Aktual, Independen dan Terpercaya

Mengenal Kebringasan Pasukan Raider Penumpas GAM

Batalyon-Raider.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE - Tanggal 22 Desember 2003 menandai kembalinya Batalyon Raider yang beranggotakan sepuluh batalion dari 8 batalyon infanteri pemukul Kodam dan dua batalyon infanteri Kostrad non Lintas Udara (Linud).

 

Kemunculan kembali Batalyon Raider ini tak lepas dari peran Ryamizard Ryacudu, kala itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang begitu gerah dengan aksi separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

 

Jauh sebelum kembalinya Batalyon Raider, pada masa-masa awal pembentukannya diawali dengan dibentuknya pasukan Banteng Raider (BR) yang dibentuk dan dilatih oleh Letkol Ahmad Yani. Bemula pada sebuah eksperimen dua kompi bergerak dalam operasi Gerakan Banteng Nasional dalam menumpas DI/TII pada Mei 1952. Pasukan BR ternyata juga menjadi cikal bakal terbentuknya Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Baca Juga: Inilah Peringkat Militer Indonesia Saat Disandingkan dengan Israel

 

Satu tahun kemudian, tepatnya Maret 1953, dengan semboyan “pantang mundur” Batalyon 431/Banteng Raiders diresmikan di Balai Kota Tegal. Kini, batalion ini bernama Batalion 400/Raiders yang bermarkas di Srondol Semarang, Jawa Tengah.

 

Pada 1960an, metode pendidikan Raider mirip dengan pelatihan komando RPKAD yang kini dikenal dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kesamaan terlihat dari nama materi hingga tradisi ala Secako yang tidak mengenal kepangkatan dari tamtama sampai perwira. Semua dilatih dengan standar sebagai seorang Raider, keras dan brutal. Di medan latihan, mereka berpindah pindah, dari basecamp satu ke yang lain.

 

Kala itu, Raider dilatih oleh Tim Pelatih Raider dari RPKAD dan tim Pelatih Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) KODAM setempat, yang telah lebih dulu memiliki kualifikasi Raider, seperti dilansir dari Instagram Matapadi.

Klik Juga: Inilah Sesepuh TNI yang Dilupakan Negara dan Meninggal dalam Kekecewaan

 

Dalam sebuah pelatihan pendaratan laut yang dilakukan di Pantai Meneng dan di Selat Bali, para instruktur KKO-ALRI (Marinir) yang sempat menyaksikan latihan tersebut heran melihat kerasnya para pelatih RPKAD dalam melatih para calon prajurit Raider.

 

Sebab itu, kebringasan Raider merupakan suatu ancaman terbesar bagi GAM. Celaka bagi setiap anggota GAM jika keberadaannya sudah terendus pasukan Raider, karena kecil kemungkinannya bisa lolos.