Aktual, Independen dan Terpercaya
ÔĽŅ

Presiden Trump akan membuat kita meninggalkan Amerika, Kemana Kita Akan Pergi?

Demo-Tolak-Trump.jpg
(RIMANEWS.COM)

RIAU ONLINE - Setelah Donald Trump dinyatakan menang sebagai Presiden Amerika Serikat, pagi harinya Yasmeen Shehab terbangun oleh tangis anaknya.

 

Tiba-tiba putrinya yang berusia 10 tahun menangis dan melompat ke pelukannya, membuatnya terperanjat. "Presiden Trump akan melarang kita dan membuat kita meninggalkan Amerika," ungkap putri Shebab di tengah tangisnya, dilansir dari KOMPAS.COM, Kamis, 10 November 2016.

 

Kemenangan Trump seketika menghantui keluarga Shehab. Meski, keluarga Shehab adalah keluarga Muslim yang terlahir di AS, namun ketakutan akan ancaman deportasi tetap saja menghantui.

 

"Kemana kita akan pergi?" kata putrinya sambil memeluk bundanya.

Baca Juga: Inilah Kekhawatiran Dunia Terhadap Kemenangan Trump pada Pilpres Amerika Serikat

 

Selama beberapa bulan menjalani masa kampanye calon presiden AS, Donald Trump seakan sudah menjelma menjadi monster yang menakutkan bagi kelompok masyarakat tertentu di AS. Pengusaha kaya raya itu, kerap menyerukan niatnya untuk melakukan deportasi terhadap imigran gelap dan membatasi pengungsi Muslim di AS, jika dia terpilih menjadi presiden.

 

Trump, berkali-kali mendengungkan retorika tentang anti imigran dan dukungan kaum nasionalis kulit putih, sungguh menakutkan bagi warga imigran dan kaum minoritas di AS. Buruknya kemenangan Trump sudah dirasakan kaum minoritas meski baru satu hari. Beberapa pekerja imigran melaporkan, anak-anak mereka diejek, dilecehkan, dan mengalami intimidasi etnis di sekolah. Mereka pun terpaksa dipulangkan lebih cepat.

 

Sedangkan para orangtua dan sejumlah advokat turun ke lapangan untuk menenangkan warga. Mereka meyakinkan warga, bahwa Trump tak mungkin membatalkan sejumlah kebijakan imigrasi yang telah dicapai oleh Presiden Barack Obama.

 

Sejumlah pakar pun mengingatkan, menemukan dan mendeportasi 11 juta imigran ilegal di negara itu akan membutuhkan logistik dan biaya yang sangat besar.

Klik Juga: Donald Trump Presiden Amerika Serikat Penghuni Gedung Putih

 

Tentang kondisi ini, tim kampanye Trump tak memberikan komentar. Namun, Lorena Gonzalez, anggota parlemen Demokrat dari San Diego mengungkapkan pandangan yang cukup menakutkan.

 

"Pemerintah saat ini telah memiliki daftar mereka yang berada di AS tanpa dokumentasi, nama mereka, alamat, berapa lama mereka tinggal, di mana mereka bekerja," ungkap Gonzalez.

 

Sementara itu, seorang warga AS yang dilahirkan di Pakistan, Sana Altaf. Ia hidup di New York di bawah program perlindungan. Perempuan itu mengaku, orangtuanya adalah penduduk legal dan aman untuk tetap tinggal di AS. Namun, dia mengkhawatirkan statusnya sendiri.

 

"Sepanjang malam, hingga pagi ini saya hanya bisa menangis. Rasanya seperti ada yang mengatakan kepada saya, bahwa saya tak disambut baik di negeri ini," sebut Altaf.

Lihat Juga: Viral, "Warga AS Tercinta, Tolong Jangan Pilih Donald Trump"

 

Dampak yang sama juga dirasakan, Thomas Saenz Presiden dan Penasihat Umum dalam lembaga hukum pembela warga Meksiko-Amerika di Los Angeles. Saat ini, organisasi tersebut tengah kerepotan. Sebab, kata Saenz, lembaganya berkali-kali melayani penelepon dan meminta mereka untuk tetap tenang. Hampir semua telepon yang masuk mengkhawatirkan perlindungan dan perhatian terkait isu deportasi terhadap 11 juga warga ilegal di AS.

 

"Retorika Trump sangat menakutkan. Tapi itu pun tidak realistis," kata Seanz.

 

Hari baru di AS kali ini tengah dipenuhi kekhawatiran dan rasa tidak nyaman warganya. Sementara, Shehab hanya satu dari banyak warga AS yang merasakan kekhawatiran dan ketakutan akan dideportasi. Sedangkan putri Shehab yang berusia 13 tahun menghubungi dari sekolah. Putrinya ketakutan karena diejek oleh anak laki-laki pendukung Trump.

 

"Anak saya bilang, seorang anak laki-laki pendukung Trump di sekolahnya mengejek dan menyebut Trump akan membatasi imigran Muslim," ungkap Shehab.

 

Sang anak mengiba dan memohon agar Shehab segera menjemputnya pulang, meski jam sekolah belum berakhir. "Dia sedang menangis di kantor sekolah saat saya datang menjemputnya. Ini adalah hari yang berat, mereka semua ketakutan," kata dia.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline