Aktual, Independen dan Terpercaya

Mengenal Suku Naulu, Pemilik Tradisi Berburu dan Penggal Kepala

Suku-Naulu.jpg
(INTERNET)
Enoki Mall Pekanbaru Japanese restaurant shabu-shabu, sushi dan Grill

RIAU ONLINE - Suku Naulu, sebuah suku yang mendiami pedalaman Pulau seram, Maluku memiliki tradisi memenggal kepala manusia sebagai persembahan.

 

Suku Naulu tersebar di dua wilayah Pulau Seram, yakni Dusun Nuanea dan Dusun Sepa. Jauh dari pusat kota membaut suku ini bertahan hidup secara tradisional. Beberapa di antaranya masih hidup nomaden atau berpindah-pindah.

 

Kebanyakan dari suku ini belum memeluk agama. Mereka masih membawa kepeprcayaan yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang. Suku Naulu percaya bahwa arwah leluhur selalu mengawasi mereka. Para pria dewasa di suku ini mengenakan ikat kepala merah sebagai identitas.

 

Suku ini memiliki tradisi yang mengerikan, yaitu berburu kepala manusia untuk dijadikan persembahan kepada nenek moyang. Sebenarnya, tidak ada penjelasan logis di balik tradisi kejam tersebut. Namun, mereka percaya hal itu mutlak dilakukan agar terhindar dari bahaya atau musibah. Selain itu, penggal kepala dianggap sebagai kebanggaan dan simbol kekuasaan.

Baca Juga: Bagi Suku Ini Tikus Jadi Makanan Pokok

 

Dilansir dari BOOMBASTIS.COM, tradisi sadis ini sudah dilakukan sejak dulu, ketika perang antar suku masih marak terjadi. Pihak yang menang akan berkuasa, sedangkan yang kalah harus merelakan kepala di tangan pemenang.

 

Awalnya, aksi ini hanya dilakukan sebagai perayaan dan simbolis pihak pemenang, namun lambat laun perburuan kepala malah menjadi sebuah tradisi yang harus dilakukan.

 

Bagi Suku Naulu, kepala manusia memiliki arti yang sangat penting. Ada momen yang membuat masyarakat suku ini harus berburu kepala manusia. Di antaranya adalah alasan pernikahan. Raja-raja suku Naulu pada zaman dahulu menggunakan cara ini untuk memilih seorang menantu laki-laki. Sebagai bukti kejantanan, calon menantu harus membawa kepala manusia sebagai mas kawin.

 

Persembahan kepala juga dilakukan saat penduduk mengadakan ritual Pataheri, untuk meresmikan kedewasaann seorang pria. Remaja laki-laki berhak mengenakan ikat kelapa merah, yang merupakan simbol kedewasaan setelah berhasil memenggal kepala manusia.

Klik Juga: Suku Anak Rimba Asal Jambi Nyasar ke Pekanbaru

 

Selain itu, persembahan kepala manusia juga dilakukan untuk membuat ‘pagar gaib’ agar terlindung dari berbagai marabahaya. Mereka yakin bahwa persembahan kepala akan menyenangkan leluhur sehingga mereka dapat menjaga anak cucunya dengan baik.

 

Kepala manusia di rumah suku Naulu [image source]Tengkorak Kepala manusia di rumah suku Naulu (BOOMBASTIS.COM)

 

Tradisi ini awalnya sudah hilang sejak awal 1900an. Namun beberapa sumber menyebut bahwa tradisi ini masih berlanjut hingga 1940an. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ritual mengerikan ini sudah tidak terdengar lagi.

 

Namun, pada 2005 ritual ini mengejutkan kembali terjadi. Dua mayat tanpa kepala ditemukan di kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah. Setelah diselidiki, keduanya merupakan korban suku Naulu untuk dipersembahkan kepada leluhur. Pelakunya mengaku melakukan ritual tersebut untuk memperbaiki rumah adat mereka.

 

Sejak peristiwa sadis itu, lembaga hukum berupaya melakukan sosialisasi kepada semua pihak tentang adanya hukuman tegas bagi tindakan pembunuhan. Kemudian, tradisi ini dihapus hingga saat ini. Namun, ritual pengangkatan pria dewas masih berlangsung, hanya saja persembahannya diganti dengan burung kuskus.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline