Menegangkan, Insiden TNI AU Cegat Pesawat AS di Atas Pulau Bawean Indonesia

FA-18-Hornet-milik-US-Navy.jpg
(INDOCROPCIRCLES.WORDPRESS.COM)

RIAU ONLINE - Pada Juli 2003, radar TNI AU yang biasanya hanya memantau pesawat-pesawat komersial yang melintas, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran lima pesawat asing terbang di langit Indonesia. Kemudian diketahui merupakan pesawat milik Amerika.

 

TNI AU, awalnya tidak menganggap kehadiran pesawat Amerika itu sebagai ancaman. Bahkan, hingga kapal itu akhirnya hilang dari radar tidak ada pihak Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional (Kosek II Hanudnas) dan Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) yang melaporkan ke pusat.

 

Keputusan tidak membuat membuat laporan ke pusat akhirnya menjadi pukulan bagi TNI AU. Pesawat asing itu muncul kembali di radar. Terungkap, adanya kesengajaan dari pihak asing untuk melakukan kamuflase.

 

Para pemantau radar akhirnya segera melaporkan ancaman tersebut kepada pusat. Kemudian, diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan. Dua penerbang terbaik Indonesia diterjunkan untuk melakukan pengecekan karena khawatir akan membahayakan Indonesia.

Baca Juga: Wow, Pesawat Tempur TNI AU dan Tentara Singapura Latihan Bersama di Atas Lautan Riau

 

Kedua pesawat ini diawaki Kapten Pnb Ian Fuadi dan navigator Kapten Fajar Adrianto dengan sandi Falcon-1. Pesawat F-16 lainnya diawaki oleh Kapten Pnb Tony Heryanto dan Kapten Pnb Satriyo Utomo yang bersandi Falcon-2.

 

Kedua kapten tersebut ternyata hanya diperintahkan untuk mengidentifikasi visual dan menghindari konfrontasi dengan penerbang Angkatan Laut AS atau US Navy. Guna menghindari erangan tak terduga, F-16 TNI AU dilengkapi dua rudal AIM-9 P4 Sidewinder dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

 

Pihak TNI AU sangat berupaya untuk menghindari terjadinya konfrontasi yang menyebabkan adanya peperangan di udara dan laut kawasan NKRI. Namun, kedatangan dua pesawat F-16 TNI AU tidak mendapat sambutan baik dari pesawat F/A 18 Hornet milik AS yang dikendalikan militer Amerika. Bahkan, melakukan lock on atau mengunci pesawat yang diterbangkan oleh kapten Indonesia itu.

 

Untuk menghindari terjadinya tembakan, F-16 TNI AU melakukan manuver-manuver di di udara. Meski, kedua memiliki kesempatan untuk membalas dengan melepas rudal sidewiinder AIM-9, tapi pilihan ini urung dilaksanakan. Setelah melakukan berbagai manuver, akhirnya kedua kapten Indonesia memberikan isyarat berupa rocking the wing (menggerak-gerakkan sayap pesawat ke atas dan ke bawah), isyarat yang menunjukkan bahwa mereka bukan ancaman bagi F/A 18 Hornet milik AS.

Klik Juga: Inilah Dua Pesawat Calon Kuda Hitam TNI AU

 

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 TNI AU berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet tersebut. Melalui komunikasi singkat, diketahui bahwa mereka mengkalim tengah terbang di wilayah perairan internasional.

 

"We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on international water, stay away from our warship (Kami F-18 Hornet dari Armada Laut AS, posisi kami di perairan internasional, menjauhlah dari kapal perang kami)," ancam pilot AS tersebut, seperti dilansir dari INDOCROPCIRCLES.WORDPRESS.COM, Kamis, 15 Desember 2016.

 

Di saat bersamaan, F/18 Hornet kembali membidik kedua F-16 TNI AU dan siap menembakkan rudal kapan saja, sementara rekannya mengamankan dari belakang. Beberapa kali, keempaat pilot berusaha menghindar dengan hard break, kemiringan hampir 90 derajat.

 

Posisi F-16 yang diawaki kedua kapten Indonesia juga menguntungkan terhadap Hornet 2, namun dia enggan membalas dengan mengunci pesawat tersebut. Mengingat misi awalnya bukan bertempur, namun hanya melakukan identifikasi.

 

Ketegangan terus berlanjut saat penerbang F-16 kembali melihat kapal perusak US Navy dan langsung melaporkannya. Kontak ini terjadi di ketinggian 15.000 kaki dan berhasil menjauh dari bidikan lawan.

Lihat Juga: Inilah Peringkat Militer Indonesia Saat Disandingkan Dengan Israel

 

Radar kembali menemukan manuver pesawat asing pada jarak 40 mil laut. Keempat pilot TNI AU bertekad untuk mendekat. Saat berhadapan, Hornet kembali melancarkan aksi jamming dengan sikap bermusuhan, dan mengunci F-16 TNI AU dengan rudal Sidewinder.

 

Perang elektronika atau electronic warefare berlangsung selama tiga menit, padahal penerbang TNI AU mencoba berkomunikasi namun Hornet AS terus berupaya mengubah frekuensi radio mereka.

 

Perang tiga menit itu sempat terhenti ketika Kapten Ian Fuady berhasil rocking the wing dan mengabari mereka bukanlah musuh. "Hornet, Hornet, we are Indonesian Air Force (Hornet, Hornet, kami Angkatan Udara Indonesia)," ujar Ian menengahi ketegangan.

 

"Indonesian Air Force, we are in international waters, please stay away from our ships (Angkatan Udara Indonesia, kami berada di perairan internasional, harap menjauh dari kapal kami)," pinta pilot F/A 18 Hornet.

 

Jawaban yang diperoleh tetap sama, armada kapal perang AS tersebut tetap beranggapan bahwa mereka berada di perairan internasional. Pada kesempatan itu, mereka tetap memfoto kapal induk USS Carl Vinson, kedua fregat, dan kapal perusak AS. Pengintaian ini dikawal ketat oleh dua F/A 18 Hornet AL AS.

 

Dengan foto-foto tersebut, pemerintah Indonesi melayangkan protes ke AS karena telah memasuki perairan Indonesia tanpa izin. Menurut analisa TNI AU, kapal-kapal itu datang dari utara lalu belok memasuki ALKI-1 dan melaksanakan pelatihan tempur selama beberapa jam di barat laut Pulau Bawean.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline