Inilah Cerita Dibalik Lukisan Kumis Raja Haji Fisabillah

Raja-Haji-Fisabillah.jpg
(HISTORIA.ID)

RIAU ONLINE - Pahlawan Nasional Melayu berdarah Bugis ini, Raja Haji menjadi inspirasi bagi generasi-generasi sesudahnya. Termasuk di antaranya, seorang anaknya, Raja Ali Haji, kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, juga dikenal sebagai Bapak Bahasa Indonesia. 

 

Kisah kepahlawanan Raji Haji ini kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, jatuh setiap tanggal 6 Januari. Penetapan hari jadi tersebut pada 1989. (Baca Juga: Sedan Jerma Setia Dampingi Sultan Siak Keliling Sumatera

 

Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa sejarah kemenangan Raja Haji Fisabilillah atas Belanda di Pulau Penyengat, 6 Januari 1784.

 

Opu Daeng Celak alias Engku Haji merupakan bangsawan Bugis bermigrasi ke Riau dan memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung (pembantu sultan dalam urusan pemerintahan) Kerajaan Riau-Johor.

 

Ketika ia wafat, 1744, anaknya, Raja Haji baru berusia 19 tahun diangkat menjadi Engku Kelana. Tugasnya, mengatur pemerintahan dan menjaga keamanan seluruh wilayah Kerajaan Riau-Johor. Dia juga teribat dalam pertempuran melawan Belanda dalam Perang Linggi (1756-1758).

 

Menurut buku Jejak Pahlawan dalam Aksara diterbitkan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia dan Departemen Sosial Republik Indonesia, sejak Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda IV tahun 1777, Kerajaan Riau-Johor mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi, pertahanan, sosial-budaya, dan spiritual. (Klik Juga: Bupati Toeloes, Chairil Anwar, dan Pembantaian Ribuan Warga Rengat

 

Raja Haji, dikutip dari historia.id, mengadakan perjanjian dengan Belanda. Satu di antaranya perjanjian tersebut isinya mengenai kapal asing yang disita Belanda atau Kerajaan Riau-Johor harus dibagi dua. Perjanjian tersebut dilanggar Belanda. Usaha Raja Haji mengadakan pembicaraan dengan Gubernur Belanda di Malaka mengalami kegagalan.

 

Pada 6 Januari 1784, pasukan Belanda mendarat di Pulau Penyengat. Pasukan Raja Haji berhasil mengalahkannya sehingga pasukan Belanda ditarik ke Malaka pada 27 Januari 1784.

 

Raja Haji dibantu pasukan Sultan Selangor, menyerang Belanda di Malaka pada 13 Februari 1784. Dalam situasi kritis, pasukan Belanda mendapat bantuan dari armada yang dipimpin oleh Jacob Pieter van Braam, yang sedianya akan berlayar ke Maluku.

 

“Pertempuran meletus pada 18 Juni 1784, Raja Haji gugur dalam pertempuran tersebut bersama kurang lebih 500 orang pasukannya,” demikian tertulis dalam Jejak Pahlawan dalam Aksara. (Lihat Juga: H Agus Salim: Alhamdulillah, Adik Saya Punya Agama Baru, Katolik)

 

Muhammad Sani, walikota Tanjungpinang (1985-1993) mengatakan bahwa Raja Haji telah ditetapkan sebagai Pahlawan Maritim Nasional dari Provinsi Kepulauan Riau, namun pengusulan sebagai Pahlawan Nasional sempat terhenti.

 

Setelah menjabat Kepala Biro Bina Sosial Kantor Gubernur Kepulauan Riau, Sani mendapat tugas dari Wakil Gubernur Riau, Rustam S. Abrus, untuk mengurus kembali pengajuan Raja Haji sebagai Pahlawan Nasional.

Sani kemudian mengadakan seminar kepahlawanan Raja Haji. Untuk keperluan seminar itu, dibuatlah lukisan Raja Haji oleh Arius.

 

“Saya selaku penanggung jawab seminar memberikan contoh gambar. Saya lupa di mana gambar itu saya kutip. Gambar tersebut saya serahkan kepada Arius,” kata Sani dalam memoarnya, Untung Sabut.

 

Gambar yang diserahkan Sani tidak berkumis. Tetapi, terjadi kejutan saat pembukaan seminar. Waktu selubung penutup lukisan dibuka oleh Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Riau, Baharuddin Yusuf, wajah Raja Haji berubah. Ada kumis melintang di wajahnya. (Baca: Inilah Cerita Pertempuran Melawan Penjajah di Lancang Kuning

 

“Semua orang terkejut. Termasuk saya. Karena semua orang tahu gambar yang saya berikan tidak berkumis,” ujar Sani.

 

Baharuddin Yusuf tak kehilangan akal. Dia berusaha meredakan keterkejutan para peserta seminar, dengan mengatakan, “Inilah gunanya seminar, untuk mencari mana yang betul, wajah Raja Haji berkumis atau tidak berkumis.” Peserta pun tertawa.

 

Pemerintah menetapkan Raja Haji Fisabilillah sebagai Pahlawan Nasional pada 1997. Cucunya, yaitu Raja Ali Haji, yang disebut sebagai Bapak Bahasa Indonesia, juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.

 


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline