Aktual, Independen dan Terpercaya


Kisah Suku Anak Dalam Jambi Gagal Budidayakan Dragon's Blood, Merugi Rp20 Juta

Budidaya-Jernang.jpg
(Azhar Saputra)

RIAU ONLINE, TALUK KUANTAN - Sambil menyila ke-dua kakinya, Kepala suku anak dalam, Bujang Rancak optimis upaya mereka untuk membudidayakan jernang (dragon's blood) disela-sela tanaman karet yang berada di landscape taman nasional Bukit Tigapuluh Desa Balai Rajo Dusun Kelumpang Jaya, VII Kota Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi jambi akan sukses mendatangkan keuntungan.

Raut wajahnya yang hitam kecokelat-cokelatan semula menampakkan kegusaran karena teringat masa lalunya yang sempat gagal dalam pembudidayaan jernang ini, berubah drastis menjadi ceria karena ada secercah harapan untuk masa depan bagi ke-tujuh anak serta cucu-cucunya.

Bagi Suku Anak Dalam, Jambi, jernang bukanlah tanaman baru yang pernah mereka jumpai. Memiliki ciri khas batang berduri mirip rotan dengan buah kemerah-merahan sebesar buah anggur, tanaman ini terbukti mampu menarik perhatian pasar internasional karena memiliki berbagai macam fungsi dan kegunaan.

Seperti misalnya untuk berbagai macam pengobatan, bahan baku kosmetik sampai dipergunakan untuk pewarna makanan yang harganya mampu mengalihkan pandangan Suku Anak Dalam untuk kembali tidak melakukan pembukaan hutan bahkan melakukan pembalakan liar dalam landscape taman nasional Bukit Tigapuluh.

"Saya bahkan pernah rugi sampai Rp20 juta hanya untuk menyuruh orang untuk mengambil tanaman jernang. Karena tidak tahu penanganannya, jernang itu gak ada yang hidup," katanya dengan logat kentalnya di atas pondok, Sabtu, 17 Maret 2018.

Jika program ini berhasil, konflik yang terjadi antara mereka dengan pribumi lainnya yang membuat penduduk rela melakukan melangun (pergi dalam jangka waktu lama) sehingga mereka hidup berpindah-pindah diharapkan tidak akan pernah terjadi.

Terutama saat keluarga mereka ditimpa peristiwa duka. Bertahun-tahun penduduk desa akan hidup berpindah-pindah demi menghilangkan duka yang mendalam.

Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB. Angin berhembus santai dengan riangnya, binatang yang bermukim di hutan lindung Bukit Betabuh seperti burung, jangkrik saat itu juga turut riang, sama seperti tamu jauh mereka dari suku ini.

10 orang rombongan dari Suku Anak Dalam dengan mantap mengatakan bahwa mereka sudah paham bagaimana memperlakukan tanaman jernang agar tidak kembali mendatangkan kerugian dimasa yang akan datang. Hanya dalam waktu relatif singkat selama satu hari satu malam saja, mereka diajarkan oleh masyarakat Desa Air Buluh bagaimana merawat jernang.

Selain itu, mereka tidak akan segan dan akan mengadopsi pola yang telah lama dibentuk oleh kelompok tani dari Desa Air Buluh untuk menjaga keberlangsungan sisa hutan yang tersisa dan tanaman jernang.

Kordinator edukasi, awareness dari Word Wildlife Fund for nature (WWF) Indonesia program Jambi, Sapwan juga turut mendukung penuh upaya untuk peningkatan ekonomi dari suku yang masih tersisa di Jambi ini.

"Kami mengajak petani Kelumpang Jaya untuk melakukan study banding dalam penanaman jernang yang kami harapkan agar nantinya bisa dikembangkan tanpa harus kembali membuka lahan dan kebun baru di hutan,"jelasnya.

Selain itu, kegiatan yang merupakan bentuk dari ekonomi alternatif ini diharapkan akan dapat menghasilkan tambahan ekonomi lainnya. Usai pelatihan ini, WWWF akan memberikan 50 bibit jernang untuk 50 orang yang bermukim di Desa Tebo.

Selain itu, WWF juga masih akan mengedepankan program pokok pendidikan dimana mereka akan mendampingi anak-anak untuk bagaimana menjaga hutan dengan baik dan bijak.

Pada kesempatan yang berbeda, Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Singingi, Erwin Kusuma mengatakan bahwa masyarakat Singingi mengapresiasi langkah yang diambil oleh suku Anak Dalam Ini.

KPH singingi yang baru saja dibentuk akan mendukung kerja dari masyarakat dalam membudidayakan jernang. Serta memberikan motifasi karena sudah berani membuat komunitas petani dalam mengawal dan menjaga kawasan hutan lindung.

"Kita sangat bangga karena ini sangat membantu pemerintah. Kedepan, kita juga akan menggelontorkan dana selain memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kerja keras mereka," tutupnya.(2)