Gereja di Filipina Ini Belajar Kelola Dana Sosial pada Dompet Dhuafa

ILUSTRASI-dana-sosial.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE - Puluhan orang dari komunitas Gereja Katolik dengan arsitektur kuno di Angeles City, Papanga Filipina mengikuti diskusi tentang pengelolaan zakat dengan perwakilan Dompet Dhuafa.

 

Dipimpin oleh Uskup Pablo Virgilio S. David, para suster, pendeta, layanan sosial gereja, dan aktivis filantropi gereja setempat antusias mengikutinya. Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian aktivitas dari penerima Ramon Magsaysay Award 2016.

 

Diskusi tersebut digelar dengan tujuan untuk berbagi pengalaman dan saling belajar cara mengelola dana keagamaan demi memberdayakan masyarakat dan membantu orang tak mampu.

 

“Apa yang kita (Dompet Dhuafa dan Gereja Katolik) lakukan sebenarnya sama. Kami sangat tertarik bagaimana Dompet Dhuafa dapat mengoptimalkan dana sumbangan yang mereka himpun,” ujar pria yang akrab dipanggil Bishop (Uskup) Ambo, di Keuskupan Agung Apung Mamacalulu, Angeles City, Filipina, dilansir dari Facebook Dompet Dhuafa, Kamis, 8 September 2016.

 

Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said menjelaskan keberhasilan Dompet Dhuafa selama ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi. “Untuk itu, kami harus menjaga kepercayan publik dengan beragam strategi,” ujarnya.

 

Menurut Ismail, para donatur di Dompet Dhuafa menerima laporan dana yang mereka setorkan dan mendapat informasi seputar program yang dilaksanakan Dompet Dhuafa, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi hingga agama.

 

Selain itu, kata Ismail, pihaknya juga mengajak para donatur untuk mengunjungi program-program yang dilakukan di lapangan. "Sehingga mereka yakin untuk apa dana yang mereka sumbangkan,” jelasnya.

 

Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini sebagai narasumber, menjelaskan kunci sukses Dompet Dhuafa menjalan organisasi adalah manajemen yang profesional, program yang inovatif, transparansi dan akuntabilitas publik, adaptif terhadap teknologi, komunikasi, dan dedikasi.

 

“Kami, misalnya, mengadopsi sistem dan manajemen perbankan. Kami memudahkan para donatur untuk menyalurkan donasinya melalui berbagai cara seperti internet banking, sms banking, mobile banking, atau hanya dengan menggesek kartu debit atau kredit,” tutur Ahmad.

Baca Juga: Inilah Kisah Pemulung yang Ingin Mushalla di Tempat Tinggalnya Berkurban

 

Peserta diskusi sangat tertarik dengan program-programDompet Dhuafa yang fokus pada pemberdayaan daripada karitas.

 

Peneliti dan penulis tentang peninggalan budaya gereja, Nina L.B Tomen menanyakan bagaimana tantangan yang dihadapi Dompet Dhuafa dalam memandirikan penerima manfaatnya.

 

“Bagaimana mengubah pola pikir masyarakat miskin yang menerima zakat menjadi orang berada yang membayar zakat," tanya Nina.

 

Sementara Pendeta Fer David, Ketua Komite VDLR Papanga tertarik bagaimana Dompet Dhuafa mengelola operasional sehari-hari, termasuk gaji staff dan relawan.


“Dalam ketentuan syariah, kami hanya diperkenankan untuk mengambil operasional, sudah termasuk di dalamnya gaji karyawan, maksimal 12,5 %,” tukas Ismail.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline