Aktual, Independen dan Terpercaya

Inilah Foto Pencitraan Bung Karno dengan Merangkul Panglima Besar Soedirman

Rangkulan-Bung-Karno-Soedirman.jpg
(IPPHOS/FRANS MENDUR)

RIAU ONLINE - Politik pencitraan di Indonesia yang oleh dilakukan kepala negara, kepala daerah bahkan menteri dan ketua partai politik, ternyata umurnya seusia republik ini. 

Sejak Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, politik pencitraan sudah melekat dalam diri Presiden Indonesia Pertama, Soekarno. Hal paling fenomenal saat ia melakukan politik pencitraan saat menerima kedatangan Panglima Besar TNI, Jenderal Soedirman, dari medan perang di Istana Kepresidenan, Yogyakarta.

Sejarawan Indonesia, Asvi Warman Adam dalam sebuah artikelnya, Siapa Memanfaatkan Sudirman pada bukunya berjudul Menguak Misteri Sejarah, menyatakan, seluruh presiden, mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, hingga Susilo Bambang Yudhoyono, memanfaatkan sosok karismatik Soedirman. 

Baca Juga: Empat Misteri Bung Karno Yang Belum Terungkap

Asvi menceritakan, saat Belanda melancarkan Agresi Militer II dengan menyerang Yogyakarta, 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta dan beberapa menteri serta petinggi Republik, berhasil ditawan Belanda. Soedirman ketika itu memutuskan untuk bergerilya di hutan-hutan dengan menerapkan Perang Gerilya. 

Soedirman sangat kecewa dengan Bung Karno yang telah berjanji akan ikut berperang ke hutan-hutan jika Belanda menyerang Yogyakarta. Lagipula, menurut Kolonel TB Simatupang, jika Soekarno-Hatta ikut berjuang, maka setidaknya dibutuhkan pasukan sebanyak satu batalyon untuk mengawal kedua Proklamator tersebut. 

"Dengan kondisi masih sakit paru-paru, Panglima BesarSoedirman menolak anjuran Soekarno untuk tetap berada di dalam kota guna istirahat dan berobat. Soedirman memutuskan untuk meneruskan perjuangan bersenjata bersama pasukannya dengan dukungan rakyat," tulis sejarawan asal Bukittinggi tersebut. 

Mamak (paman) dari Direktur Utama Bank Riaukepri, Dr Irvandi Gustari ini menjelaskan, sesuai rencana, Soedirman akan bergerilya dan memusatkan perlawanan dari Kota Kediri, Jawa Timur. Ia harus menaiki tandu dan berjalan dari satu desa ke desa lainnya guna memimpin perlawanan bersenjata. 

Kedatangan Panglima Besar Jenderal Soedirman

IPPHOS/FRANS MENDUR

PANGLIMA Besar Jenderal Soedirman dijemput Letkol Soeharto, wartawan Rosihan Anwar dan fotografer Frans Mendur, usai perjanjian Roem-Royen ditandatangani, 1949.

Dalam perjalanan menuju Sobo, kata Asvi Warman Adam, Soedirman yang mengenakan destar hitam di kepala, berbaju kaos tebal dilapisi jas hujan, sebuah keris terselip di pinggang, memakai selop duduk di atas tandu sambil memegang tongkat. Di Sobo lah, Soedirman lebih banyak menghabiskan waktunya paling lama memimpin perang gerilya sebelum kembali ke Yogyakarta, 1 April 1949-7 Juli 1949.

Klik Juga: Bung Karno Minta Dikafani Pakai Bendera Muhammadiyah

Usai kesepakatan perjanjian Roem-Royen ditandatangani, Soedirman masih enggan untuk turun. Padahal ketika itu, pemerintahan sudah diserahkan ke Yogyakarta. Kolonel Gatot Soebroto menulis surat untuk membujuk Soedirman untuk turun.

Akhirnya, Letkol Soeharto (kelak jadi Presiden Indonesia) didampingi wartawan Rosihan Anwar dan fotografer Frans Mendur dari IPPHOS, mendapat tugas untuk menjemput Panglima Besar dari markasnya di Wonosari.

Dalam perjalanan menjemput Panglima Besar Soedirman, fotografer Frans Mendur membuat seri foto terkenal dikemudian hari yang menggambarkan bagaimana Bapak TNI itu ditandu oleh prajuritnya. Di Yogyakarta, Soekarno dan Hatta, telah menanti di beranda kediaman Presiden yang luas. 

"Ketika kami tiba, suasana sangat tegang," cerita Kapten Tjokropranolo, pengawal pribadi Panglima Besar Soedirman. Di kemudian hari, ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. 

Soedirman, ketika itu, kata Tjokropranolo, hanya berdiri kaku dengan sebelah tangannya memegang tongkat. Lalu, Soekarno merangkul sosok yang sudah ringkih itu. Seketika itu, mata Soekarno menangkap fotografer kenamaan zaman itu, Frans Mendur, tengah memegang kamera. 

"Momennya dapat tidak," kata Bung Karno kepada Frans Mendur. Ia menggeleng. "Terlalu cepat," jawabnya. "Kalau begitu diulang adegan zoentjes-nya," ujar Bung Karno. 

Lihat Juga: Ketika Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Sang Sahabat

Frans Mendur kemudian mengikuti perintah sang Putera Fajar, demikian juga Panglima Besar Jenderal Soedirman. Foto ini, tutur Asvi Warman Adam, diperlukan Bung Karno untuk mencitrakan "rangkulan" antara sipil-militer dan antara pihak pro-diplomasi versus Perang Gerilya. 

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline