undangan Bupati Sintang dalam rangka peringatan Maulid Nabi. Ia datang bersama anaknya, Lukman Hakim dan seorang ustad lainnya.

Klik Juga: Rizieq Shihab Khatib Salat Jumat Dan Jokowi Jadi Makmumny

“Saya diundang bupati, mau beri ceramah di Masjid Agung. Ada juga agenda pelantikan cabang Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI),” tuturnya.

Terkait insiden itu, Tengku mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi. Menurutnya, Menurutnya butuh kedewasaan pada masyarakat agar tak terjadi perpecaha.

“Lagipula bukan semua orang Kalimantan yang menolak. Saya sudah sejak 15 tahun lalu dakwah, sudah berkali-kali keliling Kalimantan, tak ada masalah," kata dia.

Kepala Bidang Humas Polda Kalbar, Komisaris Besar Suhadi SW mengatakan bahwa penolakan itu adalah bentuk kesalahpahaman. Polisi juga mengimbau semua pihak agar tidak terprovokasi.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline