Aktual, Independen dan Terpercaya


Ironis, Nasib Mantan Petinju Nasional Ini, Mulai Jual Rokok Hingga Digusur Satpol PP

Suyanto.jpg
(DETIKZONE.NET)
ombudsman

RIAU ONLINE - Sebuah Gerobak kusam menjadi saksi bisu perjalanan hidup sang mantan atlet petinjut nasional, Suyanto. Kini, setelah petugas Satpol PP menertibkannya, gerobak itu hanya teronggok di sisi rumah warga.

 

 

Suyanto tak putus asa dan kembali mencari peruntungan lainnya menjadi pelatih boxing Muathai hingga tukang ojek aplikasi 'Go-Jek'.

 

 

Petinju peraih juara di kejuaraan nasional ad-interum kelas Terbang Mini (1993) itu terpaksa melakoni pekerjaan-pekerjaan tersebut untuk melanjutkan hidupnya setelah pensiun dari dunia tinju sejak 2001 silam.

 

 

"Setelah gerobak warung rokok saya digusur akhir 2014 oleh Satpol PP, saya jadi pelatih Muay Thai Boxing. Lalu akhir 2015 saya jadi driver Go-jek," kata Suyanto, dilansir dari Tribunnews, Minggu, 28 Agustus 2016.

 

 

Bermodalkan gerobak, Suyanto sudah menjadi penjual rokok dan minuman ringan sejak 1999 atau saat ia masih bergabung dengan Sasana Arseto milik Promotor Taurino Tidar di Jalan Taman Tanah Abang III. Suyanto berdagang tak jauh dari sasana tersebut, hanya 50 meter dari sasana.

 

 

"Terpaksa dagang rokok karena memang saya sudah nggak punya duit. Sementara saya sudah berkeluarga dan punya tiga anak," ucapnya.

 

 

Mantan petinju berjulukan "Yanto de Villa" ini bercerita, dirinya telah dikaruniai tiga anak dari hasil pernikahan dengan dua wanita berbeda. Seorang putrinya masih duduk di kelas 3 SMP tinggal bersama keluarga di Surabaya, Jawa Timur. Sementara, istri dan anak bungsunya tinggal di Cirebon, Jawa Barat dan putra pertamanya tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta.

 

 

Saat ini, Suyanto hidup di kamar kontrakan dengan sewa Rp 1 juta di Kemanggisan, Jakarta Barat, bersama istri dan dua anaknya. "Sebelum menikah lagi, saya dikaruniai dua anak dari istri pertama yang almarhumah," jelasnya.

 

 

Pada 2001, Suyanto memilih melepas sarung tinju dan mengakhiri karir tinjunya yang sudah ia jalani selama 14 tahun. Padahal, saat itu Suyanto telah menandatangani kontrak pertandingan melawan petinju Wonder Boy Wonoroya.

 

 

Keputusan itu ia ambil demi sang istri yang baru melahirkan seorang bayi mengkhawatirkan keselamatannya lantaran dunia tinju nasional baru saja berduka setelah kehilangan petinju Muhammad Alfaridzi meninggal setelah ambruk di atas ring.

 

 

"Saat itu, istri saya menangis ketakutan kalau saya harus tanding lagi. Yah, saya akhirnya batalkan pertandingan karena ingat istri dan punya anak bayi baru lahir," ungkapnya.

 

 

Namun sejak tempat dagangnya itu diangkut ptugas Satpol PP, Suyanto mengaku ekonomi hidupnya sulit. Sebelumnya, Suyanto bisa menyisihkan uang dari hasil dagangnya untuk ditabung dan dikirim untuk biaya hidup istri dan sekolah anaknya.

 

 

"Barusan anak saya yang SMP di Surabaya telepon, dia minta dikirimi uang Rp500 ribu untuk patungan kegiatan sekolah dan bayar SPP, Rp130-an ribu," kata Yanto

 

 

Dibantu temannya, pada 2014 Suyanto menjadi pelatih Muay Thai Boxing untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Kebetulan, Suyanto memiliki kemampuan dasar-dasar olahraga seni bela negara gajah, Thailand itu dari latihan di sasaran Arseto.

 

 

Dengan menjadi pelatih Muay Thai Suyanto hanya digaji Rp2 juta dan uang makan Rp20 ribu per hari. Namun, Suyanto mengaku jumlah tersebut jauh dari cukup.

 

 

"Dulu saya sering pusing kalau diminta uang untuk bayaran sekolah anak, belum lagi biaya susu untuk anak yang masih bayi," ucapnya lirih.

 

 

Suyanto berpikir keras agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Lantas, atas saran seorang jurnalis, Suyanto mencoba mencari uang tambahan dengan menjadi driver ojek aplikasi, Go-Jek, pada akhir 2015.

 

 

Suyanto memilih membeli motor kredit lantaran tak memiliki modal untuk membeli secara tunai. Setiap hari usai salat Subuh, Suyanto berangkat dari rumah di Kemanggisan untuk mencari calon penumpang ojek aplikasinya. Kemudian, sekitar pukul 10.00 ia akan menuju tempat latihan Muay Thai Boxing.

 

 

"Paling narik Go-Jek selama tiga sampai empat jam. Penghasilan Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu yang masuk ke kantong. Setelah ngojek, saya ke sini pukul sepuluh siang sampai pukul duabelas malam. Kebanyakan latihannya pada malam hari. Setelah itu pulang ke kontrakan. Keesokan paginya ke luar narik ojek lagi dan melatih seperti itu lagi," ujarnya.

 

 

Suyanto mengaku jika hanya mengandalkan hasil dari menjadi pelatih Muay Thai tidak akan menutupi seluruh kebutuhannya. "Saya puyeng juga nggak bisa meninggalkan yang untuk istri dan bayi di kontrakan. Saya bisa tambah sengsara," sambungnya.

 

 

Suyanto menyadari pekerjaan barunya itu tak seindah cerita dari mulut warga atau pun pemberitaan di media massa.

 

 

"Saya nggak tahu caranya kalau driver ojek online yang bisa dapat uang sampai Rp5 juta sebulan. Saya dapat Rp50 ribu dalam empat jam narik saja sudah susah. Karena persaingannya ketat dan ada yang pakai 'tuyul' atau istilahnya 'begal' orderan penumpang. Jadi, orderan penumpang saya sudah beberapa kali tiba-tiba hilang diambil sama driver lain," paparnya.

 

 

Pemilik nama ring "Yanto de Villa" ini mengawali karir tinjunya sejak 1986 dan tergabung dengan Sasana Arseto Jakarta. Selama 14 tahun berkarir di dunia tinju, Suyanto telah menyabet gelar juara di Kejuaraan Tinju se-Jabodetabek hingga Kejuaraan hingga Nasional Ad-Interim Kelas Terbang Mini pada 1993.

 

 

"Sebelum dari Nganjuk datang ke Jakarta dan gabung ke Sasana Arseto, saya tidak direstui oleh ibu saya menjadi petinju. Tapi, setelah saya bilang, 'daripada saya berkelahi terus dan diangkut polisi, lebih baik olahraga tinju', akhirnya ibu saya meyetujui," ujarnya.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline