Aktual, Independen dan Terpercaya

Catatan Panas Dingin Hubungan Indonesia-Australia

Komando-Pasukan-Khusus-Kopassus.jpg
(GETTY IMAGES)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE - Hubungan Indonesia dan Australia kembali menghangat sejak TNI memutuskan untuk menghentikan kerja sama militer dengan Autralian Defence Force (Angkatan Bersenjata Australia) pada pertengahan Desember 2016.

Pemutusan kerja sama itu terjadi menyusul temuan adanya materi pelajaran yang melecehkan ideologi Pancasila. Sebab itu, Australia dianggap telah menghina Indonesia.

Peristiwa panas-dingin ini bukan yang pertama kali. Pada 2015 Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop menunjukkan sikapnya terhadap penolakan grasi dan hukuman mati atas terdakwa kasus narkoba Andrew Chan dan Myuran Sukuran. Bishop bersikeras, bahkan mengumpulkan dukungan anggota parlemen untuk menekan Indonesia.

Alhasil, Duta Besar Paul Grigson ditarik pulang. Australia juga pernah mengancam akan menghentikan kerjasama militer termasuk menghentikan hibah pesawat Hercules. Pada tahun yang sama, tepatnya Juni 2015, aparat Australia menyuap kru kapal yang membawa 65 pencari suaka berbagai negara agar kembali ke peraiaran Indonesia.

Baca Juga: Hina Pancasila, Jenderal Gatot Putuskan Kerjasama Dengan Militer Australia

Di awal Juni 2015, militer Australia pernah meminta agar senapan SS-2 V4 dan pistol G-2 buatan pindad Indonesia dibongkar setelah para prajurit TNI menang telaj dalam kejuaraan menembak di negeri Kanguru itu, seperti dilansir dari detik.com.

Kemudian dua tahun sebelumnya, November 2013, Indonesia memanggil pulang Dubes Najib Riphat terkait isu penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dilakukan intelijen Australia.

Isu itu timbul setelah Wikileaks membocorkan informasi bahwa telah terjadi penyadapan Australia kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan Ani Yudhoyono dan pejabat lainnya. Pemerintah Australia juga memberlakukan Undang-Undang yang memungkinkan mengirim kembali imigran gelap ke Australia melalui perairan Indonesia.

Satu tahun berikutnya, Agustus 2014, Indonesia dan Australia menandatangani perjanjian keamanan baru untuk memperbaiki hubungan yang sempat merenggang akibat dugaan penyadapan tersebut.

Klik Juga: Jenderal Gatot: Australia Plesetkan Pancasila Jadi Pancagila

 

Jauh sebelum itu, referendum Timor Timur dan pemberian suaka kepada warga Papua yang tidak sedang dalam pengejaran aparat pada 2006 silam membuat hubungan Indonesia dan Australia sempat tegang.

Selain itu, dilansir dari Tempo.co, mengenai kebijakan Australia menyetop ekspor sapi ke Indonesia pada 2011 karena menganggap terjadi penyiksaan sapi di tempat pemotongan hewan di Indonesia, juga membuat masalah.

Hubungan Indonesia dan Australia bahkan menjadi hasil penelitan The Australian-Indonesia Center (AIC) yang dirilis pada 15 Agustus 2016 lalu. Penelitian tersebut mengungkap penilaian negatif dari warga Australia terhadap Indonesia dalam hal hidup bertetangga.

Sementara, 43 persen warga Australia menyatakan sepenuhnya bahwa hidup bertetangga dengan Indonesia menyenangkan, termasuk 6 persen yang memilih sangat menyenangkan.

Meski demikian kerja sama erat terus dijalankan dua negara ini dalam bidang pendidikan dan perdagangan. Sepanjang tahun lalu, jumlah mahasiswa Indonesia di Australia naik 7,9 persen dari 17.884 menjadi 19.300 mahasiswa. UNESCO menyebutkan 24 persen mahasiswa Indonesia di mancanegara menuntut ilmu di Australia, lebih banyak daripada di Amerika atau Eropa.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline