Aktual, Independen dan Terpercaya


Lagi Trend, Jadi Ayah ASI Bagi Bayi

Jemur-Bayi-di-Bawah-Terim-Matahari.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINEKaum lelaki, terutama para ayah, menganggap segala hal berkaitan dengan bayi adalah urusan kaum perempuan atau para ibu.

 

Mereka merasa, karena tidak ditakdirkan untuk menyusui bayi, maka tidak harus terlalu dekat dengan bayi, terutama dalam bulan-bulan pertama usai melahirkan. Jika Anda termasuk lelaki beranggapan seperti ini, tampaknya harus mengubah pandangan Anda. (Baca Juga: Anak Hasil Nikah Siri Bisa Miliki Akta Lahir

 

Air Susu Ibu (ASI) adalah elemen penting dibutuhkan bayi pada masa awal kelahirannya. ASI dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada bayi agar tidak rentan terhadap penyakit, serta merupakan sumber makanan terbaik untuk perkembangan dan pertumbuhan fisik dan mental anak.

 

Kelancaran produksi ASI ditentukan beberapa faktor, seperti makanan dikonsumsi ibu selama hamil, maupun setelah melahirkan, dan juga kondisi psikis dialami ibu. (Klik Juga: Ini Akibatnya Bila Anak Sering Dipuji

 

Pasalnya, kebanyakan perempuan mau menyusui bayinya dengan ASI apabila, mereka percaya suaminya menginginkan hal sama. Ini akan menjadikan pikiran sang ibu menjadi tenang sehingga kelancaran ASI pun terjaga.

 

Sebenarnya, ada banyak cara dilakukan oleh para ayah agar dapat dekat dengan sang bayi tanpa harus menyusui. Kepala Bagian Pediatrik RS St Carolus Jakarta, Dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC, juga aktif di Sentra Laktasi Indonesia, sebagian besar para ayah di seluruh dunia ini tidak menyadari mereka juga memiliki peran tak kalah penting dengan sang ibu dalam proses perkembangan anak.

 

 

Apa peranan ayah tersebut? Antara lain membantu dan mendukung kelancaran proses menyusui antara ibu dengan bayi. Menjadi Ayah ASI satu di antaranya dan sedang populer di Indonesia saat ini. (Lihat Juga: Ingin Cepat Punya Momongan? Perhatikan Masa Subur Pasangan

 

Berdasarkan penelitian clinical pediatrics dilakukan terhadap 115 ibu post partum (pascamelahirkan), keberhasilan kegiatan menyusui dari ayah yang tidak mengerti ASI hanya 26,9 persen. Sedangkan tingkat keberhasilan kegiatan menyusui dari ayah yang mengerti ASI adalah 98,1 persen.

 

Sebuah kisah nyata terjadi di Sri Lanka, November 2002 silam. Seorang ayah, B Wijeratne, mencoba menyusui bayi perempuannya yang kelaparan setelah kematian istrinya akibat bencana.

 

Pertama kali, ia mencoba memberi susu bubuk kepada sang bayi, tetapi sang bayi tidak mau meminumnya. Dalam keputusasaan, ia menggendong sang bayi, membawanya ke arah dadanya, dan mencoba menyusuinya. (Baca: Begini Cara Hilangkan Jerawat dan Komedo

 

Anehnya, ternyata dalam payudara pria itu mengalir air susu meski tak banyak. Sang bayi pun meminumnya. Dalam jurnal kesehatan AMB News, Michigan State University, merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah dan keluarga.

 

Di Australia dan Amerika, para ayah diberikan cuti khusus disebut Parenity Leave selama 2 minggu. Di Swedia, ada kebijakan Parent Leave selama 1 tahun dan menerima gaji 80 persen.

 

Terbaru adalah aksi Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, merayakan kelahiran Putrinya, Maxine Chan Zuckerberg. Sang miliuner memutuskan cuti dari pekerjaannya agar bisa menjadi Ayah ASI selama 2 bulan. (Klik: Seberapa Penting Tes DNA Dilakukan

 

Tak hanya itu, ia juga membuat kebijakan baru bagi karyawan Facebook yang baru menjadi ayah, boleh memperoleh cuti selama 4 bulan tanpa mengurangi gajinya.

 

Kebijakan-kebijakan ini dibuat karena seorang ayah dinyatakan memiliki peranan sangat penting dalam mendukung keberhasilan kegiatan menyusui ASI eksklusif untuk perkembangan optimal bayi sejak dini.

 

Maka diharapkan dapat diberi kemudahan bagi sang ayah untuk turut membantu perkembangan sang bayi dengan lebih sering berada di dekat bayinya.

 

Kebijakan-kebijakan perusahaan di atas juga menunjukkan besarnya perhatian negara-negara tersebut terhadap pertumbuhan dan perkembangan generasi muda di masa mendatang. (Lihat: Anda Berperut Buncit? Begini Cara Bikin Langsing

 

“Bayi yang memperoleh ASI dan perhatian yang cukup, umumnya memiliki kemampuan IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient) yang lebih baik,” jelas Dr Utami. (Elizabeth Swanti)


Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline