Aktual, Independen dan Terpercaya


Myanmar Diduga Tujuan Jihad Kelompok Ekstremis Indonesia. Benarkah?

ILUSTRASI-ISIS.jpg
(CNN INDONESIA/REUTERS)
ombudsman

RIAU ONLINE - Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi penahanan seorang warga negara Indonesia oleh otoritas Malaysia karena diduga merupakan simpatisan ISIS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, WNI tersebut ditahan karena menyimpan informasi tentang ISIS di dalam ponselnya, meski penyelidikan masih berjalan.

Dilansir dari BBC Indonesia, polisi Malaysia menangkap WNI yang identitasnya belum diungkap itu pada Desember lalu saat akan ke Singapura dan diduga akan melakukan perjalanan menuju Myanmar.

Rencananya pengadilan Malaysia akan memanggil WNI tersebut untuk kedua kalinya. Sementera, Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa WNI itu sudah mendapat perlindungan hukum terkait proses hukum yang harus dijalaninya.

Baca Juga: ISIS Tawarkan 1 Juta Dolar AS Bagi Yang Bisa Bunuh Gadis Ini

Menurut pengamat terorisme Al Chaidar, tertangkapnya WNI ini kemudian memicu kekhawatiran akan kemungkinan bahwa Myanmar menjadi negara tujun baru bagi kelompok ektremis di Indonesia yang akan berjihad ke luar negeri.

Dalam catatannya, dari berbagai seruan-seruan dari kelompok-kelompok di Indonesia yang terafiliasi dengan ISIS dan tersebar lewat pesan-pesan dalam aplikasi chat Telegram, mereka "akan menjadikan Myanmar sebagai Suriah kedua".

"Sudah ada front jihad yang didirikan oleh Al Qaida di sana, dan mereka (kelompok terafiliasi ISIS) bersaing untuk juga ikut terlibat di Myanmar. Mereka sudah mengontak beberapa orang yang ada di wilayah perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh, untuk memudahkan transfer antara orang-orang Indonesia melalui Malaysia, untuk ke Myanmar," kata Al Chaidar.

Al Chaidar menyebut kelompok ekstremis yang berada di Myanmar sudah membuat 'baladan aminan' atau semacam daerah basis yang ada di Negara Bagian Rakhine. Berdasarkan dokumen foto dan video yang mereka sebarkan, menurutnya, ada sekitar belasan orang pejuang asing yang telah berangkat ke Myanmar.

Klik Juga: Mengerikan, Militer Myanmar Hancurkan Ribuan Rumah Di Lima Desa Muslim Rohingya

Sementara, menurut pakar terorisme dan direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC ) Sidney Jones hal berbeda akan posisi Myanmar sebagai tujuan tempat melakukan amaliyah.

"Belum ada bukti apapun bahwa sudah ada pejuang asing di Myanmar, kalau benar bahwa ada orang Indonesia yang mau bergabung ke Myanmar, itu berarti untuk pertama kali. Tapi mungkin juga ada niat tapi belum ada kontak yang sebenarnya," kata Jones.

Jones membenarkan bahwa ada faksi ektremis dari kelompok Rohingya yang "sudah menjadi lebih militan". Hal ini terungkap dari video-video yang diunggah ke YouTube menunjukkan bahwa mereka "tampaknya" sudah mendirikan satu sayap militer yang bersifat pemberontak.

Namun, menurutnya, ada ekstermis dari Indonesia yang berupaya dan "terus-menerus" mencari jalur untuk bisa membela atau menolong etnik Rohingya. Meski begitu, hingga kini "belum ada" kelompok yang bisa menjadi tempat bergabung bagi ekstremis Indonesia itu.

"Asal tidak ada kelompok yang betul-betul terorganisir yang punya kamp-kamp tertentu dengan tanah yang dikuasai oleh kelompok tersebut, sulit sekali ekstremis dari Indonesia atau Malaysia bergabung di Myanmar," katanya.

Lihat Juga: Densus 88 Gagalkan 15 Rencana Serangan Dan 150 Bekuk Terduga Teroris

Jones menjelaskan, aksi balasan dari para ekstremis yang menyatakan kemarahan terhadap perlakuan dan kekerasan atas etnis Rohingya di Myanmar justru harus lebih diwaspadai di dalam negeri. Seperti rencana aksi pengeboman Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta yang diungkap polisi pada November 2016 lalu atau rencana pengeboman vihara yang diungkap polisi pada Januari 2014 lalu.

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono melalui pesan singkat sudah membenarkan adanya penahanan WNI tersebut di Malaysia. Ia mengatakan, Kepolisian Indonesia hanya berkoordinasi saja terkait kejadian tersebut melalui Divisi Hubungan Internasional karena kasus ditangani oleh Polisi Diraja Malaysia.

Namun, Awi enggan menjawab apakah polisi mewaspadai kemungkinan Myanmar sebagai negara tujuan baru bagi WNI yang ingin berjihad.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline