Aktual, Independen dan Terpercaya


Usai Jokowi Tegur Panglima TNI, Benarkah Jenderal Gatot Punya Agenda Sendiri?

Jenderal-Gatot-Nurmantyo2.jpg
(INTERNET)
ombudsman

RIAU ONLINE - Hinaan militer Australia terhadap Indonesia dengan mempelesetkan Pancasila dengan Pancagila dan diiringi penghentian kerja sama militer oleh Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, pekan lalu, berbuntut panjang. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berang dengan langkah yang diambil oleh Jenderal Gatot Nurmantyo tersebut dan menyebutkan lulusan Akabri 1982 itu 'lepas kontrol' dan 'di luar kendali'. 

Dalam pertemuan yang berlangsung baru-baru ini, Jokowi mengekspresikan kekecewaannya itu diungkap melalui dua pejabat pemerintahan kepada kantor berita Reuters.

Baca Juga: Hina Pancasila, Jenderal Gatot Putuskan Kerjasama dengan Militer Australia

Jokowi juga tersinggung dengan pernyataan Jenderal Gatot Nurmantyo yang menyebutkan Indonesia tengah dikepung "perang proksi", di mana negara-negara asing berusaha untuk melemahkan Indonesia dengan memanipulasi tokoh-tokoh berpengaruh berada di luar kekuasaan.

Jokowi, presiden pertama sejak 10 tahun terakhir dari luar militer dan elit politik, perlu bergerak cepat menunjukkan otoritasnya sebagai kepala, ungkap seorang pejabat senior pemerintah. Gatot menghentikan sementara hubungan militer dengan Australia, setelah diduga adanya temuan materi pelajaran dianggap melecehkan Pancasila dan mendukung kemerdekaan Papua.

Meski tidak secara resmi ditegur, dilansir dari dari VOA Indonesia, Jokowi menyampaikan peringatan terhadap Panglima TNI dalam sebuah pertemuan di Istana Bogor. Pertemuan ini telah dikonfirmasi oleh seorang ajudan senior pemerintah lainnya, juga tak mau disebutkan namanya.

Nurmantyo menolak permintaan untuk diwawancarai dan juru bicara militer juga menolak mengomentari pertemuan tersebut. Pejabat senior pemerintah mengatakan, "Kami menduga Jenderal Gatot mengeksploitasi insiden ini untuk agenda politik sendiri."

Klik Juga: Jenderal Gatot: Australia Plesetkan Pancasila Jadi Pancagila

"Dia telah sering tampil di muka publik dan berpidato akhir-akhir ini," katanya lebih lanjut. "Terus terang, kami pikir soal perang proksi dan ancaman terhadap Indonesia itu benar-benar konyol," jelasnya. 

Dalam satu pidatonya, Nurmantyo pernah mengungkap kekhawatirannya, kekurangan pangan di China bisa memicu banjir pengungsi manusia perahu. Ia mengatakan, akan menyembelih 10 ekor sapi dan membuangnya ke laut agar hiu berdatangan dan bisa melahap orang-orang tersebut.

Namun, dilansir dari dw.com, ketika ditanyakan soal spekulasi apakah Nurmantyo akan dicopot, seorang pejabat mengungkap pertemuan Widodo dengan Nurmantyo mengatakan, posisi Panglima militer masih tetap aman. "Untuk saat ini, kami yakin dia tidak akan mengkhianati Presiden atau pemerintahan sipil, "katanya.

Pekan lalu, media Australia ABC melaporkan, Nurmantyo meyakini militer Australia berusaha untuk merekrut tentara Indonesia ke negara itu untuk dilatih. Namun, pernyataan tersebut dibantah Menteri Pertahanan Australia, Marise Payne.

Dilansir kantor berita Reuters, dalam sebuah buku dirilis pada 2015, Nurmantyo menulis, kekuatan asing berusaha menyusup ke sistem media, pendidikan organisasi Islam, perusahaan dan partai politik guna melemahkan bangsa, serta menguasai aparat keamanan dan industri strategis.

Kekuatan asing juga mencoba untuk melemahkan kaum muda Indonesia lewat perdagangan narkoba dan menanamkan budaya permisif, demikian ditulisnya, seperti dikutip oleh Reuters.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline