Misteri di Balik Permintaan Return to Base Pilot Lion Air JT 610

LionAir2.jpg
(Kompas.com)


RIAU ONLINE - Return to base atau kembali ke bandara sempat diminta Pilot Lion Air JT 610 sebelum pesawat itu jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Pernyebab permintaan untuk kembali ke bandara itu masih menjadi misteri.

Lion Air JT 610 hilang kontak sekitar 13 menit atau pukul 06.33 WIB usai take off dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, sekitar pukul 06.20 WIB.

"Pesawat sempat meminta return to base sebelum akhirnya hilang dari radar," kata Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara Sindu Rahayu, melansir detikcom, Selasa, 30 Oktober 2018.

Namun, dia tak mengungkapkan alasan pilot minta kembali ke bandara. Pihak AirNav juga mengaku telah menerima permintaan return to base itu dan memberikan prioritas kepada pesawat agar bisa segera kembali. Namun, belum sempat di bandara, pesawat sudah hilang kontak.

"Dia cuma meminta return to base. Kita lihat, oke, kita berikan prioritas untuk return to base," kata Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Harry Sirait.

"Tapi belum sempat, dia sudah lost contact," sambungnya.

Pihak KNKT juga mengatakan pesawat sudah minta return to base atau kembali ke bandara 2 menit setelah take off. Alasannya, pilot merasakan ada hal yang harus membuatnya kembali.

"Dua menit. Jadi 2 menit mungkin pilot merasakan ada hal yang perlu dia kembali landing dia minta izin kepada menara pengawas untuk melakukan pendaratan kembali ke Cengkareng," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Namun, alasan pasti permintaan return to base itu masih menjadi tanda tanya. Sementara, Pihak BMKG menyatakan tak ada masalah cuaca saat penerbangan berlangsung.

"Informasi kondisi cuaca saat pesawat itu take off pada ketinggian antara 10.000 feet sampai 24.000 feet itu arah angin dari barat laut dengan kecepatan 5 knot. Jadi ini relatif lemah, tidak ada masalah dan dilaporkan tidak ada kondisi cuaca signifikan," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Bhavye Suneja merupakan pilot dengan lebih dari 6.000 jam terbang. Dia juga mendaDia juga didampingi kopilot, Harvino, yang punya 5 ribu jam terbang dan dinilai sudah berpengalaman.

"Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan kopilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang," kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro.

Lalu, ada alasan apa di balik permintaan return to base itu?

Belum ada pihak yang dapat memberi jawaban pasti. KNKT menyatakan bakal mencari tahu penyebab pasti munculnya permintaan kembali ke bandara tersebut.

"Kami sedang mempelajari alasan kenapa RTB, tapi kan di radio, di permintaan sudah di-approve dan sudah diperbolehkan, sudah diizinkan oleh AirNav untuk RTB ke Cengkareng," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Pesawat Lion Air JT 610 itu beroperasi sejak 15 Agustus 2018. Pesawat tersebut berjenis Boeing 737 Max 8 dengan nomor registrasi PK-LQP. Pesawat dinyatakan laik terbang. Meski demikian, pihak Lion Air mengakui sempat ada masalah pada pesawat sebelum penerbangan dari Denpasar pada malam sebelumnya. Namun masalah tersebut telah selesai diperbaiki dan pesawat dinyatakan laik terbang.

Hingga kini proses pencarian masih berlangsung. Ada 189 orang di dalam pesawat nahas tersebut.