Aktual, Independen dan Terpercaya

Prostitusi Online dengan Jajakan Diri di Laman Facebook Semakin Marak di Pekanbaru

Praktik-Prostitusi-di-China.jpg
(INTERNET)

Laporan: Azhar Saputra


RIAU ONLINE, PEKANBARU -Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pekanbaru, mencatat selama Semester I 2016 ini, kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 23 kasus. Jumlah itu belum termasuk data yang di keluarkan oleh Polresta Pekanbaru, Polsek, rumah sakit dan pengaduan dari masyarakat.

 

Belum lagi, penjualan anak-anak di bawah umur yang dijadikan sebagai pemuas nafsu menggunakan sarana media sosial (Medsos) seperti Facebook, marak terjadi di Pekanbaru. 

 

Konselor dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Pekanbaru, Herlia Santi, mengatakan, ini merupakan bentuk keteledoran Pemerintah Kota Pekanbaru sendiri.

 

Bagaimana tidak, tuturnya, pelaku baru akan melepaskan masa anak-anaknya berproses ke masa remaja, terjerumus melakoni pekerjaan prostitusi online semestinya tidak mereka kerjakan.

 

Baca Juga: Mucikari Ini Jajakan Anak Didiknya di Facebook

 

"Mungkin dalam hal ini pengambil kebijakanlah yang tahu bagaimana bisa menjangkau sampai ke akar seluruh lapisan masyarakat. Sebenarnya tidak hanya masyarakat ekonominya lemah saja, menengah ke atas juga dikala ia tidak mendapat perhatian dari orangtuanya sangat-sangat bisa berbuat seperti itu," kata Herlia. 

 

Ia menjelaskan, dari kasus-kasus seperti ini bukan pertama kalinya terjadi dengan melibatkan anak. Beberapa di antaranya terjadi tidak terlalu lama jaraknya, seperti di dialami siswi SMA di Rokan Hilir (Rohil) menjadi simpanan om-om.

 

"Tetapi kita tidak menindaklanjuti karena waktu itu cuma guru saja melaporkannya. Nah itu sebenarnya pola asuh dari keluarga bagaimana orangtua sekarang harus lebih memberikan perhatian kepada anak-anak dengan globalisasi dan informasi yang sangat kencang seperti saat ini. Kalau lingkungan dasarnya itu pola asuh dari rumah," ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Riau, Syarifuddin mengatakan, penanganan terhadap anak terlanjur terjerumus ke dalam prostitusi online, dilakukan dengan mendampingi agar nantinya mereka tidak kembali lagi melakoni pekerjaan tersebut.

 

"Untuk para korban kita bersama-sama Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Riau akan menempatkan korbanya ke Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC). Karena dikhawatirkan ada indikasi orangtua melegalkan pekerjaan ananya. Untuk itu, bersama kawan-kawan lainnya kita melakukan rehabilitasi, konseling serta pendampingan terhadap anak. Sementara untuk pelaku anak yang terlibat akan di serahkannya kepada Polda Riau yang kemungkinan pelaku juga akan diberi pendampingan dan di rehabilitasi," ujarnya.

 

 

Berbeda dengan lainnya, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Riau, Esther Yuliani mengemukakan, prostitusi online menggunakan media sosial Facebook ini sudah menjadi tren bagi sekelas Kota Pekanbaru.

 

Klik Juga: Polisi Ini Tega Perkosa Gadis 19 Tahun

 

Bukan karena tidak mampu atau tidak mendapatkan perhatian dari orangtuanya, tetapi lebih kepada gaya hidup selama ini mereka contoh dari media, televisi dan yang lainnya.

 

"Sebenarnya mereka itu bukannya tidak mampu atau orang tidak berada. Mereka mampu kok, banyak sekolahnya bagus-bagus, tapi ini kan sudah menjadi tren bagi rermaja-remaja kita. Kalau tidak seperti itu tidak gaul dan sebagainya,"katanya.

 

Esther memastikan, untuk kasus-kasus seperti ini yang melibatkan anak dalam prostitusi online akan terus terjadi. Pasalnya, Pekanbaru sekarang sudah berada pada indikator Kota Metropolitan. Ini sejalan dengan pernyataan Wali Kota Pekanbaru, Firdaus.

 

Sementara itu, Psikolog Klinis Anak, Violeta Hasan Noor, berharap orangtua untuk lebih tahu dan mampu memilih apa terbaik untuk di "konsumsi" oleh anak.


"Artinya orangtua sekarang harus lebih bisa selektif. Dalam arti kata, mampu melihat perkembangan anak terutama dalam pergaulan mereka. Jadi artinya tidak bisa diberikan kebebasan kepercayaan 100 persen kepada anak. Tetap harus ada pantauan dari orangtua. Semisalnya, orangtua harus tahu nih aktifitas anak-anak selama satu hari itu di mana saja, main di mana, sama siapa dan itu harus di pantau secara rutin," jelasnya.

 

Meskipun itu mendapatkan pertentangan keras dari anak, kadang kala anak tidak mau terlalu di campuri urusan pribadi mereka. Cara mensiasatinya menurut Psikolog ini adalah dengan mengalihkan perhatian anak ke arah positif sehingga tertanam benih-benih kedekatan emosional antara anak dengan orang tua.


"Makanya sekarang sebagai orang tua harus tanggap seperti apa aktifitas kegemarannya, misalnya dia terlalu lama menghabiskan waktu di dunia internet, lebih bagus di berikan aktifitas yang lain. Dalam arti kata kegiatan yang memicu anak agar untuk lebih aktif. Seperti ekstra kulikuler, olahraga atau seni yang di mana anak ini suka. Apa menghabiskan banyak biaya? Tentu tidak kan," tandasnya.

 

Lihat Juga: Inilah Daftar Kasus Polisi Lakukan Perbuatan Asusila


Jika sudah seperti ini anak akan lebih terbuka terhadap orang tuanya dan yang lebih penting mereka tidak terfokus lagi kepada tiga benda ini yakni internet, gaget dan media sosial.


"Sekarang itu yang terjadi karena ketidak seimbangan dan penyimpangan yang menjerumus. Anak terlalu sering menjurus ke internet, Sedangkan orang tua membiarkan, ya jadinya seperti itu,"tutupnya.

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline