Aktual, Independen dan Terpercaya


Dibalik gemerlap Lampu Colok, menjaga tradisi dan pengorbanan tiada henti

lampu-colok-bengkalis.jpg
(Romi)

RIAUONLINE, BENGKALIS - Sepekan sudah Andi pulang larut malam. Tangannya menghitam, dengan mengumbar aroma solar. Pemuda 17 tahun itu harus meluangkan waktunya, atau lebih tepat mengorbankan malamnya demi menjaga sebuah tradisi.

Ada sebuah kebanggaan ketika tradisi itu terjaga. Dan ada beragam cerita ketika berhasil menjaganya. Tradisi itu bernama Lampu Colok.

Itu bukanlah sekedar Lampu, melainkan ribuan lampu yang membentuk beragam pola. Masjid atau asma Allah menjadi pola idola. Pola yang begitu indah dan sedap dipandang mata. Begitu gemerlap dan terus membuat orang bergumam hebat.

Lampu Colok merupakan tradisi unik di Bengkalis. Biasanya digelar setiap malam 27 Ramadhan sehingga menjadi malam istimewa bagi warga Bengkalis, Provinsi Riau.

Biasanya di malam itu jalan-jalan di Pulau Bengkalis akan lebih padat dibanding biasanya. Selain keberadaan lampu colok yang hampir berdiri di setiap sudut perkampungan, mereka yang pulang kampung juga membuat suasana Pulau menjadi hidup.

Tidak ada literatur rinci yang menjelaskan tradisi lampu colok tersebut. Namun bagi warga Bengkalis, mereka mengenal lampu colok sebagai bentuk tradisi di penghujung Ramadhan.

Lampu sendiri merujuk pada kaleng-kaleng bekas minuman ringan bersoda. Umumnya kaleng itu adalah bekas minuman dengan merek negeri Jiran Malaysia. Tak heran, karena kedua wilayah itu sangat dekat. Bahkan, waktu berbuka puasa di Bengkalis kerap merujuk waktu berbuka di wilayah Kuala Lumpur, Malaysia.

Sementara colok merujuk pada cara unik untuk menyalakan lampu dengan menggunakan tongkat kayu yang menyala di ujungnya. Colok, begitulah cara mereka menyalakan lampu kaleng itu. Biasanya mulai dinyalakan beberapa saat setelah azan Maghrib dan menjadi pemandangan indah bagi mereka yang berangkat dan pulang shalat tarawih dari Masjid.

Udin sendiri merupakan warga Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan, Bengkalis. Sudah sebulan terakhir puluhan pemuda desa, secara sukarela, gotong royong membuat lampu colok. Jumlahnya lumayan, sekitar 4.000 buah lampu kaleng.

Ribuan lampu itu kemudian di susun pada sebuah menara. Tingginya mencapai 10 meter dengan lebar 15 meter. Tahun ini, Tengku Fitra Agunandi, pemuda desa yang memimpin teman-temannya membangun menara lampu colok tersebut mengatakan akan membangun pola masjid.

"Sejak sebelum Ramadhan kita semua bergotong royong mendirikan menara untuk lampu colok ini," kata Fitra.

Membuat menara lampu colok dengan pola seperti masjid yang tengah dilakukan mereka bukan sebuah pekerjaan mudah. Dananya juga tak sedikit. untuk mendirikan menara serta operasional lampu colok selama tiga hari menghabiskan anggaran hingga Rp15 juta.

Hingga Jumat hari ini, atau beberapa jam menjelang lampu dinyalakan, belum ada bantuan dari pemerintah yang mengalir ke pemuda kreatif tersebut. Alhasil, mereka mengandalkan iuran dari masyarakat. Selain itu mereka juga berusaha mencari donatur dari pengusaha secara mandiri.

"Kalau ditotal anggaran itu sekitar Rp15 juta. Itu termasuk biaya minyak solar yang menghabiskan lebih dari tiga drum untuk menyalakan lampu," jelasnya.

Fitra mengaku tidak ada paksaan dalam mendirikan lampu colok tersebut. Menurut dia, membuat lampu colok merupakan bentuk dari semangat pemuda setempat dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Selain itu, dia dan rekan-rekannya sepakat harus ada yang rela berkorban baik waktu dan materi untuk menjaga tradisi.

"Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga tradisi ini. Ini tradisi yang harus dijaga sampai kapanpun," kata dia.

Selain itu, dia mengatakan membuat lampu colok juga untuk menghibur para perantau yang pulang untuk merayakan hari idul Fitri di kampung halaman. "Kita juga ingin kampung ini dikenal yang akan menjadi kebanggaan kami semua," ujarnya.

Bagi orang yang pertama kali ke Pulau Bengkalis, mereka pasti tidak dapat menyembunyikan takjubnya terhadap menara lampu membentuk gambar masjid. Dibentuk dengan ribuan lampu dari kaleng bekas di atas kanvas berupa menara kayu yang berdiri tegak, kokoh.

Itulah salah satu tradisi di Kabupaten Bengkalis. Masyarakat setempat biasa menyebut lampu colok. Dahulu lampu colok banyak ditemukan diberbagai sudut kampung.

Namun belakangan tradisi ini seolah semakin meredup. Besarnya anggaran yang dibutuhkan menjadi salah satu alasan meredupnya tradisi unik tersebut. Pemerintah seharusnya dapat lebih berperan dalam menjaga tradisi unik ini sehingga tidak tenggelam ditelan zaman.