Aktual, Independen dan Terpercaya

Kicauan Provokatif Mahasiswa UIN Suska Hingga Laporan Polisi

status-facebook.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Polemik dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (Fekonsos UIN Suska) Riau, bernama Muammar Khadafi kepada seorang mahasiswanya, Ikhwansyah masih terus berlanjut.

 

Muammar dilaporkan oleh yang bersangkutan ke Mapolsek Tampan ditemani Wakil Dekan III, Mahmuzar bersama beberapa orang lain usai keributan yang terjadi di gedung Pusat Kegiatan Muhammadiyah (PKM) UIN terjadi pada Rabu, 21 Desember 2016.

 

"Ketika lonceng keadilan itu tidak ada di tempat kita, jangan salahkan orang yang cari ke tempat lain," begitu kata Mahmuzar dalam akun facebook pribadinya ketika mendampingi Ikhwansyah ke Mapolsek Tampan.

 

Menurut pengakuan Ikhwansyah yang dilansir dari gagasanonline.com, dibawa ke mobil menuju gedung Fekonsos secara paksa. Kemudian ia dibawa ke sebuah ruangan dengan kondisi tangan yang masih dipegang Muammar. Saat memasuki ruangan itulah Ikhwan sempat merasakan kakinya ditendang oleh Muammar yang dijadikan bahan fisum di rumah sakit Bhayangkara.

Baca Juga: Mahasiswa UIN Ini Diancam Dibunuh Pengurus Organisasi Kepemudaan

 

“Di dalam ruangan itu saya dibentak-bentak. Setelah lima menit, Pak Mahmuzar datang dan mereka baru tenang,” jelas Ikhwan dari gagasanonline.com.

 

Usai dilaporkan, pada hari yang sama Muammar bersama beberapa dosen lain mendatangi Mapolresta Pekanbaru. Kali ini tujuannya bukan melakukan laporan balik kepada si mahasiswa. Melainkan ingin memberikan klarifikasi langsung kepada pihak kepolisian tentang kronologi kejadian yang sesungguhnya kepada pihak kepolisian.

 

"Kita sama sekali tak melaporkan balik Ikhwansyah kepada pihak kepolisian meski apa yang dilakukannya sudah di luar batas etika seorang mahasiswa yang melakukan fitnah besar di status facebooknya hari rabu kemarin," kata Muammar ketika ditemui usai menghadap pihak rektor untuk memberikan klarifikasi.

 

Baik Muammar maupun Ikhwansyah memiliki kesaksian yang berbeda mengenai dugaan penganiayaan terhadap Ikhwansyah. Muammar meyakini dirinya tak melakukan penganiayaan apapun, selain menarik kerah baju Ikhwansyah karena kekesalannya akibat ulah provokatifnya.

 

Begitu juga Ikhwansyah menegaskan bahwa dirinya merasakan kakinya ditendang oleh Muammar jelang masuk ruangan dekanat untuk dimintai keterangan. Keyakinannya itu, ia buktikan dengan melakukan visum di RS Bhayangkara. Namun bukti visum bisa saja menunjukkan ketiadaan bukti adanya kekerasan.

Klik Juga: 2 Mahasiswa UIN Suska Tewas Tenggelam di Laut Rupat

 

Ketika RIAUONLINE.CO.ID melakukan penelusuran pada para saksi mata yang melihat jelas seluruh kejadian, ternyata tak satupun saksi melihat adanya kekerasan fisik yang dilakukan Muammar kepada Ikhwansyah.

 

Ridho Tri Aribowo dan Hasbikhul Khairi, dua mahasiswa yang menjadi saksi mata, langsung melihat bagaimana Muammar hendak meninju wajah Ikhwansyah karena kekesalannya. Namun hal tersebut urung dilakukan karena terlebih dulu dilerai oleh Ridho serta dosen lainnya yang ketika itu di gedung PKM.

 

Pemberitaan yang selama ini muncul di media daring lainnya adalah Muammar bukan hanya melakukan pemukulan, melainkan juga penyeretan, pencekikan hingga penendangan kepada Ikhwansyah.

 

"Saya bisa memastikan bahwa ketika di PKM, Pak Muammar sama sekali tak melakukan kekerasan kepada Ikhwansyah. Waktu itu memang Pak Muammar sudah menarik kerah bajunya dan sudah mengepalkan tangannya. Tapi tak sampai dipukul," ujar Hasbie ketika ditemui.

 

Dari PKM, Ikhwansyah dibawa ke gedung Fekonsos untuk dimintai keterangan oleh para pimpinan fakultas tersebut. Namun Dekan Fekonsos UIN, Mahendra Romus ketika itu tak hadir di sana karena berada di gedung PKM bersama pengurus BEM Fekonsos yang menyelenggrakan Coffee Morning.

 

Lalu, sesampainya di gedung fakultas, Muammar membawa Ikhwansyah dengan memegang erat tangannya. Ia dibawa ke sebuah ruangan salah satu dosen yang di dalamnya sudah menunggu beberapa dosen lain yang hendak mengetahui keterangan langsung dari Ikhwan.

Lihat Juga: Dua Mahasiswa UIN Suska Jadi Korban

 

"Sama sekali tak ada pemukulan atau penendangan atau kekerasan lainnya seperti yang dituduhkan oleh Ikhwan dan Pak Mahmuzar selaku WD III oleh Muammar. Saya terus mendampingi mereka dari PKM sampai masuk ruangan dosen," kata Muslim, seorang dosen yang menjadi salah satu saksi mata. Muslim sepanjang waktu kejadian berada bersama dengan Muammar. Hal tersebut dibenarkan dari kesaksian dosen serta mahasiswa lainnya.

 

Di dalam ruangan, dari kesaksian para dosen, baik Muammar dan Muslim, ketika dimintai keterangan, Ikhwan meracau dengan mengelak serta mencaci para dosen.

 

"Karena dia terus meracau, kita putuskan untuk tak melanjutkan meminta klarifikasinya. Yang jelas selama waktu tersebut, tak ada satu pun kekerasan fisik terjadi," jelas Muslim.

 

Seluruh urutan kejadian ini bermula dari kicauan Ikhwansyah di akun facebook pribadinya yang ia tulis terkait acara Coffee morning yang diselenggarakan BEM Fekonsos bersama pihak pimpinan kampusnya untuk menampung aspirasi dan masalah mahasiswa.

 

"Hari Coffee Morning settingan mahasiswa Fekonsos hanya diam mendengar omong kosong, sekali penipu tetap penipu," tulisnya di facebook dengan menautkan 14 akun facebook lainnya. Beberapa akun merupakan dosen aktif di Fekonsos.

 

Acara berlangsung kondusif saat Muslim yang ketika itu berlaku sebagai moderator acara. Diskusi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, dengan pemaparan oleh Mahendra Romus tentang Fekonsos. Sekitar pukul 10.00 WIB Ikhwan memilih meninggalkan acara untuk salat dhuha di Kesekretariatan Forum Kajian Islam Intensif (FKII).

 

Sebelum pergi, saat itulah Ikhwan sempatkan diri menulis status di media sosial miliknya. Sekitar sepuluh menit usai ibadah, Ikhwan kembali ke tengah-tengah acara. Saat itu Coffee Morning sudah masuk dalam sesi tanya jawab.

 

Ketika Ikhwan pergi inilah, Muammar membacakan status facebook yang ditulis Ikhwan dan meminta Ikhwan untuk menjelaskannya di hadapan publik maksud tulisan provokatif tersebut. Namun karena Ikhwan tak ada di lokasi, klarifikasi tak bisa langsung disampaikan.

 

"Usai itulah, situasi jadi mulai panas dan tak nyaman. Semuanya berfokus pada tulisan Ikhwan ini di facebook. Dan selain membuat kecewa pihak dekanat, ini juga mengecewakan kita para pengurus BEM karena dianggap penipu," kata Ketua Panitia Coffee Morning, Yudha Armanda.

 

Tak lama berselang acara dibubarkan, sejumlah mahasiswa mendatangi Kesekretariatan FKII untuk bertemu Ikhwansyah. Mereka meminta Ikhwansyah untuk menemui Muammar di dalam PKM untuk meminta keterangan atas statusnya.

 

Kini, usai kasus ini sampai pada pihak rektorat, Ikhwan berkemungkinan besar akan menjalani sidang etik mahasiswa sesuai dengan arahan Rektor UIN, Munzir Hitami usai mendengarkan kesaksian dari panitia dan dekanat juga Muammar selaku dosen yang dilaporkan.

 

"Kita menyerahkan ini untuk diselesaikan di tingkat fakultas sendiri. Pimpinan fakultas memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan ini dengan baik," jelas Munzir.

 

Namun hingga berita ini ditulis, RIAUONLINE.CO.ID sulit menghubungi Ikhwansyah dengan telepon yang dilakukan beberapa kali pada nomornya. Hal ini membuat keterangan langsung dari Ikhwan belum didapatkan secara utuh.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline