Aktual, Independen dan Terpercaya


Cerita Kereta Api Sumatera Yang Hilang Tersapu Zaman

lokomotif-tua.jpg
(RIYAN NOFITRA)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Sebuah Lokomotif tua teronggok di dapur rumah warga, di Jalan Tanjung Medang, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru. Bentuknya tidak lagi utuh, banyak bagian yang terpotong, menumpuk bersama barang rongsokan lainnya.

Desrina, sang pemilik rumah hanya bisa merawat separuh dari badan lokomotif yang masuk dalam area rumahnya. Sedangkan separuhnya lagi habis dipreteli warga. Meski nyaris tak lagi berbentuk, namun Desrina masih menjaga sisa lokomotif uap itu.

“Lokomotif ini sudah ada sejak saya belum lahir. Almarhum ayah saya berpesan untuk menjaga lokomotif ini, karena ini peninggalan bersejarah,” ucapanya, beberapa waktu lalu.

Pemandu Wisata sekaligus pemerhati sejarah, Iwan Syawal menceritakan sepenggal kisah jalur maut Sumatera ini. Pada abad 20 pemerintahan Belanda telah merencanakan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan pantai barat hingga pantai timur Sumatera.

Ketika itu pemerintah Belanda sudah lebih dulu membangun rel kerata api di Sumatera Barat dengan stasiun akhir berada di Emmahaven yang saat ini bernama Pelabuhan Teluk Bayur. Rel kereta api dibangun untuk transportasi batu bara.
Pada pertengahan tahun 1920, Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda Nederlands Indische Staatsspoorwegen (NIS) melanjutkan kembali penjajakan yang telah dilakukan sebelumnya. Namun rencana pembangunan kereta api ditunda dengan pertimbangan ekonomi.

Belanda memperkirakan biaya pembangunan rel kereta api Pekanbaru - Muaro cukup besar. Struktur tanah yang berbukit-bukit memaksa pembangunan rel mesti membuat banyak terowongan menembus hutan belantara, tentunya membutuhkan biaya sangat besar. Biaya pembangunan dinilai tidak sebanding dengan manfaatknya yang hanya mengandalkan untuk transportasi batu bara. Pembangunan rel pun urung dikerjakan.

"Sehingga pembangunan rel tidak pernah terlaksana," kata Iwan.

Sekitar 1942 pemerintahan Belanda takluk oleh tentara Jepang. Dai Nipon berhasil menguasai Indonesia. Peta perancanaan pembangunan rel kereta api jatuh ketangan Jepang. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh jepang dengan mengerahkan kurang lebih 100 ribu pekerja asal Jawa. Mereka didapatkan dengan cara propaganda.

Para pekerja diberangkatkan menggunakan kapal younju Maru. Namun perjalanan tidak berjalan mulus, tiba di perairan Muko-Muko, Jambi, kapal yang ditumpangi para pekerja ditorpedo tentara sekutu. Banyak korban tewas dalam peristiwa itu. Tersisa sekira 42 ribu orang pekerja yang kemudian di bawa ke Pekanbaru .

"Pekerja yang di Pekanbaru ini kebanyakan korban kapal yang di bom sekutu," katanya.

Semula Jepang menjanjikan para pekerja upah serta jaminan makan dan tempat tinggal. Namun, itu hanya tipu daya Jepang. Belakangan para pekerja dipaksa membangun rel kereta api tanpa bayaran dan makan seadanya. Para pekerja diperlakukan sebagai romusha di bawah ancaman senjata.

Bukan warga jawa saja, Jepang juga memaksa ribuan tawanan perang bekerja bersama para romusha. Jepang menangkap satu persatu warga asing di Indonesia yang berasal dari New Zealand, Amerika Serikat, Australia dan Inggris.

Para tawanan diberangkatkan menuju Emmahaven di Padang. Dari Sumatera Barat, para tawanan asing ini diberangkatkan lewat jalur darat, singgah sementara di stasiun Koto Nan Ampek, Payakumbuh. Tidak lama berselang, tawanan asing kemudian di bawa ke Salo, Bangkinang. Setidaknya terdapat 22 ribu tawanan perang di tangkap Jepang.

Di Salo, para tawanan di tempatkan di Barak, tawanan perempuan dan anak di pisahkan dengan tawanan pria. Bangunan barak penampungan tawanan perempuan dan anak saat ini hanya tersisa puing dan toilet saja. Sedangkan barak penampungan tawanan asing saat ini dihuni oleh perusahaan karet.

***

Persoalan struktur tanah yang berbukit-bukit ternyata tidak menjadi masalah bagi Jepang. Jepang terus berupaya membangun rel kereta api dengan konstruksi seadanya. Rute yang semula melewati perbukitan dialihkan ke dataran rendah sepanjang pinggir sungai batang kuantan. Namun mereka harus membuat banyak Jembatan karena harus melewati banyak anak sungai.

Material rel dan bantalan diambil dari Deli Serdang milik perushaan kereta api Belanda Deli Spoorweg Maatschappij di Sumatera Utara. Rel dan bantalan juga dibawa dari Semarang, Cirebon dan Malang, milik perusahaan Malang Stoomtram Maatschappij. Material dan locomotif kereta api diturunkan di pelabuhan Pekanbaru. Material kemudian dikumpulkan di satu tempat tidak jauh dari pelabuhan. Saat ini berada di Jalan Jati, kawasan Pasar Limapuluh, Pekanbaru.

Kawasan pelabuhan saat itu sekaligus dijadikan Camp I oleh Jepang. Para romusha mulai bekerja dengan merangkai rel dan membuat bantalan kereta. Pembangunan rel dimulai dari pelabuhan Pelita Pantai, Kecamatan Senapelan menyusuri pinggiran Sungai Siak, Kelurahan Tanjung Rhu, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru. Sisa rel kerta api terlihat di Jalan Juanda, Kecamatan Senapelan Pekanbaru. Dua besi sepanjang kurang lebih dua meter membentang di atas anak sungai. Sedangkan Di Kecamatan Limapuluh, jalur rel kereta api saat ini diberi nama Jalan Lokomotif.

"Tapak jalan Lokomotif ini lah dulunya rel kereta api," kata Iwan.

Jalan Lokomotif berada di Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru, hanya beberapa meter saja dari pinggir Sungai Siak. Di sepanjang pinggiran jalan Lokomotif saat ini telah menjadi kawasan padat penduduk. Rumah warga dan Ruko berjejer di pinggir jalan. sepanjang jalan sudah dilapisi aspal, tidak ada tampak terlihat sisa rel atau material lainnya.

Namun sedikit besi rel tersisa menjadi bukti dapat ditemukan di bawah sebuah jembatan, dua besi yang melintang menembus tanah diyakini merupakan sisa rel kereta api masa itu.

Warga Jalan Lokomotif Djamilin Silitonga, 86 tahun, mengatakan jalan dihadapan rumahnya itu merupakan pelintasan rel kereta api.

"Ini dulunya rel kereta api," katanya.

Saat membangun rumah di tepi jalan pada tahun 1953, Djamilin mengaku tidak melihat ada rel kereta api membentang di jalan itu. Rel kereta api di kawasan itu sudah dibongkar sebelum ia tinggal di sana. Namun ia melihat banyak tumpukan rel dan lokomotif saat itu berada di kawasan pinggiran Sungai Siak.

"Di jalan ini tidak ada, tapi di tepi Sungai Siak itu dulu banyak rel, ada lokomotif juga," ucapnya.

Dari Jalan Lokomotif, rel kereta api memutar ke Jalan Irian Jaya Kecamatan Limapuluh, tembus ke Jalan Beringin Kecamatan Sail, kemudian terus ke Jalan Kopan hingga pada akhirnya berhenti di Camp II. Bekas Camp II saat ini telah berdiri sebuah Cafe bernama Tong Susu, Kecamatan Tangkerang Tengah, di pinggir jalan Jenderal Sudirman.

Dari Camp II, jalur kereta api kemudian melintasi Jalan Pinang, hingga tembus ke Jalan Kereta api. "Jalan kereta api ini dulunya rel kereta api," kata Iwan.
Namun tidak ada sedikitpun sisa-sisa rel ditemukan di sini. Pinggiran jalan itu kini menjadi kawasan padat penduduk, banyak bertengger bangunan rumah warga dan pertokoan. Dari Jalan Kereta Api, terus melintas lurus melewati Bandara Sultan Syarif Kasim II,Pekanbaru, terus hingga ke Camp III berada di Pinggir Sungai Kampar, Kampung Petas, Kubang, Kampar.

Pada tahun 1960, pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan untuk membongkar seluruh rel kerta api yang membentang dari Pekanbaru hingga Muaro Sijunjung.

Satu lokomotif tersisa saat ini dijadikan monument Pahlawan Kerja di Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru. Lokomotif terlihat utuh terpajang di atas beton, tidak ada gerbong, rel sepanjang 6 meter pun cukup jadi tempat bertengger, bagian roda tampak ditumbuhi lumut. Satu lomokotif lagi terdapat di sebuah kebun karet milik warga di Lipatkain, Kampar. Banyak bagian yang hilang. Namun kini lokomotif tua itu dijaga masyarkat setempat.

Inilah sedikit bukti sejarah kekejaman tentara Jepanga terhadap romusha yang tersisa. Setidaknya 100 ribu nyawa melayang dipaksa bekerja membangun jalur rel kereta api sepanjang 220 Km dari Pekanbaru ke Muaro Sinjunjung, Sumatera Barat. Sebuah sejarah yang dikenal dengan sebutan ‘Sumatera Death Raliway’. Tidak banyak peninggalan jalur kereta api maut ini tersisa. Hasil kerja paksa ribuan romusha ini nyaris hilang tersapu zaman.